SUAMIKU DATANG KE PENGADILAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIA YAKINI TAK MUNGKIN DIKALAHKAN, SELINGKUHANNYA YANG TAMPIL SEMPURNA, DAN KEYAKINAN PENUH BAHWA DIA AKAN MEMBAWA PULANG HAMPIR SELURUH HARTA KAMI SEKALIGUS MENDAPATKAN HAK ASUH PENUH ATAS ANAK KEMBAR KAMI.

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 391 tayangan
SUAMIKU DATANG KE PENGADILAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIA YAKINI TAK MUNGKIN DIKALAHKAN, SELINGKUHANNYA YANG TAMPIL SEMPURNA, DAN KEYAKINAN PENUH BAHWA DIA AKAN MEMBAWA PULANG HAMPIR SELURUH HARTA KAMI SEKALIGUS MENDAPATKAN HAK ASUH PENUH ATAS ANAK KEMBAR KAMI.
Indeks

SUAMIKU DATANG KE PENGADILAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIA YAKINI TAK MUNGKIN DIKALAHKAN, SELINGKUHANNYA YANG TAMPIL SEMPURNA, DAN KEYAKINAN PENUH BAHWA DIA AKAN MEMBAWA PULANG HAMPIR SELURUH HARTA KAMI SEKALIGUS MENDAPATKAN HAK ASUH PENUH ATAS ANAK KEMBAR KAMI.

Lalu hakim membuka dokumen asli pendirian perusahaan.

Dia membaca nama pertama yang tercantum sebagai pemilik.

Kemudian dia menatap suamiku dan mengajukan satu pertanyaan.

Dalam hitungan detik, wajah suamiku kehilangan seluruh warnanya.

Hari itu hujan turun deras di Jakarta Selatan.

SUAMIKU DATANG KE PENGADILAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIA YAKINI TAK MUNGKIN DIKALAHKAN, SELINGKUHANNYA YANG TAMPIL SEMPURNA, DAN KEYAKINAN PENUH BAHWA DIA AKAN MEMBAWA PULANG HAMPIR SELURUH HARTA KAMI SEKALIGUS MENDAPATKAN HAK ASUH PENUH ATAS ANAK KEMBAR KAMI.

Ketika sidang perceraian sekaligus perselisihan hak asuh kami dimulai, ruang sidang sudah hampir penuh.

Perceraian kami rupanya telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan bisnis.

Bukan karena aku terkenal.

Tapi karena suamiku, Arga Mahendra, adalah CEO PT Mahendra Logistik Nusantara, perusahaan transportasi dan distribusi yang beberapa tahun terakhir berkembang sangat cepat.

Nama Arga sering muncul di media bisnis.

Dia diwawancarai tentang kepemimpinan.

Diundang menjadi pembicara seminar.

Difoto saat menerima penghargaan.

Orang-orang mengenalnya sebagai pengusaha sukses yang membangun perusahaan dari nol.

Sedangkan aku?

Publik hampir tidak tahu apa pun tentangku.

Namaku Nadira Prameswari.

Selama dua belas tahun pernikahan kami, aku selalu berdiri beberapa langkah di belakang Arga.

Aku hadir di acara perusahaan.

Duduk di sampingnya dalam jamuan makan malam.

Tersenyum ketika fotografer meminta kami melihat kamera.

Ketika wartawan bertanya tentangku, mereka biasanya hanya menulis:

“Istri Arga Mahendra, seorang ibu rumah tangga.”

Aku tidak pernah mengoreksi mereka.

Setelah anak kembar kami, Raka dan Rafi, lahir, aku bahkan hampir sepenuhnya menghilang dari acara publik.

Aku mengantar anak ke sekolah.

Mengurus rumah.

Datang ke pertemuan orang tua.

Menemani mereka ketika sakit.

Dan membiarkan Arga menjadi wajah keluarga kami.

Diamku membuat orang lain bebas menulis cerita tentang siapa diriku.

Menurut gosip yang beredar, Arga telah membangun kerajaan bisnis sementara aku hanya menikmati uangnya.

Sekarang, ketika pernikahan kami berakhir, aku dianggap sebagai istri yang berusaha mengambil harta yang tidak pernah kubangun.

Bahkan beberapa orang yakin aku tidak mungkin bisa mempertahankan hak asuh anak-anak tanpa uang Arga.

Arga sendiri tampak sangat santai pagi itu.

Dia mengenakan setelan jas biru tua yang dibuat khusus, jam tangan mahal, dan ekspresi seseorang yang sudah merasa menang bahkan sebelum sidang dimulai.

Di meja sebelahnya duduk tiga pengacara.

Di samping mereka ada seorang perempuan bernama Selena Wijaya.

Kepala komunikasi perusahaan.

