LIMA MALAM SUAMIKU TAK PULANG, AKU MENGIRIM DUA KOPER KE KANTORNYA—NAMUN SATU DOKUMEN MEMBUAT KELUARGANYA PANIK SEBELUM SIANG

Avatar penulis
Cerita 03
18 menit baca 130 tayangan
Indeks

LIMA MALAM SUAMIKU TAK PULANG, AKU MENGIRIM DUA KOPER KE KANTORNYA—NAMUN SATU DOKUMEN MEMBUAT KELUARGANYA PANIK SEBELUM SIANG

Bagian 1 — Setelah Lima Malam Menunggu Sendirian, Aku Mengirim Barang Suamiku ke Kantor dan Membiarkan Seluruh Perusahaannya Menyaksikan Akhir Pernikahan Kami

Malam kelima suamiku tidak pulang, aku berhenti menyiapkan makan malam untuknya.

Aku juga berhenti memanaskan lauk.

Berhenti mengecek suara mobil di depan pagar.

Dan yang paling penting, aku berhenti berbohong kepada diriku sendiri bahwa suamiku mungkin benar-benar sedang sibuk bekerja.

Pukul 02.48 dini hari, aku berdiri di depan lemari pakaian kami sambil memegang jas abu-abu milik suamiku, Rangga Pradipta.

Di saku dalam jas itu, masih ada struk restoran sebuah hotel di Jakarta Selatan.

Dua orang.

Pukul 23.41.

Tagihan Rp3.870.000.

Tanggalnya tiga malam lalu—malam ketika Rangga mengirim pesan kepadaku:

“Meeting direksi panjang. Jangan tunggu.”

Aku membaca struk itu sekali lagi.

Lalu tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena setelah delapan tahun menikah, ternyata penghinaan paling menyakitkan bukan ketika seseorang membohongimu.

Melainkan ketika dia bahkan tidak repot membuat kebohongannya terlihat masuk akal.

Namaku Larasati Wibowo.

Orang-orang di kantor suamiku mengenalku sebagai istri Direktur Operasional PT Arunika Sentosa.

Di keluarga Rangga, aku lebih sering diperkenalkan sebagai perempuan “beruntung” yang menikah dengan putra keluarga Pradipta.

Yang tidak mereka ketahui adalah satu hal sederhana.

Sebelum mengenal Rangga, aku sudah memiliki hidupku sendiri.

Dan pagi itu, mereka akan dipaksa mengingatnya.

Aku menarik dua koper besar dari gudang.

Pakaian Rangga kumasukkan tanpa emosi.

Sepuluh kemeja.

Empat jas.

Celana kerja.

Sepatu kulit.

Perlengkapan golf.

Parfum kesukaannya.

Bahkan mesin cukur yang selalu dia protes jika bergeser satu sentimeter dari tempatnya.

Ketika koper pertama hampir penuh, ponselku bergetar.

Pesan dari Rangga.

“Aku tidur di kantor malam ini. Besok pagi ada presentasi investor.”

Aku menatap layar lama.

Kemudian membalas:

“Tidak perlu terburu-buru pulang.”

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

“Kamu marah?”

Aku tidak menjawab.

Sebagai gantinya, aku membuka laptop.

Selama dua minggu terakhir, aku sebenarnya sudah mengetahui lebih banyak daripada yang Rangga bayangkan.

Nama perempuan itu adalah Keisya.

Manajer relasi klien yang enam bulan lalu dipromosikan menjadi staf khusus Rangga.

Aku pertama kali curiga ketika Rangga mulai membawa dua ponsel.

Kemudian pulang dengan aroma parfum perempuan yang sama tiga kali dalam seminggu.

Aku tidak langsung menuduh.

Aku mencatat.

Tanggal.

Jam.

Tagihan kartu.

Perjalanan dinas.

Hotel.

Aku bahkan menemukan transfer rutin Rp12 juta setiap bulan ke rekening Keisya dengan keterangan “operasional”.

Ketika kutanya, Rangga tertawa.

“Itu dana entertainment klien.”

Aneh.

Karena salah satu transfer terjadi pada hari Minggu saat kantor tutup.

Aku masih diam.

Sampai malam kelima itu.

Aku membuka grup komunikasi internal perusahaan yang anggotanya lebih dari enam ratus orang.

Rangga pernah memasukkanku ke sana karena aku dulu menjadi konsultan proyek renovasi kantor pusat mereka.

