KAKAKKU MEMATAHKAN BIOLAKU TEPAT SEBELUM PENAMPILAN TERBESAR DALAM HIDUPKU—HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN GAUN BARUKU KEPADANYA. DIA KIRA MASA DEPANKU SUDAH HANCUR… TAPI TAK LAMA KEMUDIAN, DIA JUSTRU MEMOHON AGAR AKU MENYELAMATKAN MASA DEPANNYA.

Avatar penulis
Cerita 04
18 menit baca 356 tayangan
KAKAKKU MEMATAHKAN BIOLAKU TEPAT SEBELUM PENAMPILAN TERBESAR DALAM HIDUPKU—HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN GAUN BARUKU KEPADANYA. DIA KIRA MASA DEPANKU SUDAH HANCUR… TAPI TAK LAMA KEMUDIAN, DIA JUSTRU MEMOHON AGAR AKU MENYELAMATKAN MASA DEPANNYA.
Indeks

KAKAKKU MEMATAHKAN BIOLAKU TEPAT SEBELUM PENAMPILAN TERBESAR DALAM HIDUPKU—HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN GAUN BARUKU KEPADANYA. DIA KIRA MASA DEPANKU SUDAH HANCUR… TAPI TAK LAMA KEMUDIAN, DIA JUSTRU MEMOHON AGAR AKU MENYELAMATKAN MASA DEPANNYA.

Kakakku mematahkan biolaku di atas lututnya, tepat sebelum penampilan terbesar dalam hidupku.

Lalu dia tersenyum melihat kayu biola itu terbelah di lantai ruang ganti.

“Mungkin sekarang kamu belajar supaya jangan egois.”

Selama beberapa detik, aku bahkan lupa caranya bernapas.

Namaku Nadira Prameswari.

Biola itu bukan sekadar alat musik.

Itu milik almarhum Kakek.

KAKAKKU MEMATAHKAN BIOLAKU TEPAT SEBELUM PENAMPILAN TERBESAR DALAM HIDUPKU—HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN GAUN BARUKU KEPADANYA. DIA KIRA MASA DEPANKU SUDAH HANCUR… TAPI TAK LAMA KEMUDIAN, DIA JUSTRU MEMOHON AGAR AKU MENYELAMATKAN MASA DEPANNYA.

Kakeklah yang mengajariku memainkan tangga nada pertama ketika aku masih kecil. Dia yang berkali-kali membetulkan posisi tanganku, mengingatkanku supaya tidak mengangkat bahu saat memainkan nada tinggi, dan duduk berjam-jam mendengarkan latihan yang mungkin terdengar mengerikan bagi orang lain.

Sebelum meninggal, Kakek menyerahkan biola itu kepadaku.

Katanya hanya satu.

“Kalau suatu hari kamu berdiri di panggung besar, jangan bermain untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Mainkan karena kamu mencintai musik.”

Dan malam itu seharusnya menjadi malam yang dimaksud Kakek.

Aku dijadwalkan tampil sebagai pemain solo bersama sebuah orkestra muda ternama di Jakarta dalam konser gala di gedung pertunjukan kawasan Senayan.

Di antara para undangan ada donatur seni, musisi senior, jurnalis budaya, dan beberapa perwakilan sekolah musik yang selama bertahun-tahun menjadi impianku.

Aku sudah berlatih berbulan-bulan untuk malam itu.

Lalu kakakku, Cynthia, menghancurkan biola peninggalan Kakek hanya karena satu gaun.

Gaun hijau zamrud yang sedang dia pegang di depan tubuhnya.

“Kamu punya banyak baju, Nadira,” katanya sambil memandang dirinya di cermin.

“Aku juga bisa bilang hal yang sama tentang kamu.”

“Tapi yang ini lebih bagus kalau aku yang pakai.”

“Gaun itu dibuat khusus untuk penampilanku malam ini.”

Wajah Cynthia langsung berubah.

Dia memang seperti itu sejak dulu.

Bagi Cynthia, kata “tidak” bukanlah jawaban.

Itu penghinaan.

Dan orang tuaku memastikan dia tumbuh dengan keyakinan tersebut.

Saat kecil, kalau Cynthia menginginkan hadiah ulang tahunku, Mama berkata,

“Berbagi sama kakak sendiri itu nggak akan bikin kamu rugi.”