Perempuan yang selama hampir satu tahun diam-diam menjalani hubungan dengan suamiku.

Dan, menurut pesan yang pernah kutemukan, perempuan yang ingin dinikahi Arga segera setelah perceraian kami selesai.

Selena mengenakan gaun kerja elegan berwarna krem.

Rambutnya tersusun sempurna.

Sesekali dia membungkuk dan berbisik di telinga Arga.

Cara mereka saling memandang sudah menjelaskan semuanya.

Pengacara utama Arga, Bram Santoso, telah menghabiskan berminggu-minggu membangun satu gambaran tentangku.

Bahwa aku tidak punya karier.

Tidak punya penghasilan tetap.

Tidak memahami bisnis.

Tidak memiliki kemampuan finansial untuk membesarkan dua anak tanpa bantuan Arga.

Dan yang paling penting—

Arga memiliki sebuah perjanjian perkawinan.

Dokumen yang menurut tim hukumnya membuat hampir seluruh aset besar tetap berada di bawah kendalinya.

Rumah.

Investasi.

Rekening.

Saham.

Dan tentu saja perusahaan.

Setidaknya begitulah yang mereka yakini.

Majelis hakim memasuki ruang sidang.

Semua orang berdiri.

Setelah persidangan dibuka, hakim ketua melihat ke arah meja tempat aku seharusnya duduk.

Kursiku masih kosong.

Arga melirik jam tangannya.

Lalu tersenyum kecil.

“Dia memang selalu seperti itu,” katanya cukup keras untuk terdengar.

“Tidak pernah menghargai waktu orang lain.”

Selena menahan tawa.

Bram baru saja mulai menjelaskan permohonan Arga untuk mendapatkan hak asuh utama ketika pintu ruang sidang terbuka.

Semua kepala menoleh.

Aku masuk sambil menggandeng tangan kedua anakku.

Raka dan Rafi berusia delapan tahun.

Mereka mengenakan jaket yang hampir sama dan wajah mereka terlihat tegang.

Masing-masing menggenggam tanganku erat.

Mereka tidak melepaskannya sampai kami tiba di meja.

Selena memandang kami lalu berbisik,

“Dia benar-benar membawa anak-anak?”

Hakim langsung menatapnya.

“Ibu Selena, kalau Anda kembali mengganggu persidangan, saya akan meminta Anda keluar dari ruangan.”

Senyumnya langsung hilang.

Aku berdiri.

“Mohon maaf atas keterlambatan saya, Yang Mulia.”

Hakim melihat Raka dan Rafi.

“Anak-anak biasanya tidak perlu hadir dalam persidangan seperti ini.”

“Saya setuju.”

Aku menarik napas.

“Tapi ayah mereka sudah mengatakan kepada mereka bahwa saya meninggalkan rumah karena tidak peduli pada keluarga.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga menegang.

Aku melanjutkan.

“Dia juga mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang untuk membesarkan mereka. Bahwa sebentar lagi mereka akan tinggal bersama ayah mereka dan Ibu Selena.”

Arga berdiri setengah dari kursinya.

“Itu tidak benar.”

Aku bahkan tidak menoleh kepadanya.

“Saya hanya ingin anak-anak mendengar sendiri bahwa keputusan tentang hidup mereka tidak dibuat berdasarkan cerita sepihak di rumah.”

Hakim terdiam sejenak.

Kemudian beliau meminta petugas mendampingi kedua anakku duduk di area yang lebih sesuai.

Setelah itu, sidang dilanjutkan.

Bram berdiri.

Selama cukup lama, dia menjelaskan betapa stabilnya kehidupan yang dapat diberikan Arga kepada anak-anak.

Rumah besar di kawasan Pondok Indah.

Sekolah swasta.

Pengemudi.

Asuransi.

Tabungan pendidikan.

Investasi.

Pendapatan perusahaan.

Kemudian dia mulai membicarakanku.

Menurutnya, aku tidak mempunyai pekerjaan formal selama bertahun-tahun.

Tidak memiliki penghasilan yang sebanding dengan Arga.

Tidak mempunyai pengalaman profesional yang berarti.

Dia bahkan menggunakan kalimat:

“Klien kami selama ini merupakan sumber utama kesejahteraan keluarga.”

Aku hampir tersenyum mendengarnya.

Sumber utama kesejahteraan keluarga.

Arga menatapku dari seberang ruangan.

Tatapan yang kukenal sangat baik.

Tatapan seseorang yang ingin berkata:

Kamu tidak punya apa-apa tanpa aku.

Bram akhirnya menutup penjelasannya.

“Atas dasar itu, kami memohon agar hak pengasuhan utama diberikan kepada klien kami.”

Hakim membuat beberapa catatan.