Aku mengetik satu pesan.

“Selamat pagi, rekan-rekan Arunika Sentosa. Mohon maaf bila pesan ini kurang tepat tempatnya. Barang pribadi Pak Rangga akan saya kirim ke kantor pagi ini karena mulai hari ini beliau tidak perlu lagi pulang ke rumah kami. Semoga agenda kerjanya bersama orang yang selama beberapa bulan terakhir selalu menemaninya sampai tengah malam dapat berjalan lebih nyaman tanpa harus memberi alasan kepada saya.”

Aku berhenti.

Membaca ulang.

Lalu menambahkan:

“Pak Rangga, kode pintu sudah saya ganti. Dua koper Anda tiba sebelum pukul delapan.”

Kirim.

Tiga detik.

Sepuluh detik.

Jumlah pembaca meningkat cepat.

  1.  
  2.  
  3.  
  4.  

Tidak ada satu pun yang menjawab.

Tetapi aku tahu ratusan orang sedang memandangi layar ponsel mereka sambil bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Tiga puluh detik kemudian teleponku berbunyi.

Rangga.

Kutolak.

Dia menelepon lagi.

Kutolak.

Panggilan ketiga.

Kutolak.

Kemudian pesan masuk.

“LARAS, APA-APAAN KAMU?”

Aku memasukkan mesin cukurnya ke koper kedua.

Pesan berikutnya.

“HAPUS PESAN ITU SEKARANG.”

Aku mengunci koper.

Lalu menjawab:

“Tidak bisa. Sudah 587 orang membaca.”

Teleponku langsung berdering lagi.

Kali ini aku matikan.

Pukul 07.35 aku sampai di kantor pusat Arunika Sentosa di kawasan TB Simatupang.

Satpam mengenaliku dan segera membuka pintu.

Tetapi ketika melihat dua koper besar yang diturunkan dari bagasi mobil, wajahnya berubah.

“Bu Laras… ini…?”

“Barang Pak Rangga.”

Aku sendiri yang menarik koper menuju lobi.

Biasanya lobi gedung itu penuh suara.

Pagi itu anehnya sunyi.

Beberapa karyawan yang sedang menunggu lift pura-pura sibuk melihat ponsel.

Resepsionis bernama Maya berdiri begitu melihatku.

“Selamat pagi, Bu.”

“Pagi.”

Aku meletakkan dua koper di samping meja.

“Tolong serahkan kepada Pak Rangga.”

Maya mengangguk gugup.

Kemudian aku mengeluarkan sebuah map putih dari tas.

Aku meletakkannya di atas koper.

“Yang ini jangan sampai hilang.”

Maya menatap map tersebut.

“Isinya apa, Bu?”

“Surat dari pengacara saya.”

Seorang supervisor yang berdiri tidak jauh dari situ spontan menoleh.

Aku tersenyum tipis.

“Tenang. Kalian tetap bekerja seperti biasa.”

Saat aku berbalik menuju pintu, suara lift berbunyi.

Dan Rangga keluar.

Dia mengenakan kemeja yang sama seperti foto yang kuterima diam-diam dari seseorang malam tadi.

Di belakangnya berjalan Keisya.

Rambut perempuan itu masih sedikit basah.

Rangga membeku ketika melihatku.

Matanya berpindah dari wajahku ke koper.

Kemudian ke map putih.

“Laras.”

Aku berhenti.

“Bagus. Tidak perlu menunggu resepsionis menyerahkan.”

Dia berjalan cepat mendekat.

“Kita bicara di atas.”

“Tidak perlu.”

“Jangan bikin keributan di kantor.”

Aku menatap sekeliling.

“Yang tidak pulang lima malam itu kamu. Yang berbohong itu kamu. Mengapa sekarang aku yang dianggap membuat keributan?”

Wajah Rangga menegang.

Keisya berdiri beberapa meter di belakangnya dengan wajah pucat.

Rangga menurunkan suara.

“Aku bisa jelaskan.”

“Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.”

Aku menunjuk map.

“Pengacara saya akan menghubungimu.”

Aku berjalan keluar.

Belum sampai mobil, ponselku kembali aktif.

Tiga puluh enam panggilan tak terjawab.

Sebelas dari Rangga.

Sembilan dari ibu mertuaku, Bu Ratih.

Enam dari kakak Rangga.

