Dua Hari Setelah Ayahku Dimakamkan, Suamiku Baru Pulang; Saat Ia Hendak Memelukku, Aku Meletakkan Berkas Cerai dan Satu Bukti yang Membuat Wajahnya Pucat Seketika di Atas Meja Ruang Tamu Kami
Bagian 1 — Ketika Arga akhirnya datang dua hari terlambat, aku sudah belajar bahwa kehilangan bisa memutus kebiasaan yang dibangun bertahun-tahun dalam semalam
Dua hari setelah Ayah dimakamkan, Arga akhirnya pulang ke Bandung.
Kemeja hitamnya kusut. Rambutnya berantakan. Matanya merah seperti seseorang yang tidak tidur semalaman.
Begitu pintu terbuka dan dia melihatku duduk di lantai ruang tamu, tangannya langsung terangkat.
Seolah ingin memelukku.
Aku mundur satu langkah.
Tangannya berhenti di udara.
Wajah Arga berubah.
“Nadira…”
Aku tidak menjawab.
Aku kembali membungkus jam meja milik Ayah dengan koran lama, lalu memasukkannya ke dalam kardus.
Arga menelan ludah.
“Kecelakaan sebesar itu terjadi, kenapa kamu tidak meneleponku?”
Tanganku berhenti sebentar.
Luka di telapak tangan masih dibalut perban. Dua belas jahitan belum dilepas. Setiap kali jari-jariku bergerak, kulit terasa tertarik.
“Aku menelepon.”
Arga membeku.
Aku menatapnya untuk pertama kali.
“Tujuh belas kali.”
Bibirnya sedikit terbuka.
“Ponselku—”
“Aku juga menelepon Raka, asistenmu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dari dapur hanya terdengar suara kulkas tua milik Ayah yang sejak tadi berdengung.
Aku melanjutkan dengan suara datar.
“Setelah ambulans membawa kami ke rumah sakit, aku menelepon lagi. Setelah dokter bilang kondisi Ayah kritis, aku menelepon lagi. Bahkan ketika mereka meminta persetujuan operasi, aku masih mencoba menghubungimu.”
Arga menunduk.
Malam itu dia berada di Jakarta.
Bukan untuk rapat.
Bukan untuk urusan darurat perusahaan.
Dia berada di Teater Salihara bersama Selma Maheswari, mantan kekasihnya semasa kuliah.
Malam itu adalah pertunjukan besar pertama Selma setelah hampir delapan tahun berhenti menari karena cedera lutut.
Sekitar pukul sebelas malam, seseorang dari tim pertunjukan mengunggah foto ke Instagram.
Selma duduk di belakang panggung sambil menangis.
Jaket Arga menutupi bahunya.
Sementara Arga berjongkok di depannya, memegang kedua tangannya.
Caption-nya sederhana.
“Beberapa orang memang selalu tahu ke mana harus pulang ketika dunia terasa runtuh.”
Pada saat foto itu diunggah, aku sedang berada di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Darah masih merembes dari perban tanganku.
Ayah berada di ruang operasi.
Seorang perawat bertanya, “Mbak, ada keluarga lain yang bisa dihubungi?”
Aku menatap layar ponsel yang retak.
Nama Arga masih berada paling atas.
Panggilan tidak terjawab.
Aku terdiam begitu lama sampai perawat itu bertanya sekali lagi.
Akhirnya aku menjawab, “Tidak ada.”
Tiga jam kemudian, Ayah meninggal.
Arga menarik napas panjang.
“Selma mengalami serangan panik sebelum tampil. Kondisi lututnya kambuh. Dia hampir membatalkan pertunjukan. Aku hanya—”
Aku mengambil sebuah map cokelat dari meja.
Lalu mendorongnya ke arahnya.
“Tidak perlu menjelaskan.”
Arga melihat tulisan di halaman depan.
PERMOHONAN PERCERAIAN DAN KESEPAKATAN PEMBAGIAN HARTA.
Wajahnya kehilangan warna.
“Nadira.”
“Tanda tangan.”
Dia tidak menyentuh map itu.