Kemudian beliau menatapku.

“Ibu Nadira, siapa kuasa hukum Anda?”

“Tidak ada, Yang Mulia.”

Hakim mengangkat wajahnya.

“Saya mewakili diri saya sendiri.”

Arga bersandar di kursinya.

Senyumnya muncul lagi.

Bahkan salah satu pengacaranya saling bertukar pandang dengan rekannya.

Seolah keputusan terburuk yang bisa kubuat baru saja keluar dari mulutku sendiri.

Hakim melepas kacamatanya.

“Ibu memahami bahwa perkara ini menyangkut hak pengasuhan anak serta aset dalam jumlah yang sangat besar?”

“Saya memahami.”

“Dan Anda tetap memilih memberikan keterangan sendiri?”

“Ya, Yang Mulia.”

Hakim mengangguk.

“Silakan.”

Aku tidak membuka koper besar.

Tidak membawa setumpuk map.

Tidak mengeluarkan puluhan rekening koran.

Aku hanya mengambil satu amplop cokelat tebal dari dalam tas kulitku.

Di bagian belakangnya terdapat segel lama.

Arga memperhatikannya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, senyumnya sedikit berubah.

Aku menyerahkan amplop tersebut kepada petugas pengadilan.

“Ini dokumen apa?” tanya hakim.

“Dokumen asli pendirian perusahaan yang sekarang bernama PT Mahendra Logistik Nusantara.”

Arga langsung menoleh kepada pengacaranya.

Bram mengerutkan kening.

“Itu tidak relevan dengan permohonan hak asuh.”

“Biar saya yang menentukan relevansinya,” jawab hakim.

Ruangan kembali sunyi.

Hakim menerima amplop itu.

Membuka segelnya.

Mengeluarkan beberapa lembar dokumen lama.

Aku melihat jemari Arga berhenti bergerak.

Selena menatapnya.

“Arga?”

Dia tidak menjawab.

Hakim membaca halaman pertama.

Kemudian halaman berikutnya.

Sampai akhirnya beliau tiba pada bagian mengenai kepemilikan awal perusahaan.

Pandangan hakim berhenti.

Beliau membaca satu baris sekali lagi.

Lalu perlahan mengangkat wajah.

Tatapannya jatuh tepat pada suamiku.

“Pak Arga…”

Arga menelan ludah.

Hakim mengetuk bagian atas dokumen dengan ujung jarinya.

“Anda berkali-kali menyatakan bahwa perusahaan ini didirikan oleh Anda dan merupakan aset milik Anda sebelum perkawinan.”

Tidak ada jawaban.

Bram membungkuk mendekati Arga.

Aku masih duduk diam.

Hakim melanjutkan.

“Kalau begitu, bisakah Anda menjelaskan kepada pengadilan…”

Beliau mengangkat dokumen itu sedikit lebih tinggi.

“…mengapa nama pertama yang tercatat sebagai pemilik sekaligus pemegang saham pendiri perusahaan ini bukan nama Anda?”

Arga membeku.

Selena menoleh cepat kepadaku.

Bram merebut salinan dokumen dari asistennya.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Arga Mahendra—

aku melihat seorang pria yang selalu memiliki jawaban untuk semuanya…

tidak mampu mengucapkan satu kata pun.

Karena nama pertama di dokumen itu adalah namaku.

Nadira Prameswari.

Dan yang belum diketahui Arga adalah…

dokumen itu baru permulaan.

Cerita lengkapnya terlalu panjang untuk ditaruh dalam caption.

Nama pertama di dokumen itu adalah namaku.

Nadira Prameswari.

Selama beberapa detik, tidak ada seorang pun di ruang sidang yang bergerak.

Aku bisa mendengar suara hujan menghantam kaca jendela.

Arga menatap dokumen di tangan hakim seolah benda itu baru saja muncul dari udara.

Bram, pengacara utamanya, membalik beberapa lembar dengan cepat.

“Ini pasti dokumen lama yang sudah tidak berlaku,” katanya.

Hakim mengangkat alis.

“Pak Bram, saya belum bertanya kepada Anda.”

Bram langsung diam.

Hakim kembali menatap Arga.

“Pak Arga, apakah Anda mengenali dokumen ini?”

Arga menarik napas.

“Ya.”

Hanya satu kata.

Tapi itu cukup.

Aku melihat Selena menoleh kepadanya dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bukan kasih sayang.

Bukan kekhawatiran.

Kecurigaan.

Hakim bertanya lagi.

“Apakah benar Ibu Nadira tercatat sebagai salah satu pendiri awal perusahaan?”

Arga menjawab lebih pelan.

“Benar.”

Ruangan bergemuruh oleh bisikan.

Aku tidak tersenyum.

