Selama Lima Belas Tahun Ayahku Menyelinap ke Rumah Tetangga, Namun di Ulang Tahun Ibu ke-62, Satu Map Cokelat Membuat Keluarga Membeku dan Membongkar Dua Anak yang Selama Ini Kami Kira Bukan Siapa-Siapa

Avatar penulis
Cerita 03
18 menit baca 1,153 tayangan
Indeks

Selama Lima Belas Tahun Ayahku Menyelinap ke Rumah Tetangga, Namun di Ulang Tahun Ibu ke-62, Satu Map Cokelat Membuat Keluarga Membeku dan Membongkar Dua Anak yang Selama Ini Kami Kira Bukan Siapa-Siapa

Bagian 1 — Ibu Selalu Tersenyum Saat Ayah Membantu Tetangga Sebelah, Sampai Aku Menyadari Senyum Itu Bukan Ketidaktahuan, Melainkan Cara Bertahan Tanpa Gaduh

Ayahku berselingkuh dengan perempuan yang tinggal tiga rumah dari rumah kami selama lima belas tahun.

Dan dari hubungan itu, lahir dua anak perempuan.

Yang paling mengerikan bukan kenyataan bahwa Ayah mengkhianati Ibu.

Melainkan kenyataan bahwa selama bertahun-tahun, perempuan yang paling mengetahui semuanya justru tidak pernah berteriak.

Tidak pernah melempar piring.

Tidak pernah mendatangi rumah selingkuhan Ayah.

Tidak pernah mempermalukan siapa pun di depan tetangga.

Ibu hanya tersenyum.

Sampai ulang tahunnya yang ke-62.

Hari itu, aku akhirnya mengerti mengapa Ibu bisa diam begitu lama.

Namaku Dinda Prameswari. Umurku tiga puluh dua tahun dan aku bekerja sebagai pengacara korporasi di Jakarta Selatan.

Ibuku, Ratih Wulandari, pensiunan guru SD.

Ayahku, Hendra Prasetyo, baru pensiun setahun sebelumnya dari sebuah jabatan menengah di Dinas PUPR daerah Bekasi.

Mereka menikah hampir tiga puluh delapan tahun.

Tetapi sejak aku masuk kuliah, mereka tidak lagi tidur sekamar.

Dulu Ibu selalu berkata Ayah mendengkur terlalu keras.

Aku mempercayainya.

Sampai akhirnya aku sadar, dengkuran tidak pernah menjadi alasan sebenarnya.

Semua bermula ketika aku berusia tujuh belas tahun.

Suatu sore, sebuah mobil pikap berhenti di rumah kontrakan tiga pintu dari rumah kami.

Perempuan bernama Maya Kusumawati pindah ke sana.

Usianya ketika itu sekitar awal tiga puluhan. Dia sudah bercerai dan membuka usaha kecil menjahit seragam sekolah dari rumah.

Dua hari setelah Maya pindah, Ayah sudah berdiri di depan rumahnya membantu memperbaiki talang bocor.

Seminggu kemudian, Ayah memanggil tukang untuk memperbaiki listrik di rumah Maya.

Sebulan kemudian, aku melihat Ayah mengantar Maya ke pasar menggunakan mobil kantor.

Ketika aku menceritakannya kepada Ibu, beliau hanya tertawa kecil.

“Bapakmu memang suka membantu orang.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Sekarang, setiap mengingatnya, aku merinding.

Setahun kemudian, Maya melahirkan seorang bayi perempuan bernama Alya.

Katanya, anak itu berasal dari hubungan singkat dengan mantan suaminya sebelum mereka benar-benar berpisah.

Tetangga tidak banyak bertanya.

Aku juga tidak.

Tetapi Ayah tiba-tiba menjadi orang yang paling sibuk.

Dia membelikan stroller.

Membawakan susu formula.

Mengantar Maya ke dokter anak.

Bahkan pernah meninggalkan acara keluarga kami hanya karena Maya menelepon mengatakan Alya demam.

“Aku cuma membantu,” katanya ketika Ibu bertanya.

Ibu tidak berdebat.

Beliau hanya mengangguk.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat bantal Ayah dipindahkan ke kamar kerja.