Sisanya nomor keluarga mereka.

Aku memilih tidak menjawab.

Sampai sebuah pesan dari Bu Ratih masuk.

“Kamu benar-benar tidak tahu malu mempermalukan suami di depan bawahannya. Kalau tidak sanggup menjadi istri pengusaha, jangan membuat keluarga kami ikut malu.”

Beberapa detik kemudian pesan kedua muncul.

“Jangan lupa siapa yang memberimu kehidupan nyaman selama ini.”

Aku membaca tanpa marah.

Justru kalimat terakhir membuatku tersenyum.

Mereka masih berpikir aku tinggal di rumah Rangga.

Mereka masih berpikir mobil yang kukendarai dibeli Rangga.

Mereka bahkan masih berpikir Rangga-lah yang membawa keluargaku naik kelas.

Padahal rumah tiga lantai tempat kami tinggal selama lima tahun terakhir dibeli ayahku dua tahun sebelum pernikahan.

Sertifikatnya atas namaku.

Mobil yang Rangga gunakan setiap hari terdaftar atas perusahaan milik keluargaku.

Dan ada satu hal lagi yang bahkan Rangga sendiri mungkin sudah lupa.

Empat tahun lalu, saat bisnis ayahnya hampir kolaps karena gagal bayar pinjaman, seseorang menyuntikkan dana Rp8,4 miliar melalui perusahaan investasi kecil bernama PT Sagara Karya.

Tanpa uang itu, perusahaan keluarga Rangga mungkin sudah kehilangan gudang utama.

Bu Ratih pernah menyebut investor tersebut sebagai “orang bodoh yang terlalu percaya pada keluarga kami”.

Dia tidak tahu siapa pemilik PT Sagara Karya.

Rangga juga tidak tahu.

Karena selama ini seluruh dokumen diurus melalui direktur kepercayaan ayahku.

Dan perusahaan itu…

adalah milikku.

Siang itu aku sedang menuju kantor pengacara ketika Rangga menelepon menggunakan nomor lain.

Tanpa sengaja aku mengangkatnya.

Suara pertamanya bukan permintaan maaf.

“Jangan sentuh rumah.”

Aku tertawa pelan.

“Rumah siapa?”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Rangga, malam ini barang-barang lain yang bukan milikku akan kukeluarkan. Kalau kamu ingin mengambilnya, beri tahu satpam.”

“Kamu pikir kamu bisa mengusirku begitu saja?”

“Bisa.”

“Itu rumah kita.”

“Tidak.”

Suaraku tetap tenang.

“Itu rumahku.”

Hening.

Beberapa detik kemudian Rangga berkata dingin,

“Kalau kamu mau main seperti ini, jangan menyesal. Keluargaku tidak akan tinggal diam.”

Aku melihat sebuah email masuk dari direktur keuangan PT Sagara Karya.

Subjeknya hanya enam kata:

“Permohonan perpanjangan pinjaman Pradipta ditolak?”

Aku tersenyum.

“Bagus,” jawabku kepada Rangga.

“Karena aku juga sudah selesai diam.”

Aku menutup telepon.

Lalu membuka email itu.

Di dalamnya tertera satu angka yang langsung menjelaskan mengapa keluarga Rangga selama dua tahun terakhir terus tersenyum manis kepadaku.

Rp11.750.000.000.

Jumlah kewajiban perusahaan mereka yang jatuh tempo dalam tiga puluh hari.

Dan jaminan utamanya adalah gudang serta tanah pabrik milik keluarga Pradipta.

Yang membuat tanganku berhenti di layar bukan jumlah uangnya.

Melainkan satu lampiran terakhir.

Tiga bulan sebelumnya, Rangga ternyata telah mencoba mengajukan perubahan struktur pinjaman.

Dan dalam dokumen itu, ia mencantumkan rumah milikku sebagai “aset keluarga yang dapat dijadikan tambahan jaminan”.

Tanpa pernah meminta izinku.

Saat itulah aku tahu.

Perselingkuhan Rangga bukan lagi masalah terbesar kami.

Suamiku ternyata sudah mencoba menggunakan rumah peninggalan ayahku untuk menyelamatkan bisnis keluarganya—sementara lima malam berturut-turut dia tidur entah di mana bersama perempuan lain.

Dan tanda tangan persetujuan yang tertera di halaman terakhir…

dibuat menyerupai tanda tanganku.

