Bagian 3 — Saat Mereka Datang Menuntut Hak, Aku Membuka Bukti dan Menutup Pintu Selamanya
Arga mungkin mengira kalimatku hanyalah ancaman saat marah.
Ia salah.
Pukul delapan pagi aku sudah mandi, berpakaian, dan duduk di meja makan dengan laptop terbuka.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada piring dilempar.
Tidak ada adegan menangis sambil memohon penjelasan.
Aku bekerja di bidang keuangan hampir sebelas tahun.
Kalau ada satu hal yang kupelajari dari pekerjaanku, itu adalah ketika angka mulai tidak masuk akal, emosi harus diletakkan di luar ruangan.
Aku membuka semua rekening yang berkaitan dengan rumah tangga kami.
Mutasi rekening bersama.
Pembayaran cicilan apartemen.
Tagihan kartu.
Transfer berkala.
Biaya asuransi.
Pengeluaran tahunan.
Satu per satu.
Arga berdiri di dekat pintu kamar.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Audit rumah tangga kita.”
“Kamu berlebihan.”
Aku tidak menjawab.
Dari Rp91 juta saldo rekening bersama sebelum transfer pagi itu, Rp38 juta sudah berpindah ke rekening Bu Ratih.
Sisa Rp53 juta.
Aku menelusuri sumber masuk selama dua belas bulan terakhir.
Total setoran dariku sekitar Rp74 juta.
Dari Arga sekitar Rp24 juta.
Sebagian saldo sudah berputar untuk biaya rumah tangga sehingga tentu tidak bisa disebut uang siapa secara sederhana.
Karena itu aku tidak mengambil satu rupiah pun.
Aku hanya mengunduh semua bukti.
Lalu memindahkan gajiku bulan berikutnya agar tidak lagi masuk ke rekening bersama.
Arga melihatku melakukannya.
“Kamu serius mau pisah keuangan?”
“Aku sedang melindungi uangku.”
“Dari suami sendiri?”
Aku menatapnya.
“Suamiku baru mentransfer Rp38 juta tanpa bicara.”
Ia membanting telapak tangan ke meja.
“Itu buat Ibu!”
“Aku tahu.”
“Rumahnya telanjur dibongkar sebagian!”
“Belum.”
Aku memutar laptop ke arahnya.
“Pak Dimas bilang belum satu bata pun disentuh.”
Arga terdiam.
“Jadi jangan bohong.”
Wajahnya memerah.
“Material mau dibeli!”
“Juga belum.”
Aku membuka percakapan dengan kontraktor.
“Masih mau mencoba?”
Arga menarik kursi, duduk kasar.
Beberapa detik ia tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian ia berbisik,
“Kamu memang dari dulu pelit kalau soal keluargaku.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena kalimat itu begitu jauh dari kenyataan sampai terdengar absurd.
Aku berdiri.
Mengambil map biru dari rak.
Lalu meletakkannya di depan Arga.
“Baca.”
“Apa ini?”
“Semua yang menurutmu pelit.”
Di dalamnya ada kuitansi biaya rumah sakit Livia.
Rp11.800.000.
Transfer hadiah pernikahan Livia.
Rp15.000.000.
Pembelian kulkas baru untuk Bu Ratih.
Rp6.450.000.
Biaya memperbaiki pompa air rumah Bu Ratih.
Rp3.200.000.
Tiket pesawat Bu Ratih untuk menghadiri pernikahan sepupunya di Makassar.
Rp4.700.000.
Dan puluhan transfer kecil lainnya.
Aku tidak pernah menyimpannya untuk menagih.
Aku menyimpan bukti transaksi karena memang begitu kebiasaanku.
Tetapi ternyata hari itu semua bukti itu berguna.
Arga membalik halaman pertama.
Kemudian kedua.
Pada halaman ketiga, ia berhenti.
“Aku enggak pernah minta kamu catat begini.”
“Betul.”
Aku menarik kembali map itu.
“Kalian juga tidak pernah meminta izin sebelum menganggap semuanya kewajibanku.”
Telepon Arga berbunyi lagi.
Livia.