Aku sudah terlalu lama menunggu momen itu untuk merusaknya dengan kepuasan kecil.

Hakim melanjutkan.

“Dan berdasarkan dokumen ini, pada saat perusahaan didirikan, porsi kepemilikan terbesar justru berada atas nama Ibu Nadira.”

Selena memandangku.

Lalu memandang Arga.

“Katamu perusahaan itu milikmu sebelum kalian menikah,” bisiknya.

Arga tidak menjawab.

Bram berdiri.

“Yang Mulia, situasi kepemilikan perusahaan telah berubah berkali-kali sejak dokumen ini diterbitkan.”

“Itulah yang ingin saya ketahui,” kata hakim.

Kemudian beliau menatapku.

“Ibu Nadira, silakan jelaskan.”

Aku berdiri.

Tanganku dingin.

Bukan karena takut.

Karena selama dua belas tahun, aku sudah terbiasa menyembunyikan bagian hidupku sendiri.

Sekarang aku harus membukanya di depan semua orang.

“Perusahaan itu bukan dimulai oleh Arga.”

Ruangan kembali sunyi.

“Perusahaan itu dimulai oleh ayah saya.”

Arga menutup matanya sebentar.

Aku melanjutkan.

“Ayah saya, Prasetyo Wibowo, memiliki usaha distribusi kecil di Semarang. Hanya enam truk pada awalnya. Tidak besar, tapi sehat. Setelah saya lulus kuliah, saya membantu mengurus pembukuan, kontrak pemasok, dan ekspansi ke Jakarta.”

Hakim mendengarkan tanpa menyela.

“Arga datang beberapa tahun kemudian.”

Saat pertama bertemu dengannya, Arga bahkan belum punya pekerjaan tetap.

Dia pintar.

Ambisius.

Pandai bicara.

Ayah menyukainya.

Aku juga.

Ketika ayah meninggal mendadak, sebagian besar saham perusahaan kecil itu diwariskan kepadaku.

Namun saat itu aku berusia dua puluh tujuh tahun.

Aku sedang hamil.

Aku baru menikah.

Dan aku percaya pada suamiku.

Aku menatap Arga.

“Kesalahan terbesar saya bukan menyerahkan perusahaan kepadanya.”

Aku berhenti.

“Kesalahan terbesar saya adalah percaya bahwa dia akan ingat siapa yang memberinya kesempatan pertama.”

Bram memotong.

“Apakah Ibu Nadira mengklaim perusahaan saat ini masih milik Anda?”

“Tidak.”

Jawabanku membuat semua orang terkejut.

Bahkan Arga mengangkat kepala.

Aku mengambil map kedua dari tasku.

“Saya mengatakan bahwa cerita yang disampaikan kepada pengadilan tentang saya tidak benar.”

Aku menyerahkan dokumen itu.

“Setelah ayah meninggal, saya memberikan sebagian wewenang operasional kepada Arga. Beberapa tahun kemudian, ketika perusahaan membutuhkan modal untuk ekspansi, kami melakukan restrukturisasi.”

Hakim membuka dokumen.

“Ada beberapa perubahan saham.”

“Benar.”

“Tetapi Anda masih memiliki saham?”

“Ya.”

“Berapa?”

Aku menatap Arga.

“Dua puluh delapan persen.”

Selena seketika duduk tegak.

Salah satu pengacara Arga menunduk dan berbisik sesuatu kepada Bram.

Arga berkata cepat, “Saham itu tidak punya kendali.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Kamu benar.”

Dia tampak sedikit lega.

Kemudian aku menambahkan,

“Karena kamu memastikan selama bertahun-tahun semua orang hanya melihat jabatanmu sebagai CEO.”

Aku menyerahkan satu dokumen lagi.

“Tapi ada hal lain yang tidak pernah kamu periksa dengan teliti.”

Hakim membacanya.

Wajahnya berubah.

Bram berdiri cepat.

“Apa itu?”

Hakim tidak langsung menjawab.

Dia membaca lembar berikutnya.

Kemudian bertanya kepadaku,

“Apakah ini perjanjian pemegang saham awal?”

“Ya.”

“Dan apakah klausul ini masih berlaku?”

“Menurut catatan perusahaan, tidak pernah dicabut.”

Bram mengambil salinan.

Wajahnya langsung tegang.

Arga berbisik,

“Bram?”

Pengacaranya tidak menjawab.

Selena meraih lengan Arga.

“Ada apa?”

Bram akhirnya berkata,

“Dalam perjanjian awal, saham pendiri tertentu memiliki hak persetujuan untuk perubahan kepemilikan besar, pengalihan aset utama, atau perubahan struktur direksi.”

Arga tertawa pendek.

“Itu dokumen dua belas tahun lalu.”

Aku menggeleng.

