Bagian 3 — Ketika Uang Saya Tidak Jadi Cair, Keluarga Itu Mulai Membongkar Rahasia Mereka Sendiri

Avatar penulis
Cerita 03
13 menit baca 1,387 tayangan
Bagian 3 — Ketika Uang Saya Tidak Jadi Cair, Keluarga Itu Mulai Membongkar Rahasia Mereka Sendiri
Indeks

Bagian 3 — Ketika Uang Saya Tidak Jadi Cair, Keluarga Itu Mulai Membongkar Rahasia Mereka Sendiri

Keesokan paginya saya bangun pukul enam seperti biasa.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada adegan menghancurkan foto pernikahan.

Saya mandi, mengenakan setelan kerja, membuat kopi, kemudian menelepon pengacara yang sudah menangani urusan pribadi saya selama bertahun-tahun.

Namanya Bima.

Saya hanya mengatakan satu kalimat.

“Saya mau meninjau perjanjian perkawinan dan memulai proses perceraian.”

Bima tidak bertanya kenapa.

“Dokumen aslinya masih di kantor saya. Saya siapkan hari ini.”

Setelah menutup telepon, saya mengirim email kepada direktur keuangan perusahaan investasi pribadi saya.

Hentikan proses pencairan Rp3,6 miliar untuk proyek Pratama Sentra Niaga. Tidak ada transfer sampai ada instruksi tertulis baru dari saya.

Jawabannya datang tujuh menit kemudian.

Dipahami. Belum ada dana yang keluar.

Saya menatap layar beberapa detik.

Untung.

Selama ini Raka terus mendesak agar dana ditransfer cepat karena katanya pemilik aset ingin menyelesaikan transaksi sebelum akhir bulan.

Saya hampir melakukannya.

Kalau pesta ulang tahun Ibu Ratih terjadi seminggu lebih lambat, mungkin Rp3,6 miliar sudah berpindah rekening.

Pukul delapan, panggilan dari nomor baru masuk.

Saya biarkan.

Nomor lain menyusul.

Kemudian pesan.

Nadira, ini Papa. Jangan ambil keputusan saat emosi.

Nomor lain lagi.

Kak, Mama semalaman tidak tidur. Tekanan darahnya naik.

Lalu Tante Mirna.

Masalah keluarga jangan dibesar-besarkan karena gengsi.

Saya memblokir semuanya.

Bukan untuk menghukum.

Saya hanya tidak tertarik menghadiri sidang keluarga tempat saya harus menjelaskan kenapa saya berhak merasa dihina.

Saat tiba di kantor, saya meminta staf hukum internal membantu memeriksa proposal proyek yang sebelumnya dikirim Raka.

Saya tidak menjelaskan urusan rumah tangga.

Saya hanya berkata saya sedang mempertimbangkan investasi pribadi dan ingin melakukan due diligence.

Dua jam kemudian, kepala legal menelepon saya.

“Bu Nadira, struktur transaksinya agak aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Dana Ibu bukan masuk sebagai penyertaan saham.”

Saya terdiam.

“Lanjut.”

“Dalam draft perjanjian, uang Rp3,6 miliar dicatat sebagai shareholder loan kepada PT Pratama Sentra Niaga.”

“Berapa saham yang saya dapat?”

“Tidak ada.”

Saya bersandar di kursi.

“Voting rights?”

“Tidak ada.”

“Jaminan?”

“Ada personal guarantee dari direktur perusahaan.”

“Raka?”

“Ya. Tapi berdasarkan data aset yang dilampirkan, jaminannya tidak cukup untuk menutup pinjaman.”

Saya menutup mata sebentar.

Selama dua bulan, suami saya selalu menyebut proyek itu sebagai “investasi kita”.

Ternyata secara hukum itu bahkan bukan investasi ekuitas.

Saya hanya akan menjadi pemberi pinjaman terbesar.

Tanpa saham.