Ia mengangkat.
Aku bisa mendengar suara adiknya meski tidak menggunakan pengeras suara.
“Mas, uang buat proyek jadi gimana? Mama bilang Nadia ngamuk.”
Aku mengangkat alis.
Arga berdiri lalu masuk ke balkon.
Tetapi pintu kaca tidak ditutup sempurna.
“Pelan-pelan dulu,” katanya.
“Aku sudah kirim uang.”
Livia menjawab cukup keras.
“Tiga puluh delapan juta mana cukup. Pak Dimas bilang kamar atas saja hampir tiga puluh juta.”
Aku menutup mata beberapa detik.
Jadi benar.
Bukan hanya Bu Ratih.
Livia juga sudah tahu soal perubahan proyek.
Satu-satunya orang yang tidak tahu justru aku.
Orang yang membayar uang muka terbesar.
Arga kembali ke ruang makan setelah telepon selesai.
Aku sudah berdiri membawa tas kerja.
“Malam ini kita bicara di rumah Ibu.”
“Aku enggak mau rapat keluarga.”
“Aku juga tidak meminta rapat keluarga.”
Aku mengenakan sepatu.
“Tapi sepertinya keluargamu sudah membuat keputusan memakai uangku lewat rapat keluarga yang tidak mengundangku. Jadi kali ini aku akan datang.”
Pukul tujuh malam, rumah Bu Ratih lebih ramai daripada yang kubayangkan.
Ada Bu Ratih.
Livia.
Suami Livia, Bagas.
Kakak Arga yang bernama Rendy juga datang.
Bahkan seorang tante mereka duduk di ruang tamu.
Saat aku masuk, seluruh mata langsung mengarah kepadaku.
Aku nyaris tertawa.
Ternyata mereka benar-benar menjadikannya sidang keluarga.
Bu Ratih membuka pembicaraan.
“Nadia, kita selesaikan baik-baik.”
Aku duduk.
“Silakan.”
“Ibu tahu kamu kesal karena kejadian kemarin.”
“Bukan hanya itu.”
“Tapi membatalkan renovasi rumah Ibu itu keterlaluan.”
Aku menaruh map di meja.
“Kenapa?”
Bu Ratih tampak tersinggung.
“Karena kamu sudah janji.”
“Janji saya adalah memperbaiki atap bocor dan dapur lembap.”
Aku mengeluarkan penawaran pertama.
“Nilainya Rp96 juta.”
Lalu kutaruh penawaran kedua.
“Ini berubah menjadi Rp148 juta.”
Bu Ratih menghindari tatapanku.
Aku mengeluarkan lembar tambahan.
“Dan ternyata ada kamar atas untuk Livia yang tidak pernah dibicarakan dengan saya.”
Livia langsung bersuara.
“Mbak, cuma satu kamar.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau cuma satu kamar, kenapa tidak kamu bayar?”
Wajahnya berubah.
Bagas, suaminya, langsung menunduk memainkan ponsel.
Livia menarik napas.
“Sekarang kondisi kami lagi susah.”
Aku melihat jam tangan baru di pergelangan Bagas.
Aku mengenali modelnya.
Sekitar belasan juta.
Tetapi aku tidak mengomentarinya.
Aku hanya bertanya,
“Sulit sampai tidak bisa membayar kamar sendiri, tetapi cukup untuk mengganti mobil enam bulan lalu?”
Bagas langsung mengangkat wajah.
“Itu kredit.”
“Justru.”
Aku mengangguk.
“Berarti kalian memilih kredit mobil. Itu keputusan kalian. Mengapa konsekuensinya harus dibayar saya?”
Livia memasang wajah tersinggung.
“Kita keluarga.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku juga punya keluarga.”
Ruangan hening.
Aku melanjutkan.
“Kemarin adikku menikah. Kakak iparnya memberi Rp10 ribu sambil mengatakan, ‘Dia adikmu, bukan adikku.’”
Aku memandang Arga.
“Jadi saya sedang mengikuti prinsip yang dibuat suami saya sendiri.”
Bu Ratih mengetuk meja.