Tiga tahun kemudian, Maya melahirkan anak perempuan kedua.

Namanya Keisha.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada laki-laki yang datang mengaku sebagai ayah.

Tetapi Ayah membawakan gelang emas mungil untuk bayi itu.

Aku melihat kotaknya di mobil.

Ketika kutanya untuk siapa, Ayah menjawab cepat, “Anak teman kantor.”

Dua hari kemudian gelang yang sama terlihat di tangan Keisha.

Saat itu usiaku dua puluh satu tahun.

Aku sudah cukup dewasa untuk memahami sesuatu yang selama ini berusaha kutolak.

Aku pulang dan masuk ke dapur.

Ibu sedang mengiris bawang.

“Ayah punya hubungan dengan Bu Maya, ya?”

Pisau di tangan Ibu berhenti.

Hanya satu detik.

Kemudian bergerak lagi.

“Ibu sedang masak opor. Tolong ambil santannya.”

Aku berdiri diam.

“Ibu dengar pertanyaanku?”

“Dengar.”

“Terus?”

Ibu menatapku.

Tatapan beliau tenang sekali.

“Kalau suatu hari kamu sudah menjadi pengacara sungguhan, kamu akan belajar satu hal. Mengetahui sesuatu dan bisa membuktikan sesuatu adalah dua perkara berbeda.”

Aku tak pernah melupakan kalimat itu.

Setelah hari itu, aku mulai memperhatikan.

Ayah membayar biaya masuk TK Alya.

Ayah membelikan Keisha sepeda.

Saat Alya masuk SMP swasta, orang yang membayar uang gedung bukan Maya.

Aku tahu karena suatu malam struk transfer tertinggal di atas meja kerja Ayah.

Rp18.750.000.

Nama penerima: sekolah Alya.

Nama pengirim: Hendra Prasetyo.

Aku memotretnya.

Bukan karena Ibu meminta.

Aku hanya marah.

Tetapi ketika kutunjukkan foto itu, Ibu hanya berkata, “Simpan.”

Tidak ada air mata.

Tidak ada makian.

Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti sandiwara yang terlalu rapi.

Di acara Idul Fitri, Maya datang membawa nastar.

Ibu menerimanya sambil tersenyum.

Saat Keisha khitan—tentu tidak ada, she’s girl. Wait no. Need fix. Let’s write birthday.

Saat Keisha berulang tahun kesepuluh, Ayah pulang terlambat dengan alasan rapat.

Aku kemudian melihat foto dari status WhatsApp salah satu tetangga.

Ayah berdiri di belakang Keisha sambil memegang kue.

Maya berada di sebelahnya.

Mereka tampak seperti keluarga.

Sementara malam itu Ibu makan sendirian di meja makan.

Aku duduk di depannya, menahan tangis.

“Ibu, sampai kapan?”

Beliau menyendok sayur bening ke mangkukku.

“Sampai Ibu selesai.”

“Selesai apa?”

Ibu tersenyum.

“Kamu makan dulu.”

Dua tahun lalu, sesuatu berubah.

Ayah mulai berbicara soal menjual rumah kami.

Katanya rumah terlalu besar untuk dua orang tua.

Dia ingin pindah ke rumah kecil dan menggunakan sisanya untuk “investasi”.

Ibu menolak.

Rumah kami memang dibeli setelah mereka menikah, jadi secara hukum persoalannya tidak sesederhana Ayah menjual sendiri lalu membawa seluruh uangnya.

Karena pekerjaanku, aku langsung curiga.

Apalagi Ayah mulai sering bertanya soal sebidang tanah dan rumah toko kecil di Cirebon yang diwarisi Ibu dari kakek.

Properti itu milik Ibu dari warisan keluarganya.

Ayah berkali-kali berkata, “Daripada kosong, jual saja.”

Ibu selalu menjawab, “Nanti.”

Suatu sore tahun lalu, laptop lama Ayah rusak.

Dia memintaku menyelamatkan dokumen kerjanya.

Aku menemukan folder yang tidak pernah ingin kulihat.

Namanya hanya satu huruf.

“M.”

Di dalamnya ada foto-foto Ayah dan Maya.

Bukti transfer selama bertahun-tahun.

Pembayaran sekolah.