Sebaliknya, Arga membalikkan map tersebut, seakan kalau tulisan itu tidak terlihat, masalah kami juga tidak ada.
“Kita ke rumah sakit.”
“Apa?”
“Aku mau lihat hasil pemeriksaanmu. Tanganmu, kepalamu, semuanya. Aku juga mau bicara dengan polisi tentang kecelakaan itu.”
Nada suaranya kembali seperti dulu.
Tegas.
Terbiasa memutuskan.
Dulu aku menyukai sisi itu darinya.
Ketika listrik rumah mati, Arga yang mencari teknisi.
Ketika mobilku mogok, Arga yang datang.
Ketika aku panik menghadapi presentasi besar, dia selalu berkata, “Ada aku.”
Selama bertahun-tahun, dua kata itu terdengar seperti rumah.
Sekarang justru membuat dadaku sesak.
“Sudah selesai.”
“Apa yang selesai?”
“Semuanya.”
Aku berdiri membawa kardus.
“Ayah sudah dimakamkan. Polisi sudah membuat laporan. Tanganku sudah dijahit. Jadi kalau kamu tidak mau tanda tangan hari ini, silakan pergi.”
“Nadira.”
Aku menoleh.
“Jangan panggil namaku dengan nada seperti aku yang membuat masalah.”
Arga diam.
Beberapa detik kemudian dia melepaskan jam tangannya, menggulung lengan kemeja, lalu hendak mengambil kardus dari tanganku.
“Aku bantu.”
Aku menarik kardus itu menjauh.
“Tidak perlu.”
“Nadira, tanganmu luka.”
“Aku bisa.”
“Aku bilang biar aku—”
“Aku bisa!”
Suara itu keluar lebih keras daripada yang kurencanakan.
Arga terdiam.
Aku juga.
Lalu aku tersenyum pahit.
Aneh sekali.
Selama delapan tahun bersama Arga, aku selalu berpikir aku membutuhkan bantuan untuk banyak hal.
Membuka tutup botol.
Membawa koper.
Memasang rak.
Mengantar mobil ke bengkel.
Mengurus dokumen bank.
Aku terbiasa menyerahkan hal-hal kecil kepadanya sampai lupa bahwa sebelum mengenalnya, aku sudah menjalani hidup sendirian selama dua puluh enam tahun.
Ternyata aku tidak pernah tidak mampu.
Aku hanya terlalu terbiasa punya seseorang untuk bersandar.
Dan kebiasaan yang dibangun bertahun-tahun itu hilang dalam satu malam.
Malam ketika jam digital di lorong ICU berubah dari 21.38 menjadi 03.12.
Tidak ada Arga.
Tidak ada tangan yang menggenggamku.
Tidak ada suara yang berkata, “Ada aku.”
Hanya ada dokter yang keluar dari ruang operasi, melepaskan masker, lalu mengatakan bahwa mereka sudah melakukan semua yang mereka bisa.
Malam itu juga aku berhenti menunggu Arga.
Aku membawa kardus ke kamar kerja Ayah.
Rumah kecil itu masih menyimpan aroma kopi hitam dan minyak kayu putih yang selalu dipakainya.
Ayah adalah konsultan struktur sebelum pensiun. Bahkan setelah berhenti bekerja, mejanya masih penuh penggaris baja, kalkulator, buku catatan, dan gambar bangunan.
Arga mengikuti dari belakang.
Saat aku membuka laci paling bawah, sebuah amplop besar jatuh ke lantai.
Di depannya tertulis dengan tulisan tangan Ayah:
UNTUK NADIRA — JANGAN TANDA TANGANI REVISI PROYEK SEBELUM MEMBACA INI.
Jantungku mendadak berdetak lebih cepat.
Arga ikut melihatnya.
Aku membuka amplop.
Di dalamnya ada salinan dokumen pengadaan proyek Pusat Seni Cikapundung, proyek terbesar yang sedang kukerjakan.
Ada tabel harga.
Surat penunjukan vendor.
Salinan perubahan desain.
Dan nama perusahaan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
PT Lestari Panggung Nusantara.