“Jangan dipelintir!”
“Apa yang saya pelintir?”
“Hadiah nikah dan renovasi rumah beda!”
“Tentu beda.”
Aku mengangguk.
“Yang satu Rp10 ribu. Yang satu Rp72 juta uang muka saya.”
Tidak ada yang bicara.
Tante Arga yang sejak tadi diam akhirnya berdeham.
“Arga memang cuma kasih sepuluh ribu?”
Bu Ratih langsung menyahut.
“Ah, namanya juga bercanda.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Membuka tangkapan layar transfer dari Rani yang dikirim kepadaku siang tadi.
“Tidak bercanda.”
Tante itu melihat layar.
Kemudian melirik Arga.
Ekspresinya langsung berubah.
Rendy ikut mengernyit.
“Ga, serius?”
Arga tampak kesal.
“Kenapa semua orang malah bahas itu?”
Aku hampir merasa lega mendengarnya.
Karena akhirnya ia mengatakannya sendiri.
Baginya penghinaan terhadap keluargaku memang bukan sesuatu yang layak dibahas.
Tetapi uang untuk keluarganya harus menjadi urusan semua orang.
Aku membuka map kedua.
“Baik. Kalau tidak mau membahas Rp10 ribu, kita bahas uang.”
Arga langsung menegang.
Aku mengeluarkan beberapa lembar.
“Empat tahun terakhir, total bantuan saya yang bisa saya buktikan untuk Bu Ratih dan Livia adalah Rp67.350.000.”
Mata Livia membesar.
Aku melanjutkan.
“Itu belum termasuk makan, hadiah kecil, belanja Lebaran, dan pengeluaran yang tidak saya simpan kuitansinya.”
Bu Ratih memotong,
“Kamu sekarang mau menagih semuanya?”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Saya hanya sedang membuktikan satu hal.”
Aku melihat satu per satu wajah mereka.
“Saya tidak pelit.”
Ruangan kembali sunyi.
“Saya berhenti memberi karena ternyata kemurahan hati saya dianggap kewajiban.”
Arga mencondongkan badan.
“Kamu membuat keluarga saya terlihat seperti pengemis.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Kamu yang membuat mereka terlihat seperti itu ketika kamu memakai uang istrinya tetapi mengatakan kepada keluarga bahwa semua berasal darimu.”
Wajah Arga seketika berubah.
Bu Ratih menoleh cepat.
“Maksudnya apa?”
Aku membuka percakapan lama.
Delapan bulan sebelumnya Bu Ratih pernah mengirim pesan kepadaku:
Untung Arga sekarang sudah mapan. Katanya dia yang banyak menanggung cicilan rumah kalian.
Waktu itu aku hanya membalas emoji tersenyum.
Aku tidak pernah membetulkan.
Sekarang kubaca keras-keras.
Kemudian aku menaruh catatan cicilan di meja.
“Cicilan apartemen kami rata-rata Rp8,7 juta.”
“Selama tiga tahun terakhir saya membayar sekitar Rp5 juta setiap bulan.”
“Arga membayar sekitar Rp3,7 juta.”
Aku melihat Bu Ratih.
“Uang muka apartemen Rp360 juta.”
“Orang tua saya membantu Rp180 juta.”
“Saya memasukkan Rp120 juta.”
“Arga Rp60 juta.”
Bu Ratih memandang anaknya.
Arga terlihat ingin menghilang.
Rendy menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
“Katamu dulu uang muka itu dari bonus kantor.”
Arga tidak menjawab.
Aku akhirnya mengerti.
Selama bertahun-tahun, Arga mempertahankan satu citra di keluarganya.
Bahwa ia suami sukses.
Bahwa ia penopang rumah tangga.
Bahwa ia mampu membantu ibunya.
Bahwa renovasi rumah ibunya adalah bukti keberhasilannya.
Namaku hampir tidak pernah disebut.
Padahal sebagian besar fondasi finansial yang membuatnya terlihat mapan berasal dari uangku dan bantuan orang tuaku.
Dan mungkin karena kebohongan itu sudah terlalu lama, lama-lama ia sendiri percaya bahwa semua yang kumiliki memang tersedia untuk keluarganya.