Biaya rumah sakit.

Cicilan motor.

Renovasi rumah Maya.

Dan dua file PDF dari sebuah laboratorium swasta.

Aku membuka file pertama.

Nama anak: Alya Kusumawati.

Nama pihak yang diuji: Hendra Prasetyo.

Kesimpulan menunjukkan kecocokan biologis sebagai ayah dengan probabilitas lebih dari 99 persen.

Tanganku dingin.

Aku membuka file kedua.

Keisha.

Hasilnya sama.

Lebih buruk lagi, ada percakapan yang tersimpan dari cadangan aplikasi pesan.

Maya menulis:

“Setelah kamu pensiun, kita tidak mungkin terus begini. Alya dan Keisha juga berhak tahu siapa ayah mereka.”

Ayah membalas:

“Beri aku waktu sampai ulang tahun Ratih tahun depan. Setelah itu aku akan selesaikan semuanya.”

Maya bertanya:

“Rumahnya bagaimana?”

Ayah menjawab:

“Aku usahakan dijual. Ratih nanti tinggal sama Dinda saja.”

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Mereka bukan hanya merencanakan masa depan bersama.

Ayah sudah menentukan ke mana Ibu harus pergi.

Aku langsung membawa laptop itu kepada Ibu.

Beliau membaca seluruh percakapan.

Lama sekali.

Aku menunggu beliau menangis.

Tidak.

Ibu hanya mengambil sebuah flashdisk dari laci.

“Salin semuanya.”

Aku menatapnya.

“Ibu sudah tahu?”

“Sebagian.”

“Sejak kapan?”

“Sejak Alya berumur tiga bulan.”

Aku merasa seperti baru saja dipukul.

“Berarti hampir empat belas tahun?”

Ibu mengangguk.

“Kenapa Ibu diam?”

Untuk pertama kalinya, senyumnya hilang.

“Karena dulu kamu masih kuliah. Ibu masih mengajar. Nenekmu sakit. Dan Bapakmu punya kekuasaan, uang, kenalan, serta kebiasaan membuat Ibu merasa tidak akan bisa hidup tanpa dia.”

Beliau menarik napas.

“Tapi orang yang sabar bukan berarti orang yang tidak membuat persiapan.”

Setelah malam itu, Ibu mulai meminta bantuanku mengecek dokumen.

Aku tidak pernah bertanya apa rencana akhirnya.

Sampai tiga minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-62.

Ibu menyebarkan undangan makan malam keluarga.

Kepada adik Ayah.

Kepada kakak Ibu.

Kepada dua sahabat lama mereka.

Dan kemudian beliau melakukan sesuatu yang membuatku terpaku.

Ibu sendiri mengetuk pintu rumah Maya.

Aku melihatnya dari teras.

Maya membuka pintu dengan wajah tegang.

Ibu menyerahkan sebuah undangan.

“Datanglah bersama Alya dan Keisha.”

Maya pucat.

“Bu Ratih…”

“Tidak usah takut.”

Ibu tersenyum.

“Sudah lima belas tahun kita bertetangga. Masa ulang tahun saya saja tidak datang?”

Pada malam ulang tahun itu, meja makan penuh.

Ada nasi tumpeng.

Ayam bakar.

Sambal goreng ati.

Kue ulang tahun sederhana dengan angka 62.

Ayah terlihat paling gelisah ketika Maya datang bersama Alya dan Keisha.

Alya sudah empat belas tahun.

Keisha sebelas.

Keduanya memanggil Ibu dengan sopan.

“Tante Ratih.”

Ibu memeluk mereka.

Dan justru itulah yang membuat Ayah semakin pucat.

Setelah semua selesai makan, Ayah berdiri untuk memberi ucapan.

Namun Ibu mengangkat tangan.

“Tunggu, Pak.”

Beliau berjalan menuju lemari.

Mengambil sebuah map cokelat tebal.

Meletakkannya tepat di depan Ayah.

“Aku juga punya hadiah ulang tahun untuk diriku sendiri.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ibu membuka map itu.

Lalu mengeluarkan dua lembar hasil pemeriksaan DNA.

Ayah tidak bergerak.

Maya langsung menunduk.