Ketika dia ingin memakai kamar tidurku karena kamarku lebih luas, Papa mengatakan aku harus mengalah.

“Kamu lebih pengertian daripada kakakmu.”

Saat Cynthia meminjam uang dan tidak pernah mengembalikannya, Mama justru tersinggung ketika aku menanyakannya.

“Masalah uang sama saudara sendiri kok dihitung?”

Aku selalu diminta menjadi orang yang mengerti.

Aku yang mengalah.

Aku yang diam.

Aku yang harus menjaga suasana keluarga.

Tapi biola Kakek?

Tidak.

Itu berbeda.

Cynthia membungkuk dan mengambil salah satu bagian biola yang patah dengan dua jarinya.

Dia mengangkatnya seolah sedang memegang barang rongsokan.

“Ya sudah.”

Dia tersenyum tipis.

“Sekarang kamu nggak bisa tampil.”

Aku menatapnya.

Mama berdiri di ambang pintu ruang ganti.

Aku berharap, setidaknya untuk sekali ini, dia akan marah kepada Cynthia.

Dia melihat biola yang terbelah di lantai.

Kemudian melihatku.

Lalu menghela napas.

“Nadira, jangan bikin keributan di sini.”

Aku sampai tidak yakin apakah aku mendengarnya dengan benar.

“Apa?”

“Cynthia cuma kehilangan kontrol.”

Mama menurunkan suaranya.

“Kamu tahu sendiri kakakmu gampang emosi.”

Aku menatap Mama tanpa berkedip.

“Dia menghancurkan biola Kakek.”

“Nanti kita bicarakan di rumah.”

“Biola itu nilainya lebih dari satu miliar rupiah.”

Cynthia tertawa.

“Serius?”

Dia menunjuk potongan kayu di lantai.

“Barang tua punya Kakek itu?”

Aku tidak menjawab.

Dan justru di situlah mereka melakukan kesalahan pertama.

Mereka mengira diamku berarti aku kalah.

Kesalahan kedua mereka jauh lebih besar.

Mereka mengira biola itu satu-satunya cara agar aku bisa naik ke atas panggung malam itu.

Ponselku bergetar di meja rias.

Sebuah pesan masuk dari Maestro Adrian Santoso, konduktor malam itu.

Nadira, lima menit lagi. Kamu siap?

Cynthia melihat layar ponselku.

“Bilang saja kamu sakit.”

Aku tidak membalasnya.

Aku berlutut.

Mengambil kedua bagian biola Kakek dengan hati-hati.

Tanganku gemetar ketika meletakkannya kembali ke dalam kotak beludru.

Untuk sesaat, aku hanya menatap benda itu.

Ada luka kecil di bagian kayu tempat Kakek dulu pernah memperbaikinya sendiri.

Aku masih mengingat tangannya.

Aku masih ingat suara tawanya saat aku memainkan nada yang salah.

Dadaku terasa sesak.

Tapi aku menutup kotak itu.

Menguncinya.

Lalu berdiri.

Mama mengernyit.

“Kamu mau ke mana?”

Aku mengambil ponselku.

“Ke panggung.”

Senyum Cynthia perlahan menghilang.

“Pakai apa?”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia mematahkan biolaku…

aku tersenyum.

“Pakai biola yang bahkan kamu nggak tahu keberadaannya.”

Cynthia terdiam.

Dua tahun sebelumnya, aku mengikuti sebuah kompetisi musik kamar internasional di Eropa.

Aku tidak menang juara pertama.

Tapi penampilanku menarik perhatian seorang perempuan Indonesia bernama Eleanor Hartono, kolektor seni sekaligus salah satu patron utama beberapa program musik klasik.

Kami hanya berbicara sebentar setelah konser.

Aku mengira pertemuan itu akan berhenti di sana.

Ternyata tidak.

Beberapa minggu kemudian, aku menerima tawaran yang hampir kukira sebagai penipuan.

Sebuah program sponsorship pribadi.

Eleanor ingin mendukung karierku.

Bukan dengan uang tunai.

Dengan sebuah instrumen.

Sebuah biola Italia antik dari awal abad ke-18 yang biasanya hanya dipinjamkan kepada musisi tertentu untuk konser besar.