Tanpa kendali.

Dan direktur keuangannya adalah mantan istrinya.

“Siapa pemegang saham perusahaan?” tanya saya.

Suara di telepon berhenti sebentar.

“Pak Hendra empat puluh persen. Ibu Ratih tiga puluh lima persen.”

“Dua puluh lima sisanya?”

“Selma Larasati.”

Saya tidak terkejut lagi.

Aneh sekali.

Setelah penghinaan mencapai titik tertentu, rasa sakit justru berubah menjadi ketenangan.

Potongan-potongan yang sebelumnya terasa acak mulai tersusun sendiri.

Kenapa Raka begitu gigih membujuk saya.

Kenapa Ibu Ratih terus berkata proyek itu adalah kesempatan “untuk masa depan keluarga”.

Kenapa Selma belakangan semakin sering muncul.

Dan kenapa di pesta ulang tahun, mereka begitu berani menempatkannya sebagai bagian dari keluarga inti.

Karena secara bisnis, dia memang sudah masuk kembali.

Hanya saya yang tidak diberi tahu.

Sore itu Raka datang ke kantor.

Resepsionis menelepon sebelum mengizinkannya naik.

Saya menyuruh mereka mengantarnya ke ruang rapat kecil.

Saat masuk, wajah Raka terlihat jauh lebih lelah daripada semalam.

“Nadira, aku minta kamu pulang.”

“Rumah yang mana?”

Dia menahan napas.

“Rumah kita.”

“Saya sedang di kantor. Bicara seperlunya.”

Penggunaan kata “saya” membuat ekspresinya berubah.

Dia duduk.

“Aku sudah bicara sama Mama. Mama mengakui kemarin keterlaluan.”

“Bagus.”

“Selma juga sudah bilang dia tidak bermaksud mengambil posisi kamu.”

“Saya tidak sedang bersaing memperebutkan kursi dengan Selma.”

“Kalau begitu jangan buat semuanya lebih besar.”

Saya mendorong satu salinan proposal ke arahnya.

“Jelaskan.”

Dia membaca halaman yang saya tandai.

Tidak sampai satu menit, wajahnya memucat.

“Siapa yang kasih kamu ini?”

“Kamu.”

Raka terdiam.

Proposal itu memang dikirim dari emailnya sendiri.

Saya menunjuk struktur pemegang saham.

“Kenapa dua puluh lima persen perusahaan ini milik Selma?”

“Karena dia ikut mengurus sejak awal.”

“Kenapa saya tidak tahu?”

“Aku belum sempat menjelaskan.”

“Dua bulan tidak sempat?”

“Nadira…”

“Kenapa dana saya berbentuk pinjaman, bukan saham?”

Raka mulai gelisah.

“Karena kalau struktur saham diubah, administrasinya lebih rumit.”

“Jadi saya menanggung risiko terbesar tanpa hak suara.”

“Tidak seperti itu.”

“Persis seperti itu.”

Dia terdiam.

Saya melanjutkan.

“Kalau proyek untung, keluarga kamu punya aset dan saham. Kalau proyek bermasalah, saya berdiri sebagai kreditur dengan jaminan yang nilainya tidak cukup.”

“Nanti utangnya tetap dibayar.”

“Dengan apa?”

“Dari penjualan ruko.”

“Kalau ruko tidak terjual?”

Raka mengetuk meja dengan jarinya.

Kemudian dia berkata sesuatu yang justru mengakhiri sisa keyakinan saya.

“Kamu punya uang sebanyak itu. Bahkan kalau proyek ini lambat, Rp3,6 miliar tidak akan menghancurkan hidupmu.”

Saya memandangnya.

Tidak marah.

Hanya memandang.

Mungkin dia baru sadar setelah kalimat itu keluar.

“Nadira, maksudku bukan—”

“Saya tahu persis maksudmu.”