Paman Bayu, adik Ayah, mengambil salah satu lembar.

“Apa ini, Mas?”

Ibu menjawab sebelum Ayah sempat membuka mulut.

“Bukti bahwa Alya dan Keisha adalah anak kandung suami saya.”

Sendok seseorang jatuh ke lantai.

Keisha mulai menangis.

Aku hendak berdiri, tetapi Ibu menggeleng pelan.

Beliau lalu mengeluarkan satu dokumen lagi.

Kali ini bukan hasil laboratorium.

Melainkan cetakan percakapan Ayah.

Termasuk kalimat:

“Rumahnya akan kujual. Ratih nanti tinggal sama Dinda.”

Ibu mendorong kertas itu ke depan Ayah.

“Sekarang, Pak Hendra…”

Suara Ibu tetap lembut.

“…jelaskan kepada semua orang kenapa kamu sudah merencanakan tempat tinggalku sebelum sempat memberitahuku bahwa kamu punya keluarga kedua.”

Ayah membuka mulut.

Namun sebelum satu kata keluar, Ibu mengambil amplop putih terakhir dari dalam map.

Aku mengenali stempel pada pojoknya.

Dan saat Ayah melihatnya, wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Ratih…” bisiknya.

Ibu meletakkan amplop itu tepat di depan tangannya.

“Belum selesai.”

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #PerempuanTegar #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Di Ulang Tahun ke-62, Ibu Mengundang Dua Keluarga Sekaligus, Lalu Membuka Bukti yang Membuat Ayah Kehilangan Suara di Depan Semua Orang

Ayah tidak berani menyentuh amplop putih itu.

“Apa ini?”

Ibu menarik kursi lalu duduk.

“Buka.”

Tangan Ayah gemetar ketika menarik kertas di dalamnya.

Aku sudah tahu isinya.

Dua hari sebelumnya, aku menemani Ibu menyerahkan berkas melalui pengacaranya.

Permohonan perceraian.

Dan dokumen awal untuk penyelesaian harta bersama.

Ayah menatap Ibu seperti orang yang baru menyadari lantai di bawah kakinya sudah hilang.

“Kamu mau menceraikan aku?”

Ibu tersenyum tipis.

“Bukan mau.”

Beliau menunjuk dokumen itu.

“Sudah mulai.”

Maya tiba-tiba berdiri.

“Bu Ratih, saya bisa jelaskan.”

Ibu menoleh.

“Apa yang ingin kamu jelaskan?”

Maya menangis.

“Saya salah. Tapi Alya dan Keisha tidak salah.”

“Ibu tahu.”

Jawaban Ibu begitu cepat hingga Maya terdiam.

Ibu melihat kedua anak itu.

“Kalian duduk saja. Tante tidak akan mempermalukan kalian.”

Alya menutup mulut menahan tangis.

Keisha memeluk kakaknya.

Kemudian Ibu menatap Ayah lagi.

“Yang saya tuntut bertanggung jawab adalah orang dewasa yang membuat keputusan.”

Ayah mulai marah.

Mungkin karena malu.

Mungkin karena semua kendali yang selama ini dia miliki tiba-tiba tidak berguna.

“Kamu sengaja mengatur semua ini supaya aku dipermalukan!”

“Tidak.”

Ibu mengangkat gelas air.

“Aku mengatur semua ini supaya tidak ada lagi orang yang bisa mengatakan aku mengarang cerita.”

Ayah menatapku.

“Kamu membantu ibumu?”

Aku membalas tatapannya.

“Aku membantu memastikan dokumennya benar.”

“Kamu anakku!”

“Dan Ibu juga ibuku.”

Ayah membanting telapak tangan ke meja.

“Masalah suami istri jangan dicampuri anak!”

Ibu tertawa kecil.

Itu pertama kalinya malam itu beliau benar-benar tertawa.

“Menarik. Ketika ingin menjual rumah dan menyuruhku tinggal dengan Dinda, kamu tidak merasa sedang mencampurkan anak.”

Ayah terdiam.

Lalu dia menyerang bagian yang mungkin selama ini membuatnya percaya diri.

“Kalau kita cerai, kamu pikir kamu bisa hidup bagaimana? Pensiun guru berapa? Biaya rumah? Obat? Kehidupan sehari-hari?”