Di sudut kanan sebuah halaman, Ayah membuat lingkaran merah pada nama pemegang saham.
Aku membaca pelan.
Dimas Maheswara.
Aku mengenal nama itu.
Adik kandung Selma.
Arga mendadak maju.
“Nadira, kasih aku lihat.”
Aku mundur.
Untuk pertama kalinya sejak dia datang, ketenangan di wajahnya benar-benar pecah.
Lalu ponsel lama Ayah yang tadi kubawa dari rumah sakit tiba-tiba menyala setelah tersambung charger.
Satu rekaman suara yang belum pernah kubuka muncul di layar.
Dikirim kepada Ayah sendiri malam sebelum kecelakaan.
Aku menekan tombol putar.
Suara Ayah terdengar serak.
“Nadira, kalau besok Ayah belum sempat menjelaskan, jangan setujui perubahan teater itu. Vendor yang dipaksakan Selma bukan perusahaan independen. Ayah sudah cek akta usahanya.”
Aku menatap Arga.
Rekaman masih berjalan.
“Yang paling membuat Ayah khawatir bukan Selma.”
Ada jeda panjang.
Lalu suara Ayah berkata pelan—
“Arga sudah tahu.”
Wajah suamiku langsung pucat.
Dan saat itulah aku sadar, kematian Ayah mungkin memang kecelakaan…
tetapi rahasia yang dibawanya pada malam terakhir hidupnya bukan kebetulan.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #CeritaPerempuan #KisahPenuhEmosi
Bagian 2 — Aku pernah percaya cinta kami cukup kuat, sampai mantan kekasihnya masuk ke proyek terbesar yang kubangun dengan dua tahun hidupku
Sebelum Selma kembali, aku tidak pernah menganggap masa lalu Arga sebagai ancaman.
Arga pernah menceritakan semuanya bahkan sebelum kami menikah.
Selma adalah cinta pertamanya ketika mereka kuliah di Yogyakarta.
Arga mengambil arsitektur.
Selma belajar tari kontemporer.
Mereka berpisah ketika Selma mendapat kesempatan pelatihan di Eropa, lalu mengalami cedera ligamen yang menghentikan kariernya.
Saat itu Arga pernah berkata kepadaku, “Itu sudah selesai.”
Dan aku percaya.
Karena Arga tidak pernah mencintaiku setengah-setengah.
Kami bertemu dalam proyek revitalisasi kawasan lama di Semarang.
Aku masih arsitek junior.
Dia sudah dikenal sebagai anak pemilik perusahaan properti besar.
Enam bulan setelah proyek selesai, dia datang ke kantorku membawa dua gelas kopi dan berkata tanpa basa-basi,
“Kamu selalu menghindar kalau aku ajak makan. Jadi sekarang aku datang tanpa mengajak.”
Begitulah Arga.
Menyebalkan.
Tapi jelas.
Empat tahun kemudian kami menikah.
Aku benar-benar mengira kejelasan itu akan bertahan selamanya.
Sampai lima tahun pernikahan kami, Selma pulang ke Indonesia.
Saat pertama kali melihatnya lagi, bukan di pesta keluarga atau kafe.
Melainkan di ruang rapat proyekku sendiri.
Pusat Seni Cikapundung adalah bekas pabrik tekstil tua yang akan diubah menjadi teater, galeri, perpustakaan, dan ruang komunitas.
Aku menghabiskan hampir dua tahun mengerjakan desainnya.
Selma masuk sebagai konsultan artistik.
Keputusan pertama yang diperdebatkan adalah lorong menuju teater utama.
Aku mempertahankan lorong batu bata sepanjang delapan belas meter agar pengunjung mengalami perubahan dramatis dari ruang sempit menuju aula tinggi bekas pabrik.
Selma ingin semuanya dibongkar.
Katanya penari membutuhkan ruang yang “lebih bernapas”.
Kami berdiskusi cukup keras.
Lalu Arga, yang memimpin rapat, hanya berkata,
“Pakai usulan Selma.”
Aku menatapnya.
“Kalau lorong dibuka, struktur sirkulasinya harus diubah semua.”