Nilainya?

Lebih dari Rp140 miliar.

Aku bahkan takut menyentuhnya saat pertama kali melihatnya.

Instrumen itu tidak pernah kubawa pulang.

Untuk konser besar seperti malam itu, pihak yayasan mengatur pengiriman, asuransi, dan pengamanan khusus.

Dan malam itu…

biola tersebut sudah berada di belakang panggung.

Dijaga petugas keamanan.

Menungguku.

Wajah Cynthia berubah.

Untuk pertama kalinya, dia tampak tidak tahu harus berkata apa.

Tapi seperti biasa, Cynthia cepat mencari sesuatu yang masih bisa membuatnya merasa menang.

Dia mengangkat gaun hijau zamrudku.

“Ya sudah.”

Dia tersenyum mengejek.

“Tapi sekarang kamu nggak punya gaun.”

Aku berjalan melewatinya.

“Pakai saja.”

Cynthia berkedip.

“Apa?”

“Gaunnya.”

Aku berhenti di depan pintu.

“Ambil.”

Senyumnya kembali.

Wajahnya langsung berubah puas.

Seolah seluruh pertengkaran tadi akhirnya membuktikan bahwa dia tetap mendapatkan apa yang dia inginkan.

Mama bahkan terlihat lega.

“Nah, begitu dong. Kalian saudara. Nggak perlu semuanya dibesar-besarkan.”

Aku tidak menjawab.

Aku berjalan keluar dari ruang ganti dengan pakaian latihan hitam sederhana yang masih kukenakan.

Di ujung lorong, seorang staf yayasan sudah menungguku bersama dua petugas keamanan.

Salah satu dari mereka membawa sebuah kotak biola.

Aku mengenal kotak itu.

Semua amarah di dalam dadaku mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tenang.

Cynthia mengira dia sudah menang.

Dia mengira telah menukar satu biola tua dengan gaun mahal.

Dia bahkan tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, kamera keamanan di lorong ruang ganti telah merekam dirinya memasuki ruangan dengan marah.

Dia tidak tahu bahwa kotak biola Kakek sudah terdaftar dalam polis asuransi khusus.

Dan yang paling penting…

dia tidak tahu siapa yang sebenarnya membeli gaun hijau zamrud yang sekarang sedang dia kenakan dengan bangga.

Gaun itu bukan kubeli dengan uangku sendiri.

Itu merupakan bagian dari paket penampilan yang disediakan oleh yayasan milik Eleanor Hartono.

Ada kontrak peminjaman.

Ada nilai pertanggungjawaban.

Dan ada satu syarat yang sangat jelas:

Pakaian tersebut hanya boleh dikenakan oleh musisi yang dikontrak untuk konser malam itu.

Aku belum sempat memberi tahu Cynthia.

Aku juga belum sempat memberitahunya bahwa dia baru saja mengunggah foto dirinya memakai gaun tersebut ke media sosial.

Beberapa menit kemudian, saat aku sedang memegang biola senilai lebih dari Rp140 miliar di belakang panggung, ponselku mulai bergetar tanpa henti.

Cynthia menelepon.

Aku membiarkannya.

Dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Kemudian sebuah pesan masuk.

NADIRA, ANGKAT TELEPON SEKARANG.

Pesan kedua muncul.

Ada orang dari yayasan nyari aku.

Lalu pesan ketiga.

Kali ini hanya empat kata.

Tolong aku. Aku serius.

Aku menatap layar.

Beberapa menit sebelumnya, kakakku menghancurkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku dan tersenyum melihatku menangis.

Sekarang…

dia sedang memohon agar aku menyelamatkannya.

Dan dia belum tahu bahwa masalah gaun itu bahkan bukan masalah terbesarnya.

Karena seseorang baru saja membuka rekaman CCTV dari lorong ruang ganti.

Aku tidak mengangkat telepon Cynthia.

Bukan karena ingin membalas dendam.

Aku hanya sedang memegang sebuah biola yang nilainya lebih besar daripada rumah keluarga kami, sementara seorang staf yayasan berdiri di sampingku dan Maestro Adrian Santoso menungguku di balik tirai.

Aku tidak punya ruang untuk menyelamatkan Cynthia dari masalah yang dia buat sendiri.

“Nadira?”

Aku mengangkat kepala.