Aku mengepalkan tangan.

Namun Ibu justru terlihat semakin tenang.

“Aku sudah menghitung.”

Beliau mengeluarkan map biru.

Di dalamnya ada laporan rekening.

Sewa ruko warisan kakek di Cirebon selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah dipakai Ibu untuk belanja rumah.

Uangnya disimpan dan diinvestasikan secara konservatif.

Ada deposito.

Obligasi pemerintah ritel.

Tabungan pensiun.

Jumlahnya tidak fantastis.

Tetapi cukup untuk membuat Ibu hidup mandiri.

“Aku tidak pernah meminta uang ini darimu,” kata Ibu. “Karena ini berasal dari warisan orang tuaku dan hasil pengelolaannya.”

Wajah Ayah berubah.

Mungkin baru malam itu dia sadar bahwa perempuan yang dia anggap bergantung padanya ternyata sudah lama memiliki pintu keluar sendiri.

Tetapi kejutan terbesar belum datang.

Ibu mengeluarkan sebuah foto rumah kecil.

Rumah satu lantai dengan halaman mungil dan pohon mangga.

“Aku membeli rumah ini delapan bulan lalu menggunakan uang warisanku. Bulan depan aku pindah.”

Ayah berdiri.

“Kamu membeli rumah tanpa bilang aku?”

Ibu menatapnya.

“Lucu sekali mendengar kalimat itu dari seseorang yang punya dua anak tanpa bilang istrinya.”

Tidak ada seorang pun di meja yang bersuara.

Bahkan aku hampir ingin bertepuk tangan.

Kemudian Maya tiba-tiba bertanya, “Terus rumah ini bagaimana?”

Semua orang menoleh kepadanya.

Maya sadar pertanyaannya terdengar salah.

Wajahnya memerah.

“Maksud saya… rumah tempat Bu Ratih tinggal sekarang.”

Ibu memandangnya cukup lama.

“Mengapa kamu ingin tahu?”

Maya tidak menjawab.

Ibu membuka satu lembar percakapan lain.

Ayah pernah menulis kepada Maya:

“Kalau Ratih sudah pindah ke rumah Dinda, rumah besar itu bisa kita tempati. Kamu tidak perlu kontrak lagi.”

Maya langsung menangis.

“Aku kira rumah itu atas nama Pak Hendra.”

“Tidak sepenuhnya.”

Aku akhirnya bicara.

“Rumah ini diperoleh selama perkawinan. Ayah tidak bisa begitu saja berjanji memberikannya kepada siapa pun seolah-olah seluruhnya milik pribadi.”

Ayah membentak, “Diam!”

Ibu mengangkat telapak tangannya.

“Biarkan dia bicara. Kamu selama ini sangat suka membuat rencana menggunakan hak orang lain.”

Paman Bayu mulai memaki Ayah.

Namun Ibu meminta semua orang tenang.

“Saya tidak mengadakan makan malam ini untuk keributan.”

Beliau menatap Maya.

“Dan saya tidak akan menuntut anak-anakmu menjauh dari ayah biologis mereka. Itu bukan hak saya.”

Alya menatap Ibu dengan mata bengkak.

“Tante membenci kami?”

Ibu menghela napas.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Ibu menatap Ayah.

“Karena anak tidak memilih bagaimana mereka dilahirkan.”

Kalimat itu membuat Maya menutup wajah.

Tetapi kemudian Ibu mengubah nada suaranya.

“Namun ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Maya.”

Ibu mengeluarkan tumpukan mutasi rekening.

Selama lima tahun terakhir, Ayah telah mengirim uang dalam jumlah besar kepada Maya.

Bukan hanya uang sekolah.

Ada transfer Rp70 juta.

Rp45 juta.

Rp120 juta.

Bahkan satu transfer Rp180 juta enam bulan sebelum pensiun.

Totalnya membuat semua orang tercengang.

Maya menatap angka itu.

“Sebagian untuk renovasi rumah.”

Ibu mengangguk.

“Betul.”

Lalu Ibu mengeluarkan satu lembar kuitansi.

“Dan uang Rp180 juta ini?”

Maya pucat.

Ayah langsung merebut kertas itu.