“Kita ubah.”
“Biayanya bisa bertambah miliaran.”
Arga menatapku seolah aku hanya salah satu bawahannya.
“Tidak semua keputusan harus selalu sesuai konsep awalmu, Nadira.”
Saat itulah sesuatu mulai berubah.
Sedikit demi sedikit.
Pertemuan makan malam kami dibatalkan karena Selma membutuhkan diskusi.
Akhir pekan kami hilang karena Arga mengantar Selma ke fisioterapi.
Bahkan ulang tahun Ayah yang sudah kami rencanakan sebulan sebelumnya ditinggalkannya karena Selma mengalami nyeri lutut saat latihan.
Aku pernah bertanya, “Kenapa selalu kamu?”
Arga menjawab, “Karena dia tidak punya banyak orang di sini.”
Lucu.
Aku juga tidak punya banyak orang.
Aku hanya tidak pernah berpikir harus mengatakannya.
Setelah mendengar rekaman Ayah, aku tidak bertengkar dengan Arga.
Aku justru menelepon seorang teman lama, Maya, auditor proyek konstruksi.
Selama dua hari kami memeriksa dokumen yang dikumpulkan Ayah.
Harga lantai panggung khusus yang diajukan PT Lestari Panggung Nusantara ternyata hampir dua kali lipat harga pemasok lain.
Perusahaan itu baru berdiri sebelas bulan.
Alamat kantornya sebuah ruko kecil di Depok.
Pemegang saham terbesarnya adalah Dimas Maheswara.
Adik Selma.
Namun ada satu dokumen yang jauh lebih buruk.
Surat rekomendasi penunjukan langsung.
Ditandatangani Arga.
Aku pulang malam itu dan meletakkan salinannya di depan suamiku.
“Kamu tahu?”
Arga diam.
“Kamu tahu perusahaan ini milik keluarga Selma?”
“Aku tahu Dimas terlibat.”
“Kenapa tidak pernah memberitahuku?”
“Karena aku yakin barangnya memenuhi standar.”
Aku tertawa pelan.
“Jadi konflik kepentingan tidak penting?”
“Nadira, jangan campur masalah pernikahan dengan pekerjaan.”
Kalimat itu terasa begitu ironis sampai aku tidak tahu harus marah atau tertawa.
“Yang membawa mantan pacarnya masuk proyek siapa?”
Arga mengepalkan rahangnya.
Lalu aku bertanya satu hal yang selama dua hari menghantuiku.
“Malam kecelakaan, kapan kamu tahu Ayah dan aku masuk rumah sakit?”
Arga tidak menjawab.
Aku mengulanginya.
“Kapan?”
Saat itulah Raka, asistennya, mengirim pesan kepadaku.
Mbak Nadira, saya minta maaf. Saya sudah tidak sanggup menyimpan ini.
Di bawahnya ada tangkapan layar percakapan dengan Arga malam kecelakaan.
22.07.
Raka: Pak, Bu Nadira kecelakaan bersama ayahnya. Kondisi ayahnya kritis. Rumah sakit meminta keluarga datang segera.
22.09.
Arga: Saya tahu. Selma belum stabil. Kamu urus dulu administrasinya. Setelah pertunjukan selesai saya menyusul.
Tanganku mulai dingin.
Aku melihat jam kematian Ayah di surat rumah sakit.
23.41.
Arga sudah tahu lebih dari satu setengah jam sebelumnya.
Dia memilih tetap tinggal.
Bukan karena tidak tahu.
Bukan karena ponselnya mati.
Dia memilih.
Keesokan paginya, rapat direksi proyek digelar.
Aku belum sempat mengeluarkan semua bukti ketika Selma berdiri dan mengatakan aku sudah tidak objektif karena masalah rumah tangga.
Arga kemudian mengumumkan bahwa untuk “menjaga profesionalitas”, posisiku sebagai arsitek utama akan ditangguhkan sementara.
Semua orang terdiam.
Aku menatap laki-laki yang pernah berjanji melindungiku.
“Jadi kamu mencopotku?”
