Bagian 3 — Tes DNA, Kebohongan Tiga Puluh Tahun, dan Pengkhianatan Suamiku Akhirnya Bertemu di Satu Meja

Avatar penulis
Cerita 02
10 menit baca 186 tayangan
Bagian 3 — Tes DNA, Kebohongan Tiga Puluh Tahun, dan Pengkhianatan Suamiku Akhirnya Bertemu di Satu Meja
Indeks

Bagian 3 — Tes DNA, Kebohongan Tiga Puluh Tahun, dan Pengkhianatan Suamiku Akhirnya Bertemu di Satu Meja

Keesokan paginya Papa Hendra datang sendiri.

Tidak ada Ratna.

Tidak ada Arga.

Pria yang biasanya berjalan tegak itu terlihat seperti menua sepuluh tahun hanya dalam dua malam.

Kami bertemu di sebuah laboratorium swasta di Surabaya.

Aku sudah mengatakan kepadanya sejak awal bahwa tes DNA tidak bisa dipakai sebagai permainan atau alat mempermalukan siapa pun.

Kalau ia mau mencari jawaban, ia harus melakukannya karena dirinya sendiri ingin tahu.

Papa hanya berkata,

“Saya hidup bersama satu perempuan selama empat puluh dua tahun. Saya berhak tahu apakah kehidupan yang saya jalani dibangun di atas kebenaran atau kebohongan.”

Masalahnya, membandingkan DNA Papa dengan Arga membutuhkan persetujuan Arga.

Dan Arga menolak.

Dia bahkan mengirim pesan kepadaku:

Kalau kamu terus mengejar ini, aku akan menganggap pernikahan kita selesai.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Lalu kubalas:

Pernikahan kita mulai selesai saat kamu membiarkan ibumu menghancurkan nama istrimu agar rahasianya tetap aman.

Tidak ada balasan.

Namun Papa ternyata menemukan jalan yang jauh lebih sederhana.

Ia tidak memaksa Arga.

Ia mencari laki-laki dalam daftar kunjungan itu.

Namanya Surya Pranoto.

Dulu Surya adalah supervisor gudang di perusahaan tekstil tempat Ratna dan ibuku pernah bekerja.

Sekarang usianya tujuh puluh empat tahun dan tinggal di Batu bersama anak perempuannya.

Papa pergi menemuinya.

Aku tidak ikut.

Dua hari kemudian, Papa meneleponku.

Suaranya begitu datar sampai terdengar menakutkan.

“Dia mengaku.”

Aku berdiri dari kursi kerja.

“Mengaku apa?”

“Hanya bahwa dia dan Ratna pernah mempunyai hubungan.”

Aku diam.

Papa melanjutkan,

“Katanya hubungan itu dimulai beberapa minggu sebelum saya pergi ke Jepang.”

Dadaku terasa berat.

“Apakah dia mengaku Arga anaknya?”

“Tidak.”

Papa tertawa pendek.

Tawa tanpa bahagia.

“Dia bilang Ratna datang menemuinya setelah Arga lahir. Membawa bayi itu. Meminta uang.”

Aku memejamkan mata.

“Lalu?”

“Surya takut.”

Papa berhenti.

“Dia baru menikah.”

Cerita yang kemudian kuketahui jauh lebih buruk daripada dugaanku.

Ratna dan Surya berhubungan selama beberapa bulan.

Ketika Ratna tahu dirinya hamil, Papa Hendra sedang berada ribuan kilometer dari Indonesia.

Namun waktu itu komunikasi tidak semudah sekarang.

Tidak ada WhatsApp.

Tidak ada video call.

Surat membutuhkan waktu.

Ratna tidak memberi tahu kehamilan itu sampai Papa hampir selesai mengikuti pelatihan.

Ketika Papa pulang, Ratna sudah hamil sekitar lima bulan.

Kepada Papa, dia mengatakan dokter salah menghitung usia kehamilan karena siklus menstruasinya tidak teratur.

Papa percaya.

Dia ingin percaya.

Mereka baru dua tahun menikah.

Papa mencintainya.

Dan ketika Arga lahir, Papa tidak pernah lagi mempertanyakan apa pun.

Surya sendiri menghilang dari kehidupan Ratna setelah pertemuan terakhir mereka.

Namun satu hal tidak cocok.

Kalau hubungan mereka selesai, mengapa namanya masih muncul dalam kehidupan keluarga besar kami puluhan tahun kemudian?

Aku baru menyadarinya ketika Papa mengirim foto keluarga Lebaran tahun lalu.

Di barisan belakang ada seorang pria tua berkacamata yang selama ini kukenal sebagai Om Surya, teman lama keluarga.