Aku sempat melihat keterangannya.

Uang muka rumah di sebuah cluster baru di Tambun.

Atas nama Maya Kusumawati.

Maya menoleh kepada Ayah.

“Pak Hendra bilang uang itu dari tabungan pribadinya.”

Ibu menatap mereka bergantian.

“Masalahnya bukan rumah yang kamu beli, Maya.”

Beliau kemudian menggeser satu lembar dokumen kepada Ayah.

“Masalahnya, uang Rp180 juta itu ditarik dari deposito yang selama ini dibentuk dari dana penjualan aset bersama kita.”

Ayah langsung berdiri.

“Kamu tidak bisa membuktikan—”

“Bisa.”

Aku memotong.

“Kami punya alur transaksinya.”

Ruangan kembali membeku.

Ibu belum meninggikan suara sedikit pun.

Tetapi wajah Ayah sudah basah oleh keringat.

Beliau merapikan map.

“Semua ini akan diselesaikan melalui jalur hukum. Aku tidak meminta lebih dari hakku.”

Ayah menatap Maya, seolah berharap perempuan itu membelanya.

Namun untuk pertama kalinya, Maya justru mundur satu langkah.

“Pak Hendra…”

“Apa?”

“Rumah cluster itu…”

“Apa lagi?”

Maya menggigit bibir.

“Masih ada cicilan hampir Rp600 juta.”

Ayah membeku.

“Apa?”

Maya mulai menangis lebih keras.

“Bapak bilang setelah pensiun akan bantu melunasi.”

Ayah menatapnya seperti tidak percaya.

Maya melanjutkan dengan suara pelan.

“Dan bank baru menghubungi saya kemarin.”

“Ada apa?”

“Mereka menolak restrukturisasi kedua.”

Ruangan sunyi.

Kemudian Maya mengucapkan kalimat yang membuat wajah Ayah berubah total.

“Kalau bulan depan tidak dibayar, rumah itu bisa masuk proses penanganan kredit bermasalah.”

Ayah jatuh kembali ke kursinya.

Selama bertahun-tahun dia merencanakan hidup baru.

Ternyata hidup baru itu bahkan belum lunas.

Namun Ibu masih belum selesai.

Beliau memandang Ayah dan berkata,

“Besok pagi, ada satu tempat lagi yang harus kamu datangi.”

Ayah menelan ludah.

“Ke mana?”

Ibu menutup map cokelat.

“Ke kantor pengacara.”

Lalu tatapannya menjadi dingin.

“Karena ada beberapa transfer lain yang bahkan Maya sendiri belum tahu.”

Bagian 3 — Ayah Mengira Ibu Hanya Ingin Mempermalukannya, Sampai Surat Pengadilan dan Rekening Lama Membuktikan Siapa yang Sebenarnya Sudah Menyiapkan Jalan Keluar

Pagi berikutnya, Ayah tidak datang ke kantor pengacara.

Dia pergi ke rumah Maya.

Aku tahu karena Maya menelepon Ibu sekitar pukul sembilan.

Mereka bertengkar.

Bukan karena cinta.

Karena uang.

Ternyata selama beberapa tahun terakhir Ayah selalu menggambarkan dirinya sebagai orang yang jauh lebih kaya daripada keadaan sebenarnya.

Kepada Maya dia mengaku rumah kami akan menjadi miliknya.

Dia mengatakan ruko warisan Ibu nanti “pasti ikut dibagi”.

Dia bahkan berjanji membantu kuliah Alya sampai lulus dan membeli mobil setelah Keisha masuk SMA.

Masalahnya sederhana.

Ayah membuat terlalu banyak janji menggunakan uang yang bukan sepenuhnya miliknya.

Setelah pensiun, penghasilannya turun drastis.

Tabungannya juga tidak sebesar yang dibayangkan Maya.

Sebagian sudah habis untuk biaya hidup dua keluarga.

Sebagian masuk ke cicilan rumah.

Sebagian lagi berada dalam transaksi yang harus diperhitungkan ketika pembagian harta bersama dilakukan.

Tiga hari setelah ulang tahun Ibu, Ayah akhirnya datang menemui pengacara.

Dia mencoba meminta damai.