“Hanya sementara.”
“Untuk melindungi proyek?”
“Untuk mencegah keputusan emosional.”
Selma menunduk, menyembunyikan senyum tipisnya.
Aku hampir berdiri ketika pintu ruang rapat terbuka.
Sekretaris komisaris masuk membawa map tebal.
“Maaf, Pak Arga. Sebelum meninggal, Pak Hendra Prasetyo ternyata sudah mengirim permintaan audit independen langsung kepada komisaris.”
Arga membeku.
Sekretaris itu meletakkan map di tengah meja.
“Laporan awalnya baru datang pagi ini.”
Dia membuka halaman pertama.
“Ada dugaan konflik kepentingan, penggelembungan harga, dan perubahan dokumen teknis tanpa persetujuan arsitek utama.”
Kemudian dia menatap Selma.
“Dan hampir seluruh dokumen itu memuat dua nama yang sama.”
Selma mulai pucat.
“Pak Arga Pradana…”
Dia berhenti sejenak.
“…dan Ibu Selma Maheswari.”
Bagian 3 — Saat Arga memilih melindungi Selma di depan semua orang, aku tidak lagi meminta penjelasan; aku hanya memastikan kebenaran datang membawa akibat
Rapat itu berlangsung hampir empat jam.
Untuk pertama kalinya, Arga tidak bisa mengendalikan ruangan hanya dengan nada suaranya.
Tim audit memeriksa kontrak, email, perubahan gambar, sampai aliran pembayaran.
Hasilnya jauh lebih buruk daripada yang kuduga.
Tidak ada bukti bahwa Arga mengambil uang proyek untuk dirinya sendiri.
Namun dia sengaja tidak mengungkap hubungan keluarga antara Selma dan vendor yang dia rekomendasikan.
Lebih parah lagi, beberapa revisi teknis sudah dimasukkan ke dokumen tender menggunakan versi lama tanda tangan digitalku, padahal aku tidak pernah menyetujui perubahan tersebut.
Selma mencoba membela diri.
“Saya hanya memberi rekomendasi artistik.”
Maya langsung membuka sebuah email.
“Kalau begitu, kenapa Ibu menulis kepada adik Ibu bahwa setelah Arga menyetujui revisi, proyek ini akan menjadi kontrak terbesar perusahaan keluarga kalian?”
Selma diam.
Ruangan begitu sunyi sampai suara pendingin udara terdengar jelas.
Komisaris utama kemudian bertanya kepada Arga,
“Apakah Saudara mengetahui hubungan ini?”
Arga menatap meja.
Beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata,
“Ya.”
Hanya satu kata.
Namun cukup menghancurkan semua alasan yang dia buat selama berbulan-bulan.
Keputusan komisaris keluar sore itu.
Kontrak konsultasi Selma dihentikan.
Pengadaan PT Lestari Panggung Nusantara dibatalkan dan dimasukkan dalam evaluasi kepatuhan internal.
Seluruh tender dibuka kembali.
Arga dicopot dari posisi ketua proyek dan diperiksa oleh komite etik perusahaan karena tidak mengungkap konflik kepentingan.
Sedangkan aku?
Aku dikembalikan sebagai arsitek utama setelah audit menyatakan tidak ada satu pun bukti aku memanipulasi dokumen.
Selma keluar dari ruang rapat dengan mata merah.
Di lorong, dia menghentikanku.
“Kamu puas?”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Dia terlihat terkejut.
Aku melanjutkan,
“Ayahku tetap tidak akan kembali. Jadi tidak ada yang bisa membuatku puas.”
Wajahnya berubah.
“Tapi kamu menghancurkan karierku.”
“Bukan aku yang meminta adikmu mendirikan perusahaan. Bukan aku yang menyembunyikan hubungan kalian. Dan bukan aku yang memakai dokumen proyek tanpa persetujuanku.”
Aku berjalan melewatinya.
“Jangan menyerahkan akibat dari keputusanmu kepada orang lain.”
Malamnya, Arga datang ke rumah Ayah.
Untuk pertama kalinya dia tidak mencoba memelukku.