“Enam belas.”

Dia menatapku.

“Dan setiap kali perusahaan mengubah struktur, bagian itu selalu disalin ke dokumen berikutnya.”

Aku melihat kebingungan berubah menjadi kemarahan di wajahnya.

“Kamu sengaja menyimpan ini?”

“Tidak.”

Aku menjawab jujur.

“Aku bahkan tidak memikirkannya selama bertahun-tahun.”

“Lalu kenapa sekarang?”

Aku menelan ludah.

“Karena tiga bulan lalu seseorang dari divisi legal perusahaan meneleponku.”

Arga membeku.

Bram langsung menoleh.

Aku melanjutkan.

“Dia meminta konfirmasi apakah aku menyetujui pengalihan sejumlah saham perusahaan ke pihak lain.”

Selena perlahan melepaskan tangannya dari lengan Arga.

Aku melihat wajahnya berubah.

Dia tahu sesuatu.

Hakim memperhatikan reaksinya.

“Saham kepada siapa?” tanya beliau.

Aku tidak menjawab langsung.

Aku mengambil satu dokumen terakhir.

Kali ini bukan dokumen perusahaan.

Itu adalah cetakan surel.

Aku menyerahkannya kepada petugas.

Hakim membaca nama penerima.

Kemudian menatap Selena.

“Ibu Selena?”

Selena memucat.

Arga berdiri.

“Itu urusan pribadi.”

Hakim langsung mengetuk meja.

“Duduk.”

Arga duduk kembali.

Hakim berkata,

“Menurut dokumen ini, ada rencana pemberian saham kepada Ibu Selena Wijaya.”

Aku memandang Selena.

Dia menatapku seolah aku baru saja membuka pintu yang selama ini dia pikir terkunci rapat.

Aku bertanya kepadanya,

“Berapa persen yang dia janjikan kepadamu?”

Bram berkata, “Ibu Nadira—”

“Biarkan dia menjawab,” kata hakim.

Selena menelan ludah.

“Lima belas persen.”

Arga menoleh tajam.

“Selena.”

Dia tidak melihatnya.

“Hanya setelah perceraian selesai,” tambahnya pelan.

Ruangan kembali dipenuhi bisikan.

Hakim meminta ketenangan.

Aku tidak merasa marah kepada Selena saat itu.

Aneh sekali.

Selama berbulan-bulan, aku menganggapnya perempuan yang merusak rumah tanggaku.

Ternyata dia hanya satu bagian dari kebohongan yang lebih besar.

Aku bertanya,

“Dia bilang saham itu miliknya untuk diberikan?”

Selena mengangguk perlahan.

“Ya.”

Aku menarik napas.

“Dia tidak bisa.”

Arga memukul meja dengan telapak tangan.

“Itu perusahaan saya!”

Raka dan Rafi tersentak di kursi mereka.

Aku langsung menoleh.

Kedua anakku melihat ayah mereka dengan mata lebar.

Hakim memperingatkan Arga sekali lagi.

Aku menahan diri sampai anak-anak kembali tenang.

Kemudian aku berkata,

“Perusahaan itu tidak pernah hanya menjadi milikmu.”

Arga menatapku penuh kebencian.

“Semua yang sekarang ada, saya yang membangunnya.”

“Aku tidak pernah menyangkal kerja kerasmu.”

Kalimat itu membuatnya terlihat lebih marah daripada tuduhan apa pun.

Karena aku tidak sedang berusaha merampas pencapaiannya.

Aku hanya menolak membiarkan dia menghapus pencapaianku.

“Aku tidak datang ke sini untuk mengambil perusahaan, Arga.”

“Lalu apa yang kamu mau?”

Aku menatap anak-anak kami.

“Anak-anak kita berhenti dijadikan alat.”

Ekspresinya berubah sedikit.

Aku melanjutkan.

“Kamu boleh membenci aku.”

“Kamu boleh meninggalkanku.”

“Kamu boleh mencintai orang lain.”

“Tapi kamu tidak boleh mengatakan kepada Raka dan Rafi bahwa ibu mereka tidak punya apa-apa, tidak pernah bekerja, dan hanya hidup dari uangmu.”

Raka menunduk.

Rafi menggenggam tangan saudaranya.

Aku hampir kehilangan suaraku.

Tapi aku harus menyelesaikannya.

“Karena selama tahun-tahun pertama perusahaan itu berdiri, aku yang membuat sistem keuangannya.”

“Aku yang menulis proposal pertama untuk investor.”

“Aku yang mengurus izin ketika ayah sakit.”

“Aku yang menjaminkan rumah kecil warisan ayah agar perusahaan bisa membeli armada pertama di Jakarta.”

Arga menatap meja.

“Aku berhenti bekerja penuh waktu bukan karena aku tidak mampu.”