Maestro Adrian berdiri beberapa langkah dariku.

Tatapannya turun ke pakaian latihan hitam yang masih kukenakan.

“Gaunmu?”

“Sedikit masalah keluarga.”

Dia menatapku beberapa detik.

Mungkin dia melihat mataku yang merah.

Mungkin dia melihat tanganku yang masih gemetar.

Tapi dia tidak bertanya.

“Bisa bermain?”

Aku melihat kotak biola di hadapanku.

“Bisa.”

“Yakin?”

Aku menarik napas.

“Tidak.”

Dia mengangkat alis.

Aku tersenyum tipis.

“Tapi saya tetap akan bermain.”

Untuk pertama kalinya malam itu, seseorang tersenyum kepadaku bukan karena merasa menang.

Maestro Adrian mengangguk.

“Itu jawaban seorang musisi.”

Seorang staf membantuku membuka kotak.

Ketika biola antik itu berada di tanganku, seluruh suara di lorong seperti menghilang.

Aku membayangkan Kakek.

Bukan biola Kakek yang patah.

Bukan wajah Cynthia.

Bukan Mama yang menyuruhku diam.

Aku mengingat sore-sore sederhana ketika Kakek duduk di kursi rotan dekat jendela rumahnya, mengetukkan pensil ke meja setiap kali temponya salah.

“Jangan lawan musiknya, Nadira.”

Begitu katanya.

“Dengarkan dulu. Baru jawab.”

Malam itu aku akhirnya mengerti.

Aku tidak perlu melawan Cynthia.

Aku hanya perlu menjawab.

Dengan caraku sendiri.

Aku berjalan ke panggung.

Ketika namaku diumumkan, tepuk tangan memenuhi gedung pertunjukan.

Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang baru saja terjadi.

Mereka tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya aku berlutut memungut potongan biola peninggalan orang yang paling berjasa dalam hidupku.

Mereka hanya melihat seorang perempuan dengan pakaian hitam sederhana berjalan menuju tengah panggung sambil membawa biola luar biasa.

Aku berdiri di bawah cahaya.

Maestro Adrian mengangkat baton.

Orkestra mulai bermain.

Lalu giliranku tiba.

Nada pertama keluar.

Tanganku berhenti gemetar.

Nada kedua.

Aku berhenti memikirkan Cynthia.

Nada ketiga.

Aku berhenti memikirkan gaun.

Kemudian musik mengambil alih.

Aku memainkan setiap bagian seolah sedang berbicara kepada Kakek.

Semua rasa marah yang tidak pernah kuucapkan.

Semua tahun ketika aku diminta mengalah.

Semua ulang tahun ketika barangku diberikan kepada Cynthia.

Semua uang yang tidak pernah dikembalikan.

Semua kalimat, “Kamu kan lebih dewasa.”

Semua itu keluar melalui biola.

Ketika nada terakhir berhenti, ruangan menjadi sunyi.

Bukan sunyi yang buruk.

Sunyi yang membuat jantungmu hampir berhenti karena ratusan orang seakan lupa bernapas bersama.

Kemudian seseorang berdiri.

Disusul orang lain.

Dalam beberapa detik, hampir seluruh ruangan memberikan standing ovation.

Aku menunduk.

Dan aku menangis.

Bukan karena Cynthia.

Karena Kakek seharusnya ada di sana.


Begitu turun dari panggung, aku melihat Eleanor Hartono.

Dia berdiri di lorong bersama dua pengurus yayasan.

Perempuan itu sudah melewati usia enam puluh, tapi caranya menatap orang masih membuat siapa pun otomatis memperbaiki postur tubuh.

Dia memelukku.

“Luar biasa.”

“Terima kasih.”

Kemudian dia mundur.

“Nadira, sekarang kita perlu bicara tentang apa yang terjadi di ruang ganti.”

Dadaku langsung menegang.

“Cynthia?”

Eleanor mengangguk.

“Dan biola kakekmu.”

Aku membeku.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Petugas keamanan melihat rekaman CCTV setelah staf mendengar keributan.”

Dia berhenti sebentar.

“Kami juga menemukan pecahan instrumenmu.”

Aku menunduk.

“Itu milik Kakek.”

“Aku tahu.”

Suara Eleanor berubah lebih lembut.