Bersambung—karena pengkhianatan yang paling menghancurkan ternyata bukan siapa yang tidur di samping suamiku, melainkan apa yang diam-diam ingin mereka ambil dariku.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #CeritaIndonesia #KisahPenuhPelajaran

Bagian 2 — Tanda Tanganku Dipalsukan untuk Menjamin Utang Keluarganya, Lalu Ibu Mertuaku Datang Menuntut Rumah yang Bahkan Tak Pernah Mereka Miliki

Tanganku dingin ketika memperbesar dokumen itu.

Nama lengkapku tertulis jelas.

Larasati Wibowo.

Di bawahnya ada tanda tangan yang dari jauh memang terlihat seperti milikku.

Tetapi ada satu kesalahan kecil.

Aku selalu membuat huruf “L” dalam tanda tanganku dengan satu lengkungan panjang.

Yang ada di dokumen itu memiliki dua.

Seseorang menirunya.

Dan aku langsung tahu siapa yang paling sering melihat tanda tanganku.

Rangga.

Pukul dua siang aku duduk di kantor pengacaraku, Armand Wijaya.

Kami berteman sejak kuliah.

Setelah membaca dokumen selama hampir dua puluh menit, wajahnya yang biasanya santai berubah serius.

“Ini bukan cuma perceraian lagi, Laras.”

“Aku tahu.”

“Kalau dokumen ini benar pernah diajukan sebagai bagian proses pembiayaan, kita perlu meminta seluruh jejak korespondensi.”

Aku menyerahkan flashdisk.

“Semuanya ada di sini.”

Armand menatapku.

“Kamu sudah menyiapkan ini?”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Aku baru menemukannya satu jam lalu.”

Untuk pertama kali sejak pagi, kemarahanku benar-benar muncul.

Bukan karena Keisya.

Bukan karena hotel.

Bukan karena lima malam Rangga tidak pulang.

Aku marah karena saat aku memasak untuk keluarganya, menghadiri ulang tahun ibunya, menemani ayahnya ke rumah sakit dan berpura-pura tidak terganggu setiap kali mereka menyebutku “perempuan yang hidup enak setelah menikah”…

mereka mungkin sedang membicarakan cara menggunakan hartaku.

Sore harinya, aku pulang ke rumah ditemani Armand dan petugas keamanan kompleks.

Rangga belum datang.

Namun sebuah Toyota Alphard hitam sudah berhenti di depan pagar.

Bu Ratih turun bersama kakak perempuan Rangga, Melani.

Begitu melihatku, Bu Ratih langsung berjalan mendekat.

“Buka pintunya.”

Aku berdiri di balik pagar.

“Untuk apa?”

“Kami mau bicara.”

“Bisa bicara di sini.”

Wajahnya memerah.

“Laras! Jangan kurang ajar!”

Aku tetap tidak bergerak.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat Armand menoleh kepadaku.

“Rumah ini juga ada bagian Rangga. Kalian menikah sudah delapan tahun.”

Aku hampir tertawa.

“Rumah ini dibeli dua tahun sebelum saya menikah dengan Rangga.”

Bu Ratih terdiam sesaat.

Melani menyela.

“Tapi selama menikah Rangga yang membayar semuanya.”

“Benarkah?”

Aku membuka ponsel.

“Pajak bumi bangunan dibayar rekening saya. Renovasi dibayar perusahaan keluarga saya. Listrik, keamanan, bahkan gaji dua pekerja rumah tangga dibayar rekening saya.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku melanjutkan.

“Mobil Rangga juga milik perusahaan keluarga saya. Besok akan saya minta dikembalikan.”

Bu Ratih langsung menunjuk wajahku.

“Kamu memang sudah merencanakan ini!”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kalau saya merencanakan ini, saya pasti sudah mencabut fasilitas itu ketika anak Ibu pertama kali membawa perempuan lain ke hotel.”

Wajah Melani berubah.

Bu Ratih kehilangan kata-kata beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Keisya hanya stafnya!”

Aku tersenyum kecil.

Menarik.

Aku belum pernah menyebut nama Keisya kepada mereka.

“Bagaimana Ibu tahu saya sedang membicarakan Keisya?”

Hening.

Melani langsung memalingkan wajah.

Dan saat itu semuanya terasa lebih buruk.

Mereka tahu.