Aku memandang anak-anak kami.

“Aku berhenti karena anak kita lahir prematur.”

Raka mengangkat kepala.

Selama ini mereka hanya tahu mereka pernah dirawat lama setelah lahir.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi sesudahnya.

“Aku menghabiskan berbulan-bulan bolak-balik rumah sakit.”

“Kemudian ketika mereka membaik, aku memilih tinggal bersama mereka.”

Aku menatap Arga.

“Dan kamu setuju.”

Dia tidak membantah.

“Bahkan kamu yang mengatakan, ‘Biar aku yang pegang perusahaan. Kamu jaga anak-anak kita.’”

Selena memejamkan mata.

Hakim membuat catatan panjang.

Bram akhirnya duduk tanpa bicara.

Untuk pertama kalinya, tiga pengacara Arga tampak tidak tahu ke mana sidang akan bergerak.

Namun kejutan terbesar belum muncul.

Hakim memandang dokumen-dokumen di hadapannya.

“Kepemilikan perusahaan penting karena bertentangan dengan beberapa pernyataan mengenai kondisi ekonomi Ibu Nadira.”

Beliau berhenti.

“Tapi pengadilan tidak menentukan hak pengasuhan berdasarkan siapa yang lebih kaya.”

Aku mengangguk.

“Itu yang saya pahami.”

“Dan saya ingin jelas bahwa persoalan saham tidak otomatis menentukan siapa yang lebih layak mengasuh anak.”

“Saya setuju.”

Arga tampak sedikit lega.

Kemudian hakim membuka berkas lain.

“Namun ada hal yang jauh lebih serius.”

Aku tahu apa yang akan datang.

Arga tidak.

Hakim mengeluarkan hasil laporan konselor keluarga yang sebelumnya ditunjuk pengadilan.

“Dalam wawancara terpisah, kedua anak memberikan keterangan yang hampir sama.”

Wajah Arga berubah.

Hakim melanjutkan.

“Mereka mengatakan ayah mereka beberapa kali meminta mereka memilih dengan siapa mereka ingin tinggal.”

Arga membuka mulut.

“Tidak seperti itu.”

“Mereka juga mengatakan bahwa jika memilih tinggal bersama ibu, mereka diberitahu bahwa mereka mungkin harus pindah sekolah, kehilangan kamar mereka, dan tidak bisa lagi mengikuti kegiatan yang mereka sukai.”

Aku memejamkan mata.

Aku sudah membaca laporan itu.

Tetapi mendengarnya diucapkan keras di ruang sidang tetap terasa menyakitkan.

Hakim menatap Arga.

“Pak Arga, anak berusia delapan tahun tidak boleh dibebani ketakutan finansial agar memilih salah satu orang tua.”

“Itu hanya salah paham.”

Rafi tiba-tiba berdiri.

Semua orang menoleh.

Petugas ingin mendekatinya, tetapi dia berkata,

“Aku boleh bicara?”

Aku hampir meminta dia duduk.

Hakim justru berbicara lembut.

“Kamu tidak harus mengatakan apa pun kalau tidak mau.”

Rafi menggeleng.

Dia menatap ayahnya.

“Ayah bilang kalau kami ikut Mama, Mama nanti sibuk kerja dan kami tidak punya rumah besar lagi.”

Arga memejamkan mata.

Raka ikut berdiri.

“Ayah juga bilang Selena bakal jadi mama baru.”

Aku mendengar Selena menarik napas tajam.

Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Selena berdiri.

“Aku tidak pernah mengatakan itu kepada mereka.”

Arga berbisik,

“Duduk, Selena.”

Dia tidak duduk.

Matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak pernah setuju menggantikan ibu mereka.”

Hakim memperingatkannya untuk hanya berbicara jika diminta.

Selena menatapku.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Bukan karena membencinya.

Aku hanya belum tahu harus merasakan apa.

Kemudian Selena mengatakan kalimat yang mengubah seluruh suasana ruangan.

“Ada hal lain yang harus pengadilan tahu.”

Arga langsung berdiri.

“Jangan.”

Semua orang membeku.

Selena menatapnya.

Selama beberapa detik, dia terlihat seperti seseorang yang baru sadar bahwa selama ini dia juga hidup di dalam cerita yang dikarang Arga.

Dia membuka tasnya.

Mengeluarkan ponsel.

“Aku menyimpan rekaman suara.”

Bram langsung berkata,

“Saya menyarankan klien saya—”

“Saya bukan klien Anda,” potong Selena.

Hakim meminta penjelasan.

Selena berkata bahwa beberapa minggu sebelumnya, dia dan Arga bertengkar di sebuah apartemen.

Arga marah karena proses perceraian berjalan lebih lambat dari yang dia harapkan.