“Dan aku ikut prihatin.”

Sebelum aku sempat menjawab, terdengar suara langkah cepat.

“Nadira!”

Cynthia muncul dari ujung lorong.

Gaun hijau itu masih melekat di tubuhnya.

Di belakangnya ada Mama.

Cynthia langsung mendekat.

“Akhirnya!”

Aku menatapnya.

“Kamu meneleponku?”

“Suruh mereka berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Jangan pura-pura nggak tahu.”

Cynthia menunjuk salah satu pengurus yayasan.

“Mereka bilang gaun ini aset yayasan. Mereka mau bikin laporan segala macam.”

Eleanor menjawab dengan tenang.

“Kami tidak mengatakan akan melaporkan Anda karena mengenakan gaun itu.”

Cynthia berhenti.

“Lalu?”

“Kami meminta Anda melepaskannya karena Anda tidak memiliki izin untuk menggunakannya.”

Wajah Cynthia memerah.

“Ya sudah! Aku kembalikan!”

“Bagus.”

“Berarti selesai.”

Eleanor menatapnya.

“Tidak.”

Lorong mendadak sunyi.

Cynthia menelan ludah.

“Apalagi?”

“Biola.”

Cynthia tertawa gugup.

“Itu urusan keluarga.”

“Tidak sepenuhnya.”

Aku menatap Eleanor.

Dia menjelaskan bahwa yayasan telah membantu mengasuransikan instrumen Kakek untuk transportasi dan penyimpanan selama rangkaian konser.

Artinya, kerusakan tersebut harus dilaporkan.

Dan karena kerusakannya disengaja…

perusahaan asuransi akan meminta penjelasan.

Cynthia langsung menoleh kepadaku.

“Nadira.”

Aku diam.

“Katakan itu kecelakaan.”

Aku benar-benar tidak percaya.

“Kecelakaan?”

“Iya.”

Mama akhirnya ikut bicara.

“Nadira, dengarkan Mama dulu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Cynthia salah. Mama tahu.”

Itu mungkin pertama kalinya dalam hidupku aku mendengar Mama mengatakan kalimat itu.

Tapi ternyata ada lanjutannya.

“Tapi kalau masalah ini dibawa keluar, bisa menghancurkan hidup kakakmu.”

Aku hampir tertawa.

“Dia mematahkan biolaku dengan sengaja.”

“Dia emosi.”

“Dia mengancamku sebelum melakukannya.”

“Dia kakakmu.”

Aku menatap Mama.

Kalimat itu.

Lagi.

Selalu itu.

Aku mengangguk perlahan.

“Benar.”

Mama tampak lega.

Lalu aku melanjutkan.

“Dan aku adiknya.”

Wajah Mama berubah.

“Kenapa selama ini kalimat itu cuma berlaku satu arah?”

Tidak ada jawaban.

Aku memandang Cynthia.

“Waktu kamu mengambil hadiah ulang tahunku, aku adikmu.”

Aku memandang Mama.

“Waktu kamar tidurku diberikan kepadanya, aku anak Mama.”

Kembali ke Cynthia.

“Waktu uangku dipinjam dan nggak dikembalikan, aku keluargamu.”

Aku menunjuk ke arah ruang ganti.

“Tapi waktu kamu menghancurkan barang terakhir yang ditinggalkan Kakek untukku, kapan aku dianggap keluarga?”

Cynthia tidak menjawab.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Tapi aku mengenal tangisan Cynthia.

Biasanya air mata muncul ketika konsekuensi akhirnya mengetuk pintu.

“Aku bisa kehilangan pekerjaan,” katanya.

Aku mengernyit.

“Apa hubungannya dengan pekerjaanmu?”

Dan saat itulah sesuatu berubah.

Cynthia menatap Mama.

Mama langsung membuang pandangan.

Aku melihat keduanya.

“Apa yang kalian sembunyikan?”

“Nggak ada,” jawab Mama terlalu cepat.

“Ma.”

“Nadira, sekarang bukan waktunya.”

Justru kalimat itu membuatku tahu ada sesuatu.

Cynthia bekerja sebagai manajer hubungan klien di sebuah perusahaan event premium di Jakarta.

Dia sudah berbulan-bulan mengejar promosi menjadi kepala divisi.