Bukan kembali sebagai suami.

Dia meminta Ibu membatalkan proses hukum soal pembagian aset.

“Aku setuju cerai,” katanya. “Tapi rumah jangan dijual.”

Ibu bertanya, “Kenapa?”

Ayah tidak menjawab.

Aku tahu alasannya.

Kalau rumah dijual dan hak masing-masing dihitung sesuai proses hukum, impian Ayah menyerahkan rumah itu kepada Maya lenyap.

Ibu menatapnya.

“Pak Hendra, tiga puluh delapan tahun aku menjadi istrimu. Aku memasak ketika kamu sakit. Menemani ibumu di rumah sakit. Menabung ketika gajimu terlambat. Membayar kebutuhan Dinda ketika kamu bilang uang sedang sempit.”

Ayah menunduk.

“Kamu tidak pernah kekurangan.”

Ibu tersenyum pahit.

“Itu selalu kalimatmu.”

Beliau membuka buku catatan lama.

Ternyata sejak empat belas tahun lalu, Ibu mencatat hampir semua pengeluaran rumah.

Bukan untuk membalas dendam.

Awalnya karena beliau guru dengan gaji yang terbatas dan harus mengatur uang.

Namun catatan itu akhirnya menjadi gambaran yang menyakitkan.

Pada tahun ketika Ayah mengatakan tidak sanggup membayar les bahasa Inggrisku, dia membayar uang sekolah Alya.

Saat Ibu menunda memperbaiki atap bocor karena “keuangan sedang sulit”, Ayah mentransfer uang untuk renovasi dapur Maya.

Ketika Ibu menjual dua gelang emas milik nenek demi membantu biaya kuliahku, Ayah membelikan ponsel baru untuk Maya.

Aku membaca catatan itu sambil menangis.

“Ibu kenapa tidak pernah bilang?”

Beliau menepuk tanganku.

“Karena saat itu tugasmu belajar, bukan menyelesaikan pernikahan orang tuamu.”

Pada akhirnya, proses perceraian berjalan.

Tidak selesai dalam sehari.

Tidak sesederhana sebuah adegan televisi.

Ada pertemuan.

Ada dokumen.

Ada proses mediasi.

Ada hari-hari ketika Ayah marah.

Ada hari-hari ketika dia memohon.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ibu tidak mundur.

Beliau tidak meminta seluruh harta.

Tidak mencoba mengambil hak anak-anak Maya.

Tidak menyebarkan aib Ayah ke media sosial.

Beliau hanya meminta pembagian yang wajar atas harta bersama dan mempertahankan apa yang memang berasal dari warisannya.

Beberapa bulan kemudian, kesepakatan mengenai aset akhirnya tercapai melalui proses hukum dan negosiasi para pihak.

Rumah lama kami dijual.

Setelah kewajiban dan bagian masing-masing diselesaikan, Ibu menerima haknya.

Ayah menerima haknya.

Tetapi bagian Ayah tidak bertahan lama.

Dia masih harus menghadapi cicilan rumah Maya.

Biaya sekolah Alya.

Kebutuhan Keisha.

Dan gaya hidup yang selama lima belas tahun dia bangun berdasarkan asumsi bahwa akan selalu ada rumah, tabungan, serta seorang istri yang diam.

Maya akhirnya menjual rumah cluster itu sebelum masalah kreditnya menjadi lebih buruk.

Dia pindah bersama kedua anaknya ke rumah yang lebih kecil.

Hubungannya dengan Ayah juga tidak berubah menjadi kehidupan romantis yang selama ini mereka bayangkan.

Tanpa rahasia, pertemuan sembunyi-sembunyi, hadiah, dan janji masa depan, mereka mulai menghadapi kehidupan sebenarnya.

Tagihan.

Sekolah.

Obat.

Biaya rumah.

Dan dua orang dewasa yang mulai saling menyalahkan.

Aku tidak pernah merasa senang melihat Alya dan Keisha kesulitan.

Mereka tidak bersalah.

Bahkan beberapa bulan setelah perceraian selesai, Alya pernah datang menemui Ibu.

Dia membawa sekotak bolu.

“Tante…”

Dia menangis sebelum sempat bicara.

“Saya minta maaf.”