Selena merekam pembicaraan karena mulai merasa curiga terhadap janji saham dan rumah yang dijanjikan kepadanya.

Pengadilan tidak langsung menerima rekaman itu sebagai bukti final.

Tetapi hakim mengizinkan penjelasan awal mengenai isinya untuk ditinjau lebih lanjut.

Selena berkata,

“Dalam rekaman itu, Arga mengatakan setelah mendapat hak asuh utama, dia akan memindahkan anak-anak ke Singapura selama beberapa waktu.”

Aku merasa darah di tubuhku mendadak dingin.

Arga berkata,

“Itu bukan rencana.”

Selena melanjutkan.

“Dia bilang kalau anak-anak sudah tinggal di luar negeri, Nadira akan lebih sulit mengganggu kehidupan kami.”

Aku menatap Arga.

Bukan sebagai mantan istri.

Bukan sebagai pemegang saham.

Sebagai ibu.

“Benarkah?”

Dia tidak menjawab.

Itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Hakim segera meminta semua materi terkait rencana perjalanan, sekolah, dan komunikasi mengenai pemindahan anak diserahkan untuk diperiksa.

Sidang hari itu tidak berakhir dengan kemenangan dramatis seperti di film.

Tidak ada palu diketuk lalu semua selesai.

Tidak ada hakim yang langsung menyerahkan perusahaan kepadaku.

Tidak ada Arga yang dibawa keluar dengan borgol.

Kehidupan nyata jauh lebih lambat.

Lebih melelahkan.

Dan justru karena itu, lebih menyakitkan.

Proses berikutnya berlangsung berbulan-bulan.

Penilaian psikologis keluarga dilakukan kembali.

Dokumen perusahaan diperiksa.

Rencana pemindahan anak ditelusuri.

Dan akhirnya, pengadilan menetapkan tempat tinggal utama Raka dan Rafi bersamaku, dengan waktu bertemu ayah mereka yang diatur secara jelas.

Aku tidak mendapatkan semua yang kuminta.

Arga juga tidak kehilangan hak sebagai ayah.

Dan aku setuju dengan itu.

Karena apa pun yang terjadi di antara kami, Raka dan Rafi tetap mencintainya.

Aku tidak ingin membalas manipulasi Arga dengan menghapus ayah mereka dari hidup mereka.

Mengenai perusahaan, aku membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.

Aku tidak mengambil alih kursi CEO.

Aku tidak memecat Arga.

Aku juga tidak menjual semua sahamku.

Aku meminta audit independen, perubahan tata kelola, dan perlindungan hak pemegang saham.

Arga tetap bekerja di perusahaan.

Tetapi untuk pertama kalinya, dia tidak bisa lagi bertindak seolah PT Mahendra Logistik Nusantara adalah kerajaan pribadinya.

Selena mengundurkan diri.

Beberapa minggu kemudian, dia mengirim pesan kepadaku.

Hanya tiga kalimat.

Aku tidak berharap kamu memaafkanku.
Aku seharusnya bertanya lebih banyak sebelum mempercayai ceritanya tentangmu.
Aku harap anak-anakmu baik-baik saja.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu menjawab:

Mereka baik. Semoga kamu juga.

Itu saja.

Tidak semua perempuan yang masuk ke dalam pernikahan orang lain harus menjadi bagian hidup kita selamanya.

Kadang-kadang melepaskan jauh lebih damai daripada memenangkan pertengkaran.

Tapi kejutan terakhir datang hampir setahun kemudian.

Hari itu ulang tahun Raka dan Rafi.

Aku mengadakan makan malam kecil di rumah baru kami.

Bukan rumah mewah.

Tidak ada kolam renang.

Tidak ada petugas keamanan pribadi.

Hanya rumah dua lantai yang hangat dengan halaman kecil di belakang.

Raka memilih kamar dekat tangga.

Rafi memilih kamar yang jendelanya menghadap pohon mangga.

Mereka bahagia.

Menjelang malam, bel berbunyi.

Aku membuka pintu.

Arga berdiri di sana.

Sendirian.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada Selena.

Dia membawa dua kotak hadiah.

Aku hampir menutup pintu karena dia datang lebih awal dari jadwal kunjungannya.

Tetapi Raka melihatnya.

“Ayah!”

Kedua anak itu berlari.

Arga berlutut.

Mereka memeluknya.

Dan sesuatu dalam diriku pecah dengan cara yang berbeda.

Bukan karena masih mencintainya sebagai suami.

Tetapi karena aku ingat laki-laki yang pernah membuatku jatuh cinta.

Laki-laki yang dulu tidur di kursi rumah sakit ketika anak kami lahir terlalu cepat.