Entah sejak kapan, mereka tahu.

“Sudah berapa lama?” tanyaku.

Bu Ratih mengatupkan bibir.

Aku mengulangi.

“Sudah berapa lama Ibu tahu?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengangguk.

“Baik. Itu cukup.”

Aku hendak masuk ketika Bu Ratih berkata keras,

“Rangga memang dekat dengan perempuan itu. Tapi kalau kamu jadi istri yang lebih perhatian, laki-laki tidak akan mencari kenyamanan di luar!”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang kuduga.

Selama delapan tahun aku menyimpan nomor dokter ayah mertuaku.

Membelikan obat Bu Ratih.

Mengurus hampers Lebaran untuk seluruh mitra keluarga mereka.

Bahkan ketika ibuku dirawat dua tahun lalu, aku meninggalkan rumah sakit selama tiga jam karena Rangga meminta aku mendampingi jamuan bisnis keluarganya.

Dan sekarang kegagalan suamiku menjaga kesetiaan disebut sebagai kekuranganku.

Aku membuka pagar.

Bukan untuk membiarkan mereka masuk.

Aku berdiri tepat di depan Bu Ratih.

“Terima kasih, Bu.”

Dia tampak bingung.

“Untuk apa?”

“Karena setelah kalimat tadi, saya tidak akan pernah merasa bersalah meninggalkan keluarga ini.”

Aku masuk dan menutup pagar.

Malamnya, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Direktur utama Arunika Sentosa meneleponku.

Pak Surya bukan keluarga Rangga. Ia profesional yang direkrut investor.

“Bu Laras, saya minta maaf menghubungi malam-malam.”

“Tidak apa-apa, Pak.”

“Kami menemukan sesuatu setelah isu pagi tadi membuat audit internal memeriksa beberapa pengeluaran Pak Rangga.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Apa?”

“Ada reimbursement hotel, perjalanan, hadiah dan transfer operasional yang tidak memiliki dokumentasi klien lengkap.”

Aku diam.

“Berapa?”

“Kami masih menghitung.”

Dia menarik napas.

“Tapi sementara sekitar Rp640 juta.”

Aku menutup mata.

Pak Surya melanjutkan.

“Dan sebagian transaksi berkaitan dengan rekening Mbak Keisya.”

Jadi Rangga bukan hanya berbohong kepadaku.

Dia mungkin juga menggunakan dana perusahaan untuk membiayai hubungannya.

Namun kejutan terbesar datang pukul 22.16.

Satpam menelepon.

“Bu, Pak Rangga datang.”

Aku melihat kamera pintu.

Rangga berdiri di luar.

Sendirian.

Tanpa mobil perusahaan yang biasanya digunakannya.

Aku keluar ke teras tetapi tidak membuka pagar.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat suamiku seperti melihat orang asing.

“Laras, kita harus bicara.”

“Bicaralah.”

“Bukan di sini.”

“Di sini cukup.”

Wajahnya terlihat lelah.

“Aku salah tentang Keisya.”

Aku tidak menjawab.

“Aku mengaku.”

“Lalu?”

“Aku akan putus dengan dia.”

Aku hampir tersenyum.

“Rangga, kamu kira masalah kita masih Keisya?”

Wajahnya langsung berubah.

Aku mengangkat salinan dokumen.

“Kenapa rumahku ada di proposal restrukturisasi utang perusahaan ayahmu?”

Dia membeku.

Aku menunjukkan halaman terakhir.

“Dan siapa yang menandatangani ini?”

Tidak ada jawaban.

“Jawab.”

“Laras… aku bisa jelaskan.”

“Siapa yang menandatangani?”

Rangga menunduk.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berbisik,

“Waktu itu kami terdesak.”

Bukan penyangkalan.

Bukan keterkejutan.

Pengakuan.

Aku merasakan sesuatu di dalam diriku benar-benar putus.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Aku cuma butuh dokumen awal. Belum sampai tahap pengikatan.”

“Jadi karena belum berhasil mengambil rumahku, menurutmu tidak masalah?”

“Jangan dramatis.”

Dua kata itu hampir membuatku tertawa.

Tetapi sebelum aku menjawab, sebuah mobil berhenti di belakang Rangga.

Bu Ratih turun dengan tergesa-gesa.

“Laras, jangan lakukan sesuatu yang bodoh!”

Aku menatapnya.