Lalu aku melihat gaun hijau itu.

Foto yang dia unggah.

Konser.

Para donatur.

Tiba-tiba semuanya terasa aneh.

“Kenapa kamu datang malam ini?”

Cynthia mengernyit.

“Untuk nonton kamu.”

“Jangan bohong.”

Dia terdiam.

“Kamu bahkan nggak suka musik klasik.”

“Nadira…”

“Kenapa kamu begitu ngotot ingin gaunku?”

Tidak ada yang menjawab.

Kemudian sebuah suara muncul dari belakang.

“Karena malam ini dia punya janji dengan saya.”

Kami semua menoleh.

Seorang pria berkacamata berdiri beberapa meter dari kami.

Aku mengenalnya.

Bram Wicaksono.

Salah satu pengurus yayasan.

Juga direktur perusahaan hospitality yang rutin mengadakan gala amal dan acara korporat besar.

Cynthia pucat.

“Pak Bram…”

Dia berjalan mendekat.

“Saya kira Anda datang sebagai tamu Nadira.”

Cynthia membuka mulut.

Tidak ada suara.

Bram melanjutkan.

“Tapi tadi siang Anda menghubungi asisten saya dan meminta waktu lima menit setelah konser untuk membicarakan proposal event perusahaan kami.”

Aku menatap Cynthia.

Akhirnya aku mengerti.

Gaun itu.

Konser itu.

Dia tidak datang untukku.

Dia datang karena tahu orang-orang penting akan berada di sana.

Dan gaun hijau tersebut membuatnya terlihat seperti bagian dari lingkungan yang ingin dia masuki.

“Jadi kamu mau pakai gaunku untuk ketemu calon klien?”

“Nadira, dengar dulu.”

“Makanya kamu begitu marah ketika aku bilang tidak?”

“Aku sedang mengejar kesempatan besar!”

“Dan penampilanku bukan kesempatan besar?”

Cynthia diam.

Bram menghela napas.

“Proposal Anda sebenarnya cukup bagus.”

Cynthia menatapnya penuh harapan.

“Tapi setelah melihat rekaman tadi, saya tidak bisa berpura-pura tidak tahu.”

“Pak Bram, itu masalah pribadi.”

“Betul.”

Dia mengangguk.

“Tapi cara seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak mendapatkan keinginannya juga memberi tahu saya bagaimana dia mungkin menangani konflik profesional.”

Cynthia langsung kehilangan kata-kata.

Bram tidak menghina.

Tidak berteriak.

Dia hanya berkata,

“Pertemuan kita tidak perlu dilanjutkan.”

Lalu dia pergi.

Cynthia berdiri membeku.

Aku akhirnya mengerti pesan yang dikirimnya.

Tolong aku.

Dia tidak meminta diselamatkan dari masalah gaun.

Dia ingin aku berbohong tentang rekaman supaya calon kliennya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Mama memegang lenganku.

“Nadira, kamu masih bisa memperbaiki ini.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Bukan aku yang merusaknya.”


Aku tidak mengajukan tuntutan pidana terhadap Cynthia.

Bukan karena Mama meminta.

Bukan karena Cynthia menangis.

Itu pilihanku sendiri.

Tapi aku juga tidak berbohong.

Aku memberikan pernyataan jujur kepada pihak asuransi.

Rekaman CCTV disimpan.

Biola Kakek dikirim ke ahli restorasi.

Kerusakannya parah, tetapi ternyata masih mungkin diperbaiki.

Biayanya sangat besar.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cynthia tidak punya Mama dan Papa yang bisa membuat akibat perbuatannya menghilang begitu saja.

Pihak asuransi menuntut penggantian sesuai proses mereka.

Cynthia harus mengambil tanggung jawab finansial.

Promosi yang dia kejar tidak terjadi.

Bukan karena aku menelepon kantornya.

Aku tidak pernah melakukannya.

Tapi karena proyek besar yang dia harapkan dari Bram gagal.

Beberapa minggu setelah konser, Cynthia datang ke apartemenku.

Sendirian.

Tidak ada Mama.

Tidak ada Papa.

Dia membawa sebuah kotak kecil.

Aku hampir tidak membukakan pintu.

“Aku cuma mau lima menit.”

Aku membiarkannya masuk.