Laki-laki yang pernah menangis ketika pertama kali memegang dua bayi kecil kami.

Orang itu pernah ada.

Entah kapan dia hilang.

Setelah makan malam, anak-anak pergi membuka hadiah.

Arga berdiri di teras.

“Aku mau kasih ini.”

Dia menyerahkan amplop kepadaku.

Aku membukanya.

Dokumen pengalihan saham.

Sebagian saham miliknya dipindahkan kepada Raka dan Rafi melalui struktur yang hanya dapat mereka akses setelah dewasa.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia melihat halaman.

“Karena selama ini aku bilang semua yang kubangun adalah untuk mereka.”

Dia tertawa kecil tanpa bahagia.

“Ternyata aku hampir kehilangan mereka karena aku terlalu sibuk memiliki semuanya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Kemudian dia berkata,

“Aku minta maaf.”

Dua kata sederhana.

Dua kata yang kutunggu bertahun-tahun.

Tapi anehnya, ketika akhirnya mendengarnya, aku tidak merasakan kemenangan.

Aku hanya merasa sedih.

“Aku bukan minta kamu memaafkanku,” lanjutnya.

“Setidaknya tidak sekarang.”

Dia melihat ke dalam rumah, ke arah kedua anak kami yang sedang tertawa.

“Aku cuma ingin suatu hari nanti mereka tahu bahwa ayah mereka akhirnya belajar satu hal.”

“Apa?”

Dia menatapku.

“Bahwa punya keluarga bukan berarti memilikinya.”

Aku terdiam.

Kalimat itu datang dari orang yang paling tidak kusangka akan memahaminya.

Arga pergi malam itu setelah memeluk anak-anak.

Aku berdiri di teras sampai mobilnya menghilang.

Rafi muncul di belakangku.

“Mama?”

“Hmm?”

“Ayah sedih?”

Aku jongkok di depannya.

“Sedikit.”

“Karena kalah?”

Aku tersenyum.

“Bukan.”

Aku merapikan rambutnya.

“Kadang-kadang orang sedih karena baru sadar bahwa mereka hampir kehilangan sesuatu yang sangat penting.”

Raka datang membawa sepotong kue.

“Terus Mama menang?”

Aku menatap kedua anakku.

Lalu melihat rumah kecil kami.

Dokumen saham masih berada di tanganku.

Setahun lalu, aku mungkin akan menjawab ya.

Hari itu, aku menggeleng.

“Tidak ada yang menang kalau keluarga hancur.”

Mereka terlihat bingung.

Aku tersenyum.

“Tapi kita bisa belajar membangun sesuatu yang baru.”

Raka memikirkan itu.

Kemudian memberikan kue kepadaku.

“Mama mau bagian cokelatnya?”

Aku tertawa.

“Mau.”

Kami kembali masuk.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak memikirkan siapa yang memiliki rumah.

Siapa yang memiliki perusahaan.

Siapa yang mendapatkan lebih banyak saham.

Atau siapa yang dianggap menang oleh orang-orang.

Aku memikirkan satu hal yang jauh lebih sederhana.

Selama bertahun-tahun, semua orang percaya Arga Mahendra adalah orang yang memberiku kehidupan nyaman.

Kenyataannya, aku pernah membantu memberinya awal.

Lalu aku membantu membangun perusahaan.

Kemudian aku memberikan sebagian karierku untuk membangun keluarga.

Dan akhirnya, ketika semuanya runtuh, aku menemukan sesuatu yang selama ini hampir kulupakan.

Diriku sendiri.

Aku bukan perempuan yang berdiri di belakang seorang CEO.

Aku bukan ibu rumah tangga yang “tidak pernah bekerja.”

Aku bukan istri yang hidup dari keberhasilan suaminya.

Aku adalah Nadira Prameswari.

Anak perempuan seorang pengusaha kecil yang mengajariku bahwa nama di atas kertas memang penting—

tetapi nama yang kita bangun sendiri jauh lebih penting.

Hari ketika hakim membuka dokumen perusahaan itu, semua orang mengira kejutan terbesar adalah melihat namaku tercantum sebagai pemilik pertama.

Mereka salah.

Kejutan terbesar bukanlah bahwa aku pernah memiliki bagian dari perusahaan Arga.

Kejutan terbesar adalah aku akhirnya mengerti—

aku tidak perlu memiliki perusahaan itu, pernikahan itu, atau kehidupan lama itu untuk tahu nilai diriku sendiri.

Dan anehnya, setelah bertahun-tahun bertengkar soal siapa yang memiliki apa…

hal paling berharga yang akhirnya berhasil kuselamatkan tidak tercantum dalam satu pun dokumen.

Itu adalah hubungan anak-anakku dengan kedua orang tuanya.

Dan diriku sendiri.