Ibu mempersilahkannya masuk.

“Kamu tidak perlu minta maaf atas kesalahan orang tuamu.”

Alya menunduk.

“Ayah bilang Tante membenci kami.”

Ibu tertawa kecil.

“Bapakmu memang suka berbicara mewakili orang lain.”

Sejak hari itu, Alya beberapa kali datang.

Tidak sering.

Tetapi hubungan mereka tidak buruk.

Keisha masih canggung.

Wajar.

Hidupnya juga berubah setelah mengetahui laki-laki yang selama ini dia panggil “Om Hendra” ternyata ayah kandungnya.

Ayah sendiri?

Dia menyewa rumah kecil sekitar dua puluh menit dari tempat tinggal Maya.

Mereka tidak menikah.

Setidaknya sampai sekarang.

Suatu hari Ayah meneleponku.

“Ayah kehilangan semuanya.”

Aku diam cukup lama.

Kemudian berkata, “Ayah masih punya dua anak yang membutuhkan Ayah. Mungkin sekarang waktunya berhenti menganggap tanggung jawab sebagai kehilangan.”

Dia tidak menjawab.

Telepon berakhir beberapa detik kemudian.

Sedangkan Ibu pindah ke rumah kecil yang beliau beli dengan uang warisannya.

Rumahnya sederhana.

Dua kamar.

Satu ruang tamu.

Dapur kecil.

Di halaman belakang, beliau menanam cabai, pandan, serai, dan dua pohon melati.

Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, Ibu membeli tempat tidur besar hanya untuk dirinya sendiri.

Tidak ada kamar kerja Ayah.

Tidak ada telepon tengah malam.

Tidak ada suara motor berhenti diam-diam di depan rumah tetangga.

Pada ulang tahunnya yang ke-63, aku datang membawa kue yang sama seperti tahun sebelumnya.

Kali ini hanya ada aku, Ibu, beberapa teman lama beliau, dan keluarga dekat.

Ketika lilin dinyalakan, aku bertanya,

“Ibu mau membuat permintaan apa?”

Beliau tertawa.

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

Ibu memandang rumah kecilnya.

Kemudian melihat bunga melati di halaman.

“Apa yang Ibu mau sudah ada.”

Aku menggoda, “Rumah baru?”

Beliau menggeleng.

“Bukan.”

Lalu beliau mengambil secangkir teh dan duduk di teras.

“Pagi yang tidak membuat Ibu takut membuka ponsel.”

Aku terdiam.

Ternyata setelah tiga puluh delapan tahun menikah, kebahagiaan yang dicari Ibu bukan kemenangan besar.

Bukan melihat Ayah miskin.

Bukan melihat Maya menderita.

Bukan pula membuat seluruh kampung mengetahui perselingkuhan mereka.

Ibu hanya ingin bangun tidur tanpa harus bertanya-tanya kebohongan apa yang akan datang hari itu.

Aku duduk di sebelahnya.

“Ibu, waktu ulang tahun ke-62 itu… kenapa harus mengundang semuanya?”

Beliau tersenyum.

“Karena Bapakmu sudah lima belas tahun membuat cerita bahwa Ibu terlalu bodoh untuk tahu.”

“Terus?”

Ibu menyeruput tehnya.

“Sekali seumur hidup, Ibu ingin dia melihat wajah orang-orang ketika mereka tahu siapa yang sebenarnya sudah mengetahui semuanya.”

Aku tertawa.

“Ibu kejam juga.”

Beliau menepuk lenganku.

“Bukan kejam.”

Ibu melihat ke halaman.

“Hanya terlambat marah.”

Angin sore membawa aroma melati masuk ke teras.

Aku memandang perempuan berusia enam puluh tiga tahun di sampingku dan akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun kami mengira diamnya adalah kelemahan.

Padahal Ibu tidak diam karena tidak tahu.

Dia diam karena sedang menunggu sampai memiliki cukup bukti, cukup uang, cukup keberanian, dan cukup jalan keluar untuk pergi tanpa harus kembali.

Dan ketika akhirnya dia berdiri…

Ibu tidak menghancurkan hidup siapa pun.

Dia hanya berhenti membiarkan orang lain menghancurkan hidupnya.