Untuk pertama kalinya, Cynthia tidak terlihat seperti kakakku yang biasanya.

Tidak ada pakaian mahal.

Tidak ada parfum kuat.

Tidak ada nada bicara yang seolah semua orang harus mengikuti keinginannya.

Dia duduk.

“Aku mulai terapi.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi aku diam.

“Aku tahu itu nggak menghapus apa yang kulakukan.”

Aku masih diam.

“Aku juga tahu aku selalu menganggap kamu akan mengalah.”

Dia tersenyum pahit.

“Karena semua orang memang mengajariku begitu.”

Aku menatapnya.

“Jangan salahkan Mama dan Papa untuk semuanya.”

“Aku nggak.”

Matanya mulai basah.

“Justru itu yang sedang kupelajari.”

Kalimat itu membuatku memperhatikannya.

Cynthia mendorong kotak kecil di meja.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada sebuah benda yang langsung kukenal.

Potongan kecil kayu dari biola Kakek.

Bagian yang tidak bisa dipasang kembali saat restorasi.

“Aku minta restorator menyimpannya.”

Aku menyentuh potongan itu.

Cynthia menunduk.

“Aku tahu aku nggak bisa mengembalikan malam itu.”

Suaranya pecah.

“Aku juga nggak bisa mengembalikan Kakek.”

Dia mengusap air matanya.

“Tapi aku akan membayar semua yang menjadi tanggung jawabku. Berapa lama pun.”

Aku tidak memeluknya.

Tidak mengatakan semuanya baik-baik saja.

Karena belum.

Memaafkan bukan tombol.

Hubungan juga bukan barang pecah yang cukup dilem lalu dianggap seperti baru.

Tapi sebelum Cynthia pergi, aku berkata,

“Terima kasih sudah datang tanpa membawa Mama.”

Dia tertawa kecil sambil menangis.

“Mungkin itu kemajuan pertamaku.”

“Mungkin.”


Beberapa bulan kemudian, biola Kakek kembali.

Garis restorasinya masih terlihat.

Aku bisa saja menyembunyikannya.

Tapi aku meminta restorator tidak melakukannya.

Aku ingin bekas itu tetap ada.

Bukan sebagai pengingat Cynthia.

Sebagai pengingat bahwa sesuatu yang rusak tidak selalu kehilangan suaranya.

Pada konser pertamaku setelah biola itu kembali, aku tidak memakai Stradivarius.

Aku membawa biola Kakek.

Sebelum naik ke panggung, Eleanor bertanya,

“Yakin?”

Aku mengangguk.

“Sangat yakin.”

Malam itu aku memainkan karya yang dulu pertama kali diajarkan Kakek kepadaku.

Tidak sempurna.

Biola itu terasa sedikit berbeda setelah restorasi.

Suaranya juga berubah.

Lebih tua.

Lebih kasar di beberapa nada.

Tapi tetap hidup.

Setelah konser, aku menerima sebuah amplop dari petugas depan.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas.

Tulisan tangannya langsung kukenal.

Aku duduk di baris paling belakang.

Aku nggak mau kamu merasa harus mengundangku.

Aku cuma ingin mendengar biola Kakek hidup lagi.

Aku bangga padamu.

— Cynthia

Aku berdiri lama sambil memegang surat itu.

Kemudian aku berlari keluar.

Orang-orang sudah mulai meninggalkan gedung.

Mobil berdatangan.

Aku mencari ke kanan dan kiri.

Lalu aku melihatnya.

Cynthia sedang berjalan menuju parkiran.

“Cynthia!”

Dia berhenti.

Menoleh.

Aku mendekatinya.

Dia terlihat gugup.

“Kalau kamu marah aku datang, aku—”

Aku memeluknya.

Dia langsung diam.

Beberapa detik kemudian, aku merasakan lengannya memelukku kembali.

“Aku belum melupakan semuanya,” bisikku.

“Aku tahu.”

“Dan kepercayaan itu butuh waktu.”

“Aku tahu.”

“Tapi kalau kamu benar-benar mau berubah…”

Aku mundur dan menatapnya.

“…jangan duduk di baris paling belakang lain kali.”

Cynthia menangis.

Kali ini aku juga.

Lalu dia tertawa di antara air matanya.

“Berarti aku boleh datang lagi?”