Bagi keluarga itu, nominal yang besar berubah menjadi kecil hanya karena saya mampu membayarnya.

Rp35 juta sebulan untuk mertua?

Nadira mampu.

Asuransi kesehatan?

Nadira mampu.

Pesta hampir dua ratus juta?

Nadira mampu.

Modal miliaran?

Nadira juga mampu.

Karena saya mampu, mereka mengira saya tidak berhak mempermasalahkan cara saya diperlakukan.

Saya menutup proposal.

“Dana tidak akan cair.”

Raka langsung tegak.

“Nadira.”

“Keputusan final.”

“Kita sudah tanda tangan letter of intent.”

“Saya tidak.”

“Tapi aku sudah berkomitmen berdasarkan persetujuanmu.”

“Saya bilang saya tertarik berinvestasi setelah struktur hukumnya selesai diperiksa. Saya tidak pernah menandatangani kewajiban mencairkan uang.”

Raka terlihat benar-benar panik sekarang.

“Kami sudah bayar booking fee Rp480 juta.”

“Itu keputusan kalian.”

“Kalau minggu depan pelunasan pertama tidak masuk, uang itu hangus.”

Saya mengangguk.

“Saya mengerti.”

“Kamu bisa kehilangan pernikahan kita demi membuktikan sesuatu.”

Saya hampir tersenyum.

“Tidak. Pernikahan kita sudah rusak sebelum uang itu dibahas. Saya hanya baru melihatnya sekarang.”

Raka berdiri.

“Jadi kamu mau menghukum seluruh keluargaku?”

“Tidak.”

Saya ikut berdiri.

“Saya hanya berhenti menyelamatkan mereka dari konsekuensi keputusan mereka sendiri.”

Malam harinya sesuatu yang tidak saya duga terjadi.

Selma menghubungi saya melalui email kantor.

Subjeknya hanya dua kata.

Saya minta maaf.

Saya hampir menghapusnya.

Tetapi ada beberapa lampiran.

Saya membuka.

Ternyata tangkapan layar WhatsApp.

Banyak.

Percakapan antara Selma dan Ibu Ratih.

Dua bulan sebelum ulang tahun.

Ibu Ratih menulis:

Kalau proyek ini jadi, kamu kembali sering bertemu Raka. Mama senang. Dulu kalau kalian tidak sama-sama keras kepala mungkin tidak akan cerai.

Selma menjawab:

Bu, saya ikut karena urusan kerja saja. Raka sudah menikah. Saya tidak mau ada masalah.

Ibu Ratih:

Nadira itu dewasa. Lagi pula dia sibuk terus. Dia bukan tipe perempuan yang cemburuan.

Percakapan berikutnya lebih buruk.

Seminggu sebelum pesta, Selma sempat menolak hadir.

Saya rasa tidak enak kalau datang ke acara keluarga.

Ibu Ratih membalas:

Kamu bagian keluarga. Mama sudah bilang ke Raka. Dia bilang asal jangan bikin Nadira marah sebelum urusan dana selesai.

Saya berhenti membaca.

Ada pesan dari Raka sendiri di grup proyek.

Jangan masukkan nama Selma terlalu jelas di presentasi awal yang Nadira lihat. Nanti setelah dia setuju baru saya jelaskan struktur operasionalnya.

Di bawah email, Selma menulis:

Saya tidak tahu Anda tidak diberi tahu soal saham saya. Raka mengatakan Anda sudah mengetahui dan menyetujui struktur perusahaan. Tentang kursi di pesta, saya sudah menolak. Ibu Ratih yang memaksa. Setelah Anda pergi, mereka malah mengatakan saya penyebab Anda membatalkan investasi. Saya tidak mau dijadikan alasan untuk sesuatu yang dari awal tidak jujur.

Untuk pertama kali sejak pesta, amarah saya benar-benar muncul.

Bukan kepada Selma.

Kepada Raka.

Dia bukan sekadar menghindari konflik.