Bu Ratih berkata pelan,
“Arga?”
Suamiku berdiri.
“Kita enggak perlu bahas semua ini.”
“Kenapa?”
Aku bertanya.
“Kamu malu?”
Ia menatapku tajam.
“Cukup, Nadia.”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Aku membuka bukti transfer terakhir.
Rp38.000.000.
“Pagi tadi Arga mengambil uang dari rekening bersama tanpa persetujuan saya.”
Aku mendorong lembar itu ke tengah meja.
“Dikirim kepada Ibu.”
Bu Ratih terlihat gugup.
“Itu uang anak saya juga.”
“Sebagian.”
Aku tidak berteriak.
“Itulah sebabnya saya tidak menuduh Ibu mencuri. Saya hanya meminta semuanya dibuka.”
Aku menatap Arga.
“Kita akan menghitungnya melalui mediator keuangan. Berapa kontribusimu, berapa kontribusiku, berapa yang dipakai bersama. Saya tidak akan mengambil yang bukan hak saya.”
Aku berhenti.
“Tapi saya juga tidak akan membiarkan kamu mengambil yang bukan hakmu.”
Arga menatapku lama.
Kemudian ia tertawa sinis.
“Jadi sekarang mau cerai gara-gara sepuluh ribu?”
Aku menjawab tanpa ragu.
“Bukan.”
Aku berdiri.
“Aku mempertimbangkan berpisah karena empat tahun aku hidup dengan suami yang menghormati keluarganya dengan uang istrinya, tetapi menghina keluarga istrinya dengan uang sepuluh ribu.”
Tidak ada seorang pun memotong.
“Aku mempertimbangkan berpisah karena kamu mengubah proyek Rp72 juta tanpa izin.”
“Aku mempertimbangkan berpisah karena kamu menarik Rp38 juta dari rekening bersama setelah aku mengatakan tidak.”
“Aku mempertimbangkan berpisah karena selama bertahun-tahun kamu membiarkan keluargamu percaya bahwa kontribusiku adalah kontribusimu.”
Aku mengambil tas.
“Sepuluh ribu cuma membuatku akhirnya melihat semuanya.”
Bu Ratih bangkit.
“Nadia, jangan langsung bicara cerai.”
Untuk pertama kalinya malam itu suaranya tidak tinggi.
Mungkin karena ia mulai paham ini bukan lagi tentang renovasi.
“Pernikahan itu ada naik turunnya.”
Aku mengangguk.
“Saya tahu.”
“Arga juga banyak baiknya.”
“Saya tahu.”
“Kalau satu kesalahan langsung dibawa berpisah, rumah tangga siapa yang bisa bertahan?”
Aku menatap beliau.
“Kalau cuma satu kesalahan, saya tidak akan membawa dua map.”
Bu Ratih terdiam.
Aku pulang malam itu ke rumah orang tuaku.
Sendirian.
Arga menelepon dua belas kali.
Aku tidak mengangkat.
Bukan karena ingin menghukumnya.
Aku hanya sudah terlalu lelah untuk mendengar penjelasan yang selalu berakhir dengan alasan bahwa aku terlalu sensitif.
Dua hari berikutnya berjalan lebih tenang daripada dugaanku.
Refund dari kontraktor masuk.
Rp67.700.000.
Aku langsung memindahkannya ke rekening pribadiku.
Pak Dimas mengirim surat resmi bahwa proyek dihentikan.
Ternyata Rp38 juta yang dikirim Arga kepada Bu Ratih belum cukup untuk meneruskan renovasi versi baru.
Kontraktor juga tidak bersedia melanjutkan pekerjaan tanpa kontrak baru karena pemesan sebelumnya adalah aku.
Bu Ratih akhirnya mencari tukang lain.
Namun setelah menghitung ulang biaya, rencana lantai atas dibatalkan.
Carport lebar dibatalkan.
Kitchen set baru dibatalkan.
Yang dikerjakan hanya hal yang sejak awal memang mendesak:
atap bocor.
plafon rusak.
saluran air dapur.