“Boleh.”

Dia menarik napas.

“Dan boleh pinjam bajumu?”

Aku menatapnya tajam.

Cynthia langsung mengangkat kedua tangan.

“Bercanda! Bercanda.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami tertawa tanpa ada salah satu dari kami yang harus kalah agar yang lain merasa menang.

Tapi cerita itu ternyata belum selesai.

Beberapa hari kemudian, aku menerima telepon dari Eleanor.

“Aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Kamu ingat malam gala itu?”

“Tentu.”

“Ada tiga direktur konservatori yang hadir.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Salah satunya menghubungiku.”

Aku tidak berani berharap.

Eleanor melanjutkan.

“Mereka bukan cuma terkesan dengan permainanmu.”

Aku terdiam.

“Mereka mendengar tentang apa yang terjadi sebelum kamu naik panggung. Mereka tahu instrumenmu dihancurkan beberapa menit sebelum pertunjukan.”

Aku menutup mata.

“Mereka menawarkanmu fellowship selama dua tahun.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Kesempatan yang selama bertahun-tahun kuimpikan ternyata datang dari malam yang sempat kukira akan menghancurkan hidupku.

Tapi Eleanor belum selesai.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Biola Stradivarius itu.”

Aku tertawa gugup.

“Jangan bilang saya merusaknya.”

“Tidak.”

Eleanor tertawa.

“Pemiliknya menonton rekaman konser.”

Aku menunggu.

“Dia ingin memperpanjang peminjaman kepadamu selama masa fellowship.”

Aku duduk perlahan.

Air mataku jatuh sebelum aku sempat menghentikannya.

Dan tiba-tiba aku memikirkan kalimat Cynthia malam itu.

Sekarang kamu nggak bisa tampil.

Dia salah.

Bukan karena aku memiliki biola lain.

Bukan karena ada orang kaya yang menolongku.

Bukan karena akhirnya aku mendapatkan kesempatan besar.

Dia salah karena selama bertahun-tahun kami semua mengira masa depanku bergantung pada sesuatu yang bisa direbut, dipatahkan, atau diberikan kepada orang lain.

Sebuah kamar.

Uang.

Gaun.

Bahkan sebuah biola.

Ternyata tidak.

Kakek sudah mencoba mengajariku itu sejak aku masih kecil.

Instrumen memang penting.

Kesempatan juga penting.

Tapi musik tidak pernah berada di dalam kayu.

Musik berada di dalam orang yang memainkannya.

Dan keluarga?

Aku akhirnya belajar bahwa mencintai keluarga bukan berarti membiarkan mereka menghancurkan batasmu.

Memaafkan seseorang juga tidak berarti menghapus konsekuensi perbuatannya.

Kadang cinta berarti berkata tidak.

Kadang cinta berarti membiarkan seseorang menghadapi akibat dari pilihannya.

Dan kadang…

cara terbaik menyelamatkan orang yang kita sayangi adalah berhenti menyelamatkan mereka setiap kali mereka melakukan kesalahan.

Cynthia membutuhkan waktu untuk memahami itu.

Aku juga.

Setahun kemudian, saat aku kembali ke Jakarta untuk sebuah konser, aku melihat Cynthia duduk di antara penonton.

Bukan di belakang.

Baris ketiga.

Dia membeli tiketnya sendiri.

Di sampingnya duduk Mama.

Hubunganku dengan Mama belum sepenuhnya pulih.

Tapi malam itu, ketika mata kami bertemu, dia tidak meminta apa pun dariku.

Dia hanya tersenyum.

Dan bertepuk tangan.

Aku mengangkat biola Kakek.

Bekas retakannya masih terlihat di bawah cahaya panggung.

Dulu aku malu melihat garis itu.

Sekarang tidak lagi.

Karena akhirnya aku tahu:

Bekas luka bukan selalu bukti bahwa sesuatu telah hancur.

Kadang itu adalah bukti bahwa sesuatu pernah patah… tetapi memilih untuk tetap bersuara.

Aku meletakkan biola di bahuku.

Di baris ketiga, Cynthia mengusap air matanya.

Aku tersenyum kepadanya.

Lalu aku mulai bermain.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun di keluargaku yang memintaku mengecilkan suaraku agar orang lain bisa merasa lebih besar.