Dia berjalan mendekat sambil berkata,

“Kalau pinjaman itu tidak diperpanjang, perusahaan keluarga kami bisa kehilangan pabrik.”

Akhirnya.

Kebenaran keluar.

Bukan rumah tanggaku yang mereka khawatirkan.

Bukan perceraian.

Bukan nama baik.

Mereka membutuhkan sesuatu dariku.

Aku menatap Rangga.

“Jadi kalian datang bukan supaya pernikahan kita selamat.”

Tidak ada yang menjawab.

“Yang kalian ingin selamatkan adalah utang sebelas miliar itu.”

Wajah Bu Ratih seketika pucat.

Rangga langsung menoleh kepadanya.

Kemudian kepadaku.

“Kamu tahu dari mana?”

Aku tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, mereka berdua tampak takut.

“Karena perusahaan yang selama empat tahun terakhir memberi keluarga kalian napas…”

Aku membuka pintu sedikit dan menyerahkan satu amplop kepada Rangga.

“…adalah milikku.”

Di dalam amplop itu terdapat pemberitahuan resmi.

Perpanjangan fasilitas pembiayaan PT Pradipta Karya ditolak.

Jatuh tempo tetap tiga puluh hari.

Rangga membaca halaman pertama.

Tangannya perlahan gemetar.

Kemudian Bu Ratih merebut dokumen itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan yang selalu merasa keluarganya berada di atas keluargaku kehilangan semua warna di wajahnya.

Bagian 3 — Mereka Memintaku Menyelamatkan Perusahaan Setelah Mengkhianatiku, tetapi Audit dan Satu Kesepakatan Lama Akhirnya Menentukan Siapa yang Kehilangan Segalanya

“Ini bohong.”

Bu Ratih mengatakan itu tiga kali.

Aku tidak membantah.

Aku hanya memandangnya membaca nama PT Sagara Karya pada dokumen tersebut.

Perusahaan investasi itu didirikan ayahku ketika aku berusia dua puluh tujuh tahun.

Setelah ayah meninggal, seluruh sahamnya diwariskan kepadaku.

Empat tahun lalu keluarga Rangga mengalami krisis likuiditas.

Ayah mertuaku meminta bantuan banyak pihak.

Melalui Sagara Karya, aku setuju membantu karena saat itu aku masih percaya menyelamatkan perusahaan keluarganya berarti melindungi masa depan kami bersama.

Aku bahkan merahasiakan keterlibatanku agar Rangga tidak merasa harga dirinya terluka.

Ternyata kerahasiaan itulah yang membuat keluarganya merasa mereka bisa meremehkanku.

“Kamu sengaja menjebak kami!” Bu Ratih membentak.

Aku menggeleng.

“Saya tidak membuat utang perusahaan Ibu.”

Aku menunjuk Rangga.

“Saya juga tidak menyuruh anak Ibu memalsukan tanda tangan saya.”

Rangga mendekati pagar.

“Laras, dengarkan aku. Kalau Sagara tidak memperpanjang pinjaman, ratusan pekerja bisa terdampak.”

Akhirnya dia menggunakan karyawan sebagai tameng.

Aku sudah menduga.

“Karena itu saya tidak akan mengambil keputusan emosional.”

Rangga tampak sedikit lega.

Aku melanjutkan.

“Tim saya akan menawarkan restrukturisasi dengan syarat manajemen keluarga Pradipta tidak lagi memiliki kendali operasional.”

Wajah mereka berubah.

“Apa maksudmu?” tanya Bu Ratih.

“Investor profesional akan masuk. Pengeluaran akan diaudit. Aset perusahaan tidak boleh lagi dipakai seperti dompet keluarga.”

“Itu perusahaan suami saya!” bentaknya.

“Dan utangnya kepada perusahaan saya.”

Hening.

Rangga berkata pelan,

“Kamu mau merebut perusahaan keluargaku?”

“Tidak.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku mau memastikan orang yang bekerja di sana tidak kehilangan pekerjaan hanya karena pemiliknya tidak bisa membedakan rekening perusahaan dengan kehidupan pribadi.”

Dua hari kemudian audit internal Arunika Sentosa selesai.

Nilai pengeluaran Rangga yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mencapai Rp713 juta.

Hotel.

Perjalanan pribadi.

Hadiah.

Restoran.

Sewa apartemen.