Totalnya sekitar Rp31 juta.
Ironisnya, setelah semua drama itu, ternyata kebutuhan asli Bu Ratih memang tidak pernah mencapai Rp148 juta.
Yang membuat biaya membengkak adalah keinginan semua orang yang menempel pada proyek karena merasa ada orang lain yang membayar.
Livia kesal karena kamar atasnya batal.
Ia bahkan mengirim pesan kepadaku.
Mbak puas sekarang?
Aku hanya membalas satu kalimat.
Rumah itu milik Mama. Kalau kamu ingin kamar pribadi di sana, kamu dan suamimu bisa membangunnya.
Setelah itu ia tidak membalas lagi.
Arga datang ke rumah orang tuaku pada hari ketiga.
Ayah membukakan pintu.
Aku sedang duduk di ruang makan bersama Rani.
Begitu melihat Arga, wajah Rani langsung kaku.
Arga membawa buah dan kue.
Ayah menerima tamunya dengan sopan.
Tetapi tidak seperti biasanya, beliau tidak memanggil Arga dengan nada akrab.
“Duduk.”
Arga duduk.
Kemudian menatap Rani.
“Ran.”
Rani tidak menjawab.
Arga mengeluarkan amplop cokelat.
“Aku mau minta maaf soal pernikahan kemarin.”
Aku melihat tangan adikku mengepal di pangkuannya.
Arga meletakkan amplop di meja.
“Ini ada—”
Rani langsung mendorongnya kembali.
“Tidak usah, Mas.”
“Dengar dulu.”
“Benar-benar tidak usah.”
Rani menatapnya.
Suaranya tenang, tetapi matanya mulai merah.
“Kalau Mas datang karena Mbak Nadia marah, saya tidak mau.”
Arga terdiam.
Rani melanjutkan.
“Waktu Mas transfer sepuluh ribu, saya malu.”
“Tapi bukan karena nominalnya.”
“Saya pernah dapat amplop kosong waktu kondangan. Saya enggak marah.”
“Tapi cara Mas ngomong di depan Ayah, Ibu, suami saya, itu yang sakit.”
Arga menunduk.
“Saya sampai mikir seharian, keluarga kami salah apa sama Mas.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Kemudian Rani berkata sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa kulupakan.
“Kalau Mas tidak menganggap saya keluarga, tidak apa-apa.”
“Tapi jangan pakai ketidaksukaan Mas kepada kami untuk menyakiti Mbak Nadia.”
Arga menatapku.
Aku melihat sesuatu di wajahnya yang selama empat tahun jarang kulihat.
Malu.
Bukan karena ketahuan.
Melainkan karena orang yang ia permalukan justru tidak membalas mempermalukannya.
Ayah akhirnya bicara.
“Arga.”
“Ya, Pak.”
“Bapak tidak butuh uangmu.”
Ayah menatapnya lurus.
“Anak-anak Bapak juga tidak.”
“Yang Bapak minta sejak Nadia menikah cuma satu.”
“Jangan buat dia merasa keluarganya menjadi rendah setelah menikah denganmu.”
Arga mengusap wajah.
“Maaf, Pak.”
Ayah tidak menjawab apakah maaf itu diterima.
Beliau hanya berdiri dan masuk ke halaman belakang.
Malamnya, Arga dan aku bicara berdua.
Untuk pertama kalinya tanpa keluarganya.
Tanpa keluargaku.
Tanpa penonton.
Ia mengaku alasan sebenarnya memberi Rp10 ribu.
Beberapa minggu sebelumnya ia mendengar Bu Ratih mengeluh bahwa aku terlalu sering membantu Rani mengurus persiapan pernikahan.
Menurut Bu Ratih, aku lebih perhatian kepada adikku daripada Livia.
Arga kesal.
Ia ingin “memberi pelajaran”.
Jadi ia sengaja mengirim nominal kecil.
“Supaya kamu ngerti kalau keluarga kamu bukan tanggung jawabku.”
Aku mendengarkan sampai selesai.
Kemudian bertanya,
“Setelah mengatakan itu, kamu tetap menganggap keluargamu tanggung jawabku?”