Dia secara sadar menahan informasi sampai uang saya masuk.

Saya membalas email Selma singkat.

Terima kasih sudah mengirimkan bukti. Masalah saya bukan dengan Anda. Saya harap Anda juga membuat keputusan terbaik untuk diri sendiri.

Dua hari kemudian, pengacara saya mengirim surat resmi kepada Raka.

Saya mengajukan perceraian.

Perjanjian perkawinan kami jelas.

Aset sebelum dan selama pernikahan yang diperoleh secara terpisah tetap milik masing-masing.

Tidak ada anak.

Tidak ada perusahaan bersama.

Tidak ada utang bersama.

Rumah tempat kami tinggal tercatat sebagai aset saya sebelum menikah.

Apartemen milik Raka tetap miliknya.

Secara hukum, perpisahan kami sebenarnya jauh lebih sederhana daripada drama yang dibuat keluarganya.

Yang sulit bagi Raka adalah menerima bahwa saya benar-benar pergi.

Dia datang ke apartemen tiga kali.

Saya tidak membukakan pintu.

Dia menunggu di lobi sampai satpam meminta pergi.

Kemudian dia mulai mengirim email.

Awalnya bernada marah.

Kamu menghancurkan semuanya hanya karena emosi.

Lalu berubah.

Mama bersedia minta maaf.

Kemudian:

Kita konseling pernikahan dulu.

Lalu:

Aku salah soal proyek. Aku akan keluarkan Selma dari perusahaan.

Terakhir:

Aku akan melakukan apa saja. Jangan cerai.

Saya hanya menjawab melalui pengacara.

Dua minggu kemudian, proyek ruko itu benar-benar gagal.

Keluarga Raka tidak berhasil memperoleh pembiayaan pengganti dalam tenggat waktu.

Bank menolak karena rasio utang perusahaan terlalu tinggi.

Investor lain meminta saham mayoritas sebagai syarat.

Mereka menolak.

Booking fee Rp480 juta akhirnya hangus sesuai kontrak.

Ibu Ratih menelepon kantor saya menggunakan nomor resepsionis hotel tempat perusahaan saya pernah mengadakan seminar.

Saya mengenali suaranya begitu mengangkat telepon.

“Nadira.”

Saya hampir menutupnya.

Beliau buru-buru berkata,

“Mama cuma minta lima menit.”

Saya diam.

“Nadira, waktu ulang tahun itu Mama memang salah.”

Saya masih tidak menjawab.

“Selma sudah seperti anak sendiri bagi Mama. Mama tidak pernah bermaksud menggantikan kamu.”

Saya akhirnya bicara.

“Kalau begitu kenapa dalam denah hotel saya disebut tamu keluarga?”

Sunyi.

“Nadira…”

“Kenapa Mama menyuruh saya memotret keluarga inti yang berisi suami saya dan mantan istrinya?”

Beliau menarik napas.

“Mama terbawa suasana.”

“Kenapa Mama mengatakan dana saya harus cair dulu sebelum proyek dibahas?”

Kali ini tidak ada jawaban sama sekali.

Saya menunggu.

Akhirnya beliau berkata pelan,

“Masalah bisnis itu urusan laki-laki.”

Saya tertawa.

“Kalau uangnya milik saya, itu juga urusan saya.”

Nada suaranya mulai bergetar.

“Sekarang semua orang menyalahkan Mama. Papa kamu marah. Raka hampir tiap hari bertengkar dengan Selma. Mama cuma ingin keluarga kembali seperti dulu.”

Saya menatap jendela kantor.

Gedung-gedung Jakarta terlihat kecil dari lantai tiga puluh dua.

“Bu Ratih, justru itu masalahnya.”

“Apa?”

“Ibu terlalu ingin keluarga kembali seperti dulu sampai lupa Raka sudah membangun keluarga baru.”

Dia menangis.