Ia pernah datang ke pernikahanku.

Pernah menghadiri syukuran rumah Arga.

Pernah memeluk Arga sambil berkata,

“Kamu sekarang makin mirip laki-laki dewasa.”

Dulu kalimat itu tidak mempunyai arti.

Sekarang terasa seperti pisau.

Namun Papa belum ingin menuduh.

Dia meminta Surya melakukan tes.

Surya menolak.

Katanya tidak ada gunanya mengaduk masa lalu.

Kemudian sesuatu terjadi.

Anak perempuan Surya, Mira, mendengar pertengkaran mereka.

Mira berusia empat puluh delapan tahun.

Ia meminta penjelasan kepada ayahnya.

Setelah mengetahui ceritanya, justru Mira yang berkata,

“Kalau memang Mas Arga mungkin saudara saya, saya juga berhak tahu.”

Mira bersedia menjalani tes hubungan biologis sebagai pembanding.

Papa juga menyerahkan sampelnya.

Hasilnya membutuhkan beberapa hari.

Sementara menunggu, kekacauan di rumahku membesar.

Ratna rupanya sadar bahwa menyerangku secara pribadi tidak lagi cukup.

Ia mulai menelepon keluargaku.

Bibi dari pihak ibuku menerima telepon yang mengatakan aku sedang “menghancurkan pernikahan sendiri karena dekat dengan atasan”.

Sepupuku menerima pesan bahwa aku “tidak bisa memberikan keturunan lalu mencari kambing hitam”.

Tetanggaku bahkan didatangi Ratna secara langsung.

Semuanya punya pola sama.

Dia ingin membuatku terlihat sebagai perempuan bermasalah sebelum kebenaran keluarganya keluar.

Namun kali ini aku tidak diam.

Aku mengumpulkan tangkapan layar.

Menyimpan rekaman.

Mencatat tanggal.

Setiap kali ada fitnah baru, aku memasukkannya ke satu folder.

Aku juga berbicara dengan seorang pengacara keluarga.

Bukan karena aku ingin mengancam siapa pun.

Aku hanya tidak mau lagi memasuki pertarungan tanpa memahami posisiku sendiri.

Tiga hari setelah Arga pergi, dia datang ke rumah.

Sendirian.

Wajahnya kusut.

“Aku mau bicara.”

Aku membiarkannya masuk.

Kami duduk di meja makan yang selama tujuh tahun menjadi tempat kami sarapan, merencanakan cicilan, memilih tujuan liburan, dan kadang membicarakan nama anak yang belum pernah datang.

Arga menatap meja.

“Aku sudah bicara dengan Mama.”

“Bagus.”

“Dia bilang memang pernah dekat dengan Om Surya.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi dia yakin aku anak Papa.”

“Kalau begitu tes DNA seharusnya tidak menakutkan.”

Arga mengusap wajah.

“Kamu tidak mengerti.”

“Apa?”

“Kalau hasilnya buruk, seluruh hidupku berubah.”

Aku memandang laki-laki di depanku.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami sumber ketakutannya.

Bukan hanya soal ayah biologis.

Arga dibesarkan sebagai satu-satunya anak laki-laki Papa Hendra.

Ia memakai nama keluarga itu.

Bekerja di perusahaan distribusi yang sebagian modal awalnya diberikan Papa.

Selama hidup, ia mendengar bahwa semua yang dimilikinya adalah warisan nama baik Santoso.

Sekarang fondasi itu terancam.

“Aku mengerti kamu takut,” kataku.

“Tidak, kamu tidak mengerti.”

“Aku juga takut ketika ibumu menyebarkan tuduhan bahwa aku tidur dengan atasanku.”

Arga mendongak.

“Itu sudah aku suruh Mama hentikan.”

“Setelah berapa banyak orang mendengarnya?”

“Dia cuma panik.”

Aku tersenyum pahit.

“Sekali lagi.”

“Apa?”

“Kamu selalu punya alasan untuknya.”

Arga menundukkan kepala.

Lalu ia berkata sesuatu yang akhirnya menghancurkan sisa belas kasihku.

“Kalau kamu menyerahkan semua dokumen itu kepadaku dan mengatakan kepada Papa bahwa ibumu mungkin salah mencatat, aku akan pulang.”

Aku mengira salah dengar.

“Apa?”

“Kita berhenti.”

Dia menatapku.

“Kamu dan aku. Kita kembali seperti dulu.”

Aku bahkan tidak langsung marah.

Aku hanya merasa sangat kosong.

“Sebagai gantinya aku harus berbohong?”

“Bukan berbohong. Cuma jangan ikut campur.”