Arga menunduk.
“Aku salah.”
“Bukan jawaban pertanyaanku.”
Ia diam lama.
Akhirnya berkata,
“Iya.”
Satu kata itu justru membuat keputusanku lebih mudah.
Karena akhirnya ia jujur.
Bukan soal uang.
Bukan soal lupa.
Bukan soal bercanda.
Selama ini memang ada keyakinan di kepalanya bahwa penghasilanku adalah sumber daya rumah tangga yang boleh digunakan untuk keluarganya, sementara penghasilannya tidak memiliki kewajiban moral yang sama terhadap keluargaku.
Itu bukan kesalahpahaman.
Itu sistem.
Dan aku tidak mau hidup di dalam sistem seperti itu selama tiga puluh tahun ke depan.
Aku memberi Arga dua pilihan.
Kami pergi ke konselor pernikahan, membuka seluruh keuangan, membuat batas bantuan keluarga yang berlaku sama untuk kedua pihak, dan ia berhenti mengambil keputusan finansial tanpa persetujuanku.
Atau kami berpisah secara baik-baik.
Arga memilih mencoba.
Selama dua bulan pertama, aku juga mencoba.
Kami menghadiri konseling.
Kami memisahkan rekening pribadi dan rekening biaya rumah tangga.
Semua pengeluaran di atas jumlah tertentu harus dibicarakan.
Bantuan kepada orang tua masing-masing dibatasi sesuai kemampuan.
Tidak ada lagi proyek keluarga besar yang otomatis menjadi tanggung jawab pasangan.
Secara teori, semuanya terlihat membaik.
Namun pada bulan ketiga, masalah lama muncul.
Bu Ratih meminta Rp25 juta karena Livia membutuhkan uang muka untuk memulai usaha salon rumahan.
Arga datang kepadaku malam itu.
“Kalau kita pinjamkan dulu bagaimana?”
Aku bertanya,
“Kamu punya berapa?”
“Sekitar tujuh juta.”
“Berarti kamu pinjamkan tujuh juta.”
Ia terdiam.
“Aku kira kamu bisa tambahkan.”
Aku memandangnya lama.
Tidak marah.
Tidak kecewa.
Aneh sekali, aku justru merasa tenang.
Karena saat itu aku mendapat jawabanku.
Tiga bulan konseling.
Puluhan percakapan.
Puluhan janji.
Dan saat keluarganya membutuhkan uang lagi, pikirannya tetap kembali ke tempat yang sama.
Uang Nadia.
Aku tersenyum kecil.
“Tidak, Ga.”
Ia mulai kesal.
“Kita sudah bahas saling bantu.”
“Betul.”
“Aku sedang membantu.”
“Dengan uang siapa?”
Pertanyaan itu membuatnya diam.
Malam itu aku tahu pernikahan kami sudah selesai jauh sebelum dokumennya selesai.
Kami berpisah tanpa perang besar.
Tidak ada perebutan barang sampai polisi datang.
Tidak ada saling menyebar aib di media sosial.
Kami menggunakan mediator dan penasihat hukum masing-masing untuk menyelesaikan aset dan kewajiban secara tertulis.
Apartemen akhirnya dijual.
Sisa pinjaman dilunasi terlebih dahulu.
Pembagian hasil bersih kami sepakati berdasarkan penyelesaian yang dinegosiasikan bersama setelah seluruh bukti pembayaran diperiksa.
Arga juga mengembalikan sebagian dana rekening bersama yang ia transfer kepada Bu Ratih setelah perhitungan kontribusi diselesaikan.
Bukan karena ia tiba-tiba berubah menjadi orang paling adil.
Tetapi karena kali ini semuanya tercatat.
Tidak ada lagi ruang untuk kalimat:
“Aku kira.”
“Aku lupa.”
“Itu kan keluarga.”
Bu Ratih berhenti menghubungiku setelah perceraian selesai.
Livia juga.
Aku tidak marah.
Justru lega.
Aku pindah ke apartemen kecil sekitar dua belas menit dari rumah orang tuaku.