Tidak mencoba menyuruhku pergi ke dokter.
Tidak mencoba mengambil alih apa pun.
Dia hanya duduk di seberang meja dengan map perceraian di tangannya.
“Aku sudah tanda tangan.”
Aku mengangguk.
Arga melihat luka di tanganku.
“Aku tidak berselingkuh dengan Selma.”
“Aku tahu.”
Dia tertegun.
Aku tersenyum kecil.
“Masalahnya bukan apakah kamu tidur dengannya atau tidak.”
Matanya memerah.
“Lalu apa?”
“Ketika aku membutuhkanmu lebih dari kapan pun dalam hidupku, kamu tahu aku ada di rumah sakit.”
Aku menarik napas.
“Dan kamu tetap memilih berada di tempat lain.”
Arga menunduk.
Aku tidak menangis.
Aneh sekali, air mataku sudah habis jauh sebelum percakapan itu terjadi.
“Aku pikir kalau pertunjukan Selma gagal malam itu, dia akan hancur lagi.”
“Dan kamu pikir aku tidak akan?”
Arga tidak mampu menjawab.
Aku menatap foto Ayah di lemari.
“Ayah meninggal sambil menunggu aku sadar setelah operasi. Orang terakhir yang menemaninya bukan suamiku. Perawat bernama Bu Ratih yang bahkan baru mengenalku malam itu yang menggenggam tanganku.”
Bahu Arga bergetar.
“Aku salah.”
“Iya.”
“Aku masih mencintaimu.”
“Mungkin.”
Dia mengangkat kepala.
“Tapi cinta tidak selalu cukup untuk memperbaiki pilihan.”
Perceraian kami resmi empat bulan kemudian.
Aku tidak mengambil rumah besar kami di Jakarta.
Aku menjual bagianku kepada Arga dan menggunakan uangnya untuk mendirikan studio arsitektur kecil bersama Maya dan dua rekan lamaku.
Nama studionya Ruang Hendra.
Nama Ayah.
Sementara proyek Pusat Seni Cikapundung akhirnya selesai setahun kemudian dengan biaya lebih rendah dari revisi yang dulu dipaksakan Selma.
Lorong bata sepanjang delapan belas meter itu tetap dipertahankan.
Pada hari pembukaan, aku berdiri di ujung lorong bersama ratusan pengunjung.
Mereka berjalan dari ruang sempit dan gelap menuju aula utama yang terang, luas, dan penuh cahaya.
Seorang mahasiswa arsitektur yang tidak mengenalku berkata kepada temannya,
“Bagian terbaiknya justru lorong ini. Rasanya seperti keluar dari sesuatu yang menyesakkan.”
Aku terdiam.
Lalu tersenyum.
Mungkin memang begitu.
Beberapa tempat tidak perlu dihancurkan hanya karena pernah membuat kita merasa sempit.
Kadang kita cukup terus berjalan.
Karena di ujungnya ternyata ada ruang yang jauh lebih luas.
Arga pernah datang sekali ke studio baruku.
Dia membawa jam meja milik Ayah yang dulu tertinggal di rumah kami.
Tidak ada bunga.
Tidak ada permintaan untuk kembali.
Dia hanya meletakkannya di meja.
“Aku pikir ini seharusnya ada di sini.”
Aku menerimanya.
“Terima kasih.”
Sebelum pergi, Arga berhenti di pintu.
“Nadira, kamu bahagia?”
Aku melihat sekeliling.
Ada gambar proyek menumpuk di meja.
Ada kopi dingin.
Ada pegawai yang tertawa di ruang sebelah.
Ada foto Ayah di rak.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupku terasa sepenuhnya milikku sendiri.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Arga tersenyum kecil.
Kemudian pergi.
Aku tidak mengejarnya.
Tidak ada lagi payung jatuh di tengah hujan.
Tidak ada lagi seseorang yang harus kutarik kembali karena aku takut kehilangan.
Aku hanya memutar jam meja Ayah agar menghadap ke ruang kerja.
Jarumnya terus bergerak.
Dan kali ini, aku juga.