“Papa sudah bicara langsung dengan Surya.”

Arga menegang.

“Apa?”

“Surya mengaku pernah mempunyai hubungan dengan ibumu.”

Wajahnya pucat.

“Tapi dia belum mengaku sebagai ayahmu.”

Arga berdiri.

“Kamu menemui dia?”

“Papa.”

“Kenapa Papa harus melakukan ini?”

Aku benar-benar tidak mengenali suamiku lagi.

“Karena mungkin selama hampir empat puluh tahun dia dibohongi.”

“Terus apa? Kalau benar pun mau bagaimana? Cerai umur tujuh puluh?”

Aku menatap Arga.

“Mungkin bukan hasil akhirnya yang paling penting.”

“Terus?”

“Papa berhak mengambil keputusan berdasarkan kebenaran.”

Arga tertawa kasar.

“Kebenaran tidak selalu membuat hidup lebih baik.”

“Memang.”

Aku mengangguk.

“Tapi kebohongan yang dipertahankan dengan menghancurkan orang lain tidak boleh disebut kedamaian.”

Dia menatapku lama.

Kemudian mengambil kunci mobil.

Saat sudah sampai pintu, Arga berkata,

“Kalau hasil tes itu keluar, jangan kirim ke aku.”

Aku menjawab,

“Aku tidak akan.”

Namun hasil itu tidak perlu kukirim.

Dua hari kemudian, Papa memanggil kami semua ke rumahnya.

Aku hampir tidak datang.

Tetapi Papa berkata,

“Saya ingin kamu ada di sini karena semua ini dimulai setelah Ratna menyerangmu. Kamu harus mendengar sendiri bagaimana ini berakhir.”

Ketika aku tiba, Arga sudah duduk di ruang keluarga.

Ratna berada di sofa ujung.

Matanya bengkak.

Papa Hendra berdiri dekat jendela.

Di atas meja terdapat sebuah amplop putih.

Mira, anak perempuan Surya, juga hadir.

Ratna menatapnya seolah melihat hantu.

“Kenapa perempuan itu ada di sini?”

Mira menjawab tenang,

“Karena mungkin saya kakak Arga.”

Ratna langsung berdiri.

“Tidak!”

Papa mengambil amplop.

“Duduk.”

Ratna tidak menurut.

Papa menatapnya.

Empat puluh dua tahun pernikahan seolah berkumpul dalam satu tatapan itu.

“Untuk sekali ini saja, Ratna. Duduk dan jangan berbohong.”

Ratna akhirnya jatuh kembali ke sofa.

Papa membuka hasil laboratorium.

Aku tidak bisa melihat angka dari tempat dudukku.

Tetapi aku melihat wajahnya.

Itu sudah cukup.

Papa memejamkan mata.

Arga mengepalkan tangan.

“Apa hasilnya?”

Papa tidak menjawab.

“Papa.”

Masih diam.

Akhirnya Mira berkata,

“Hasilnya menunjukkan hubungan biologis saudara tiri sangat kuat.”

Arga menatapnya.

“Berapa?”

Mira menyebut angka probabilitas yang tercantum dalam laporan.

Ruangan terasa kehilangan udara.

Arga menoleh kepada Papa.

“Tes Papa?”

Papa meletakkan lembar lain di meja.

“Hasil antara saya dan kamu tidak mendukung hubungan ayah-anak biologis.”

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangisan dramatis.

Arga hanya duduk.

Diam.

Sangat diam.

Kemudian Ratna mulai menangis.

“Hendra…”

Papa mengangkat tangan.

“Jangan.”

“Saya bisa jelaskan.”

“Empat puluh tahun.”

“Hendra…”

“Empat puluh tahun saya membesarkan anak itu.”

Ia menunjuk Arga.

“Dan saya tidak menyesal sedikit pun.”

Arga tiba-tiba mengangkat kepala.

Papa menatapnya.

“Kamu tetap anak saya.”

Arga menggigit bibir.

Untuk sesaat aku mengira inilah titik ketika semuanya mungkin berakhir dengan manusiawi.

Lalu Papa kembali menatap Ratna.

“Yang saya sesali adalah selama empat puluh tahun kamu melihat saya di mata dan membiarkan saya hidup tanpa pilihan.”

Ratna menangis lebih keras.

“Saya takut.”

“Takut?”

Papa tertawa.

“Kamu takut kehilangan rumah? Nama? Hidup nyaman?”

Ratna menggeleng.

“Saya mencintai kamu.”

“Kalau kamu mencintai saya, kenapa sampai minggu lalu kamu masih mengundang Surya ke rumah saya setiap Lebaran?”

Arga mendadak menoleh kepada ibunya.