Biasanya suara tangis orang tua cukup membuat saya menyerah.

Kali ini tidak.

Karena rasa kasihan tidak boleh selalu dibayar dengan harga diri.

“Saya minta maaf kalau selama menjadi menantu ada kekurangan,” kata saya. “Tapi keputusan saya tidak berubah.”

“Nadira, Mama bisa datang minta maaf langsung.”

“Tidak perlu.”

“Jadi kamu benar-benar tidak memberi Raka kesempatan?”

Saya menjawab tenang.

“Saya sudah memberi kesempatan selama tiga tahun setiap kali saya mengatakan sesuatu membuat saya tidak nyaman dan dia meminta saya berhenti sensitif.”

Saya menutup telepon.

Beberapa hari kemudian saya mendengar kabar lain dari Dimas.

Selma mengundurkan diri dari perusahaan keluarga.

Ternyata setelah proyek gagal, Ibu Ratih dan Indah mulai menyalahkannya.

Mereka menuduh Selma sengaja mengirim bukti kepada saya supaya hubungan saya dengan Raka hancur.

Selma menjawab dengan satu hal yang tidak pernah mereka duga.

Dia meminta perusahaan membeli kembali dua puluh lima persen sahamnya.

Karena kas perusahaan menipis, keluarga Raka tidak sanggup.

Akhirnya dia mengancam menggunakan haknya sebagai pemegang saham untuk meminta audit independen.

Saya tidak ikut campur.

Namun saya sempat tersenyum saat mendengarnya.

Selama ini keluarga itu mengira dua perempuan bisa ditempatkan pada posisi berlawanan lalu keduanya akan sibuk saling membenci.

Mereka salah.

Masalahnya bukan istri baru melawan mantan istri.

Masalahnya adalah sekelompok orang yang merasa perempuan di sekitar mereka harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan keluarga.

Yang satu dibutuhkan karena memiliki uang.

Yang satu dibutuhkan karena memiliki keahlian keuangan dan sejarah panjang bersama keluarga.

Keduanya tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai manusia yang memiliki pilihan.

Proses perceraian berjalan hampir enam bulan.

Raka beberapa kali meminta mediasi.

Saya datang satu kali karena disarankan pengacara.

Di ruang mediasi, dia terlihat jauh lebih kurus.

“Nadira, aku tidak pernah selingkuh dengan Selma.”

“Saya tidak pernah menuduhmu selingkuh.”

Dia kelihatan bingung.

“Lalu kenapa kamu tidak bisa memaafkan?”

Saya menatapnya.

“Karena kamu masih berpikir perselingkuhan adalah satu-satunya bentuk pengkhianatan.”

Dia terdiam.

Saya melanjutkan.

“Kamu berbohong tentang kehadirannya.”

“Kamu menyembunyikan struktur perusahaan.”

“Kamu membiarkan keluargamu mempermalukanku di depan puluhan orang.”

“Kamu tahu ibumu sengaja menempatkannya di kursi keluarga inti.”

“Dan setelah semua itu terbongkar, hal pertama yang kamu takutkan adalah investasiku batal.”

Mata Raka memerah.

“Aku cuma tertekan.”

“Semua orang bisa tertekan.”

Saya menutup map di depan saya.

“Tapi tekanan tidak membuat seseorang menulis, ‘jangan beri tahu Nadira sebelum dana cair.’ Itu keputusan.”

Dia tidak mampu menjawab.

Sebelum mediasi berakhir, Raka mengatakan sesuatu yang mungkin seharusnya dia sadari sejak awal.

“Aku pikir kamu akan selalu bisa memahami keadaan.”

Saya mengangguk.

“Aku memang memahami.”

Dia menatap saya penuh harap.

Saya melanjutkan,

“Memahami bukan berarti menerima.”

Hari putusan perceraian selesai, hujan turun di Jakarta sejak pagi.

Saya keluar dari gedung bersama Bima.