Tidak sebesar tempat lamaku.
Tetapi setiap benda di dalamnya kupilih sendiri.
Setiap tagihan kubayar sendiri.
Dan yang paling penting, tidak pernah lagi ada orang yang membuka rekeningku sambil menghitung berapa banyak yang bisa diberikan kepada keluarganya.
Enam bulan kemudian, Rani hamil.
Suatu Minggu sore kami makan bersama di rumah Ayah.
Tidak ada gedung besar.
Tidak ada pesta.
Hanya ayam bakar, sambal buatan Ibu, kerupuk yang terlalu banyak, dan suara Rani mengeluh karena bayi dalam perutnya membuatnya tidak tahan bau ikan.
Ayah tertawa sampai batuk.
Ibu sibuk menyiapkan buah.
Aku duduk memandang meja makan itu.
Dulu aku sering takut keluargaku akan dianggap beban oleh suami.
Aku terus mencoba membuktikan bahwa aku bisa menjadi istri yang “adil” dengan memberi lebih banyak kepada keluarganya.
Baru sekarang aku sadar, keadilan tidak lahir karena satu orang terus mengalah.
Keadilan hanya ada ketika aturan berlaku dua arah.
Rani menyenggol lenganku.
“Mbak.”
“Hm?”
“Kalau nanti anakku lahir, jangan beliin yang mahal-mahal.”
Aku tertawa.
“Kenapa?”
“Takut kamu beliin stroller seharga motor.”
Ibu langsung menyela.
“Jangan boros!”
Kami semua tertawa.
Aku mengambil ponsel.
Lalu mentransfer Rp500 ribu ke Rani.
Matanya langsung membesar.
“Mbak!”
Aku menunjukkan layar.
Catatan transfernya hanya dua kata:
Beli mangga.
Rani tertawa sampai menangis.
“Aku cuma ngidam dua biji!”
“Ya sudah. Sisanya simpan.”
Ia memelukku.
Tidak ada yang menghitung apakah jumlahnya terlalu sedikit atau terlalu banyak.
Tidak ada yang mempertanyakan siapa bertanggung jawab atas siapa.
Karena memberi dengan tulus memang selalu terasa berbeda dari memberi karena dipaksa.
Beberapa waktu kemudian aku mendengar kabar dari Rendy bahwa renovasi rumah Bu Ratih akhirnya selesai dalam versi sederhana.
Atap diperbaiki.
Dapur dicat ulang.
Tidak ada lantai tambahan.
Tidak ada kamar khusus untuk Livia.
Livia dan Bagas akhirnya menyewa tempat kecil dekat sekolah anak mereka karena Bagas tidak mau ikut membiayai pembangunan kamar di rumah mertuanya.
Arga sendiri pindah ke tempat sewa setelah apartemen kami terjual.
Katanya pengeluarannya sekarang jauh lebih ketat karena harus menanggung semua bantuan keluarga dari penghasilannya sendiri.
Aku tidak merasa senang mendengarnya.
Tapi aku juga tidak merasa kasihan.
Itu bukan hukuman yang kubuat.
Itu hanya kehidupan yang akhirnya mengembalikan setiap tanggung jawab kepada pemiliknya.
Sedangkan aku?
Aku tidak menjadi kaya mendadak.
Tidak bertemu pangeran sempurna.
Tidak mendapat kehidupan tanpa masalah.
Aku hanya mendapatkan sesuatu yang selama empat tahun perlahan hilang dari diriku.
Ketenangan.
Dan sekarang setiap kali mengingat Rp10 ribu di hari pernikahan Rani, aku tidak lagi merasa marah.
Justru aku merasa anehnya bersyukur.
Karena kadang sebuah pernikahan tidak runtuh karena angka yang besar.
Kadang yang membuka mata kita justru angka yang sangat kecil.
Begitu kecil sampai orang lain menganggapnya sepele.
Tetapi cukup untuk menunjukkan dengan sangat jelas—
siapa yang dianggap keluarga,
siapa yang hanya dianggap dompet,
dan seberapa lama kita bersedia membiarkan orang lain menentukan nilai harga diri kita.