Pertanyaan itu bahkan belum pernah terpikir olehnya.

Ratna membuka mulut.

Tidak ada suara.

Mira menatap ayahnya yang tidak hadir di sana.

Kemudian Papa mengeluarkan sesuatu dari laci.

Sebuah buku rekening lama.

“Surya memberi tahu saya satu hal lagi.”

Ratna mulai gemetar.

“Setelah Arga lahir, kamu tidak cuma bertemu sekali.”

Papa membuka beberapa halaman.

“Selama sebelas tahun, Surya mentransfer uang setiap tiga bulan ke rekening atas nama sepupumu.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Arga memandang ibunya.

“Uang apa?”

Ratna menangis.

“Untuk kamu.”

Arga berdiri.

“Untuk aku?”

Ratna mengangguk cepat.

“Dia merasa bertanggung jawab.”

Arga tertawa.

Satu kali.

Dingin.

“Jadi kalian semua tahu?”

“Tidak semua.”

“Siapa yang tahu?”

Ratna diam.

Arga berteriak.

“SIAPA YANG TAHU?”

Ratna menyebut dua nama.

Kakak perempuannya.

Dan seorang paman yang selama ini paling sering membanggakan “kehormatan keluarga”.

Arga mundur selangkah.

Seluruh identitas yang ia bela mati-matian mulai runtuh dari arah yang tidak bisa lagi ia tahan.

Tetapi bahkan saat itu, Ratna masih mencoba menyelamatkan dirinya.

Dia menunjukku.

“Semua ini tidak akan terjadi kalau Nadia tidak membongkar masa lalu!”

Aku menatapnya.

Papa membanting buku rekening ke meja.

“Cukup!”

Ratna terdiam.

Namun Arga justru menoleh kepadaku.

Dan di wajahnya aku melihat sesuatu yang membuat dadaku terasa lebih dingin daripada ketika hasil DNA dibacakan.

Bukan rasa bersalah.

Bukan permintaan maaf.

Kemarahan.

“Kamu puas sekarang?”

Aku menatap suamiku.

“Apa?”

“Kamu sudah dapat yang kamu mau.”

Aku tidak percaya.

Arga melangkah mendekat.

“Papa hancur. Mama dipermalukan. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sendiri.”

Aku berdiri.

“Dan kamu masih menyalahkanku?”

“Kamu yang memulai!”

Kalimat itu membuat Papa Hendra menatap anak yang sudah ia besarkan hampir empat puluh tahun dengan wajah kecewa.

Tetapi Arga terus bicara.

“Kalau malam itu kamu diam saja, semuanya masih normal!”

Aku merasakan sesuatu dalam diriku putus.

Bukan cinta.

Cinta mungkin sudah rusak sejak lama.

Yang putus adalah harapan bahwa suatu hari Arga akan mengerti.

Aku mengambil tas.

“Benar.”

Semua orang menatapku.

“Kalau aku diam, semuanya memang masih terlihat normal.”

Aku melihat Ratna.

“Kebohongan tetap utuh.”

Aku melihat Arga.

“Fitnah terhadapku tetap dianggap wajar.”

Kemudian aku melihat Papa.

“Dan orang yang dibohongi terus hidup tanpa mengetahui hidupnya sendiri.”

Aku berjalan menuju pintu.

Arga mengejarku sampai teras.

“Nadia!”

Aku berhenti.

“Kalau kamu keluar sekarang, jangan harap aku pulang ke rumah!”

Aku menatapnya.

“Arga.”

“Apa?”

“Rumah itu bukan satu-satunya tempat yang sudah tidak perlu kamu pulangi.”

Wajahnya berubah.

Aku membuka tas dan mengeluarkan satu map tipis.

Di dalamnya ada surat dari pengacaraku.

Arga mengambilnya.

Membaca judul halaman pertama.

Permohonan mediasi perceraian.

Tangannya langsung turun.

“Kamu serius?”

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.

“Karena ternyata aku tidak menikah dengan laki-laki yang tidak mampu membela istrinya.”

Aku menatap tepat ke matanya.

“Aku menikah dengan laki-laki yang bersedia mengorbankan istrinya selama keluarganya tetap terlihat baik.”

Aku berbalik.

Namun sebelum aku membuka pintu mobil, Arga berteriak dari belakang.

“Kamu akan menyesal!”

Aku tidak menoleh.

Karena tiga hari kemudian, aku justru menemukan bahwa Arga dan Ratna diam-diam sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Mereka mencoba memindahkan uang dari rekening usaha bersama yang selama ini kukelola—

dan jumlahnya bukan puluhan juta.

Melainkan hampir enam ratus juta rupiah.