Tidak ada keluarga Raka yang menunggu.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada Raka mengejar mobil saya.

Hanya sebuah dokumen yang mengatakan pernikahan kami sudah selesai secara hukum.

Di dalam mobil, saya melepas napas panjang.

Aneh.

Saya tidak merasa menang.

Saya juga tidak merasa kalah.

Saya hanya merasa ringan.

Tujuh bulan setelah pesta ulang tahun itu, divisi yang saya pimpin mendapatkan kontrak regional terbesar dalam sejarah perusahaan.

Bonus tahun itu menjadi yang tertinggi sepanjang karier saya.

Dengan sebagian dana tersebut, saya membeli saham tambahan dalam perusahaan distribusi medis milik salah satu mantan kolega saya.

Bedanya dengan proyek keluarga Raka?

Nama saya tertulis jelas sebagai pemegang saham.

Hak suara saya tercantum.

Risikonya dijelaskan.

Tidak ada kalimat, “Percaya saja, ini keluarga.”

Karena bisnis yang sehat tidak membutuhkan hubungan darah untuk menutupi dokumen yang buruk.

Pada ulang tahun saya yang ke-39, saya tidak mengadakan pesta besar.

Hanya makan malam kecil bersama ayah, ibu, dua sahabat lama, dan beberapa rekan yang selama bertahun-tahun benar-benar hadir dalam hidup saya.

Restorannya tidak mewah.

Mejanya hanya satu.

Ketika saya datang, ibu saya menepuk kursi kosong di sebelahnya.

“Duduk sini.”

Saya tertawa.

“Kenapa harus di situ?”

Ibu menjawab santai,

“Ya karena kamu yang ulang tahun.”

Sesederhana itu.

Tidak ada yang harus membayar miliaran untuk mendapatkan tempat di meja.

Tidak ada yang harus terus menerus membuktikan dirinya pantas disebut keluarga.

Setelah makan, saya membuka ponsel.

Ada satu email baru dari Raka.

Sudah hampir tiga bulan dia tidak menghubungi saya.

Judulnya:

Aku akhirnya mengerti.

Saya tidak membukanya.

Saya menghapusnya.

Bukan karena masih marah.

Tetapi karena beberapa penjelasan datang setelah orang lain tidak lagi membutuhkannya.

Sebelum pulang, pelayan menawarkan diri mengambil foto keluarga.

Ayah dan ibu berdiri di kanan kiri saya.

Saya memandang layar kamera sambil tersenyum.

Tiba-tiba saya teringat pesta Ibu Ratih.

Kursi utama.

Denah meja.

Kalimat “keluarga inti”.

Dan diri saya sendiri yang malam itu berdiri membawa kue yang saya bayar, di sebuah pesta yang saya biayai, lalu diminta memotret suami saya bersama mantan istrinya.

Dulu saya mengira berjalan keluar dari ruangan itu adalah keputusan impulsif.

Sekarang saya tahu bukan.

Itu mungkin keputusan paling jernih yang pernah saya buat.

Karena malam itu saya akhirnya memahami sesuatu.

Harga diri jarang hilang sekaligus.

Ia terkikis sedikit demi sedikit.

Saat seseorang meminta kita “jangan terlalu sensitif”.

Saat kebohongan disebut “menghindari masalah”.

Saat penghinaan disebut “tradisi keluarga”.

Saat uang kita diterima dengan mudah, tetapi suara kita dianggap berlebihan.

Dan terkadang, cara terbaik mempertahankannya bukan dengan berteriak lebih keras.

Cukup berdiri.

Mengambil tas.

Keluar dari pintu.

Lalu memastikan orang-orang yang menganggap kita akan selalu kembali akhirnya memahami satu hal:

Ada kursi yang setelah sekali diberikan kepada orang yang salah, tidak akan pernah saya perebutkan kembali.

Sebab saya sudah memiliki meja saya sendiri.