Beberapa transaksi menggunakan istilah “jamuan mitra”, padahal tidak ada klien yang hadir.

Keisya dipanggil bagian kepatuhan.

Dia memilih mengundurkan diri sebelum pemeriksaan selesai.

Rangga tidak seberuntung itu.

Dewan komisaris memberhentikannya sementara.

Seminggu kemudian ia resmi dicopot dari jabatan Direktur Operasional.

Bukan karena pesan yang kukirim ke grup.

Bukan karena perceraian.

Tetapi karena hasil audit perusahaan sendiri.

Keluarga Rangga mencoba menyalahkanku.

Namun kali ini aku tidak menjelaskan apa pun kepada mereka.

Semua komunikasi dilakukan melalui pengacara.

Armand juga membantu mengurus dugaan pemalsuan tanda tangan dalam dokumen pembiayaan.

Karena permohonan jaminan tersebut belum sampai pada tahap pengikatan aset, rumahku tidak pernah berpindah tangan.

Namun dokumen, korespondensi dan jejak pengajuannya cukup untuk menjadi bagian penting dalam proses hukum serta perceraian kami.

Rangga akhirnya berhenti menyangkal.

Dalam mediasi perceraian, dia duduk di seberangku dengan wajah jauh berbeda dari laki-laki yang dulu selalu masuk restoran seolah semua orang harus mengenalnya.

“Aku kehilangan semuanya karena satu kesalahan.”

Aku menatapnya lama.

“Bukan satu.”

Dia mengangkat wajah.

“Kamu memilih berbohong berkali-kali.”

Aku menghitung dengan jari.

“Kamu berselingkuh.”

“Kamu menggunakan uang perusahaan.”

“Kamu mencoba menjadikan hartaku sebagai jaminan.”

“Kamu memalsukan persetujuanku.”

“Dan ketika ketahuan, hal pertama yang kamu khawatirkan bukan pernikahan kita. Kamu khawatir perusahaan keluargamu kehilangan uang.”

Rangga tidak menjawab.

Aku melanjutkan,

“Jangan menyebut serangkaian pilihan sebagai satu kesalahan.”

Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.

Tidak secepat yang kubayangkan.

Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak lagi tidur sambil menunggu suara pagar dibuka.

Aku tidak lagi mengecek jam dua pagi.

Tidak lagi bertanya apakah seseorang benar-benar sedang meeting.

Rumah yang dulu terasa terlalu luas perlahan terasa seperti rumah lagi.

Aku mengubah ruang kerja Rangga menjadi ruang membaca.

Lemari besarnya kubongkar.

Kamar utama kucat ulang.

Ibu datang hampir setiap akhir pekan.

Suatu sore sambil minum teh, beliau bertanya,

“Kamu menyesal?”

Aku berpikir lama.

“Menyesal menikah?”

Ibu mengangguk.

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Beliau tampak heran.

“Aku jadi tahu batas yang tidak boleh kulewati lagi demi mempertahankan seseorang.”

Enam bulan setelah perceraian selesai, restrukturisasi PT Pradipta Karya disetujui.

Bukan karena aku memaafkan keluarga Rangga.

Tetapi karena ada 286 pekerja dan keluarga mereka yang tidak punya urusan dengan kegagalan pribadi mantan suamiku.

Keluarga Pradipta harus menjual dua aset nonproduktif.

Kepemilikan mereka terdilusi.

Ayah Rangga kehilangan posisi komisaris utama.

Manajemen baru masuk dengan sistem audit independen.

Perusahaan tetap beroperasi.

Para pekerja tetap menerima gaji.

Bu Ratih tidak pernah menghubungiku lagi setelah mengetahui salah satu vila keluarga mereka harus dijual untuk memenuhi kewajiban restrukturisasi.

Melani pernah mengirim pesan panjang.

Katanya aku terlalu kejam.

Aku tidak membalas.

Rangga sendiri akhirnya pindah dari apartemen mewahnya dan tinggal di unit sewaan yang jauh lebih sederhana.

Hubungannya dengan Keisya tidak bertahan.

Aku mengetahuinya bukan karena mencari tahu.

Seorang mantan rekan kantor Rangga tanpa sengaja menyebutkannya saat kami bertemu di acara bisnis.

Aku hanya mengangguk.

Anehnya, kabar itu tidak memberiku kepuasan sebesar yang dulu kubayangkan.

Kepuasanku datang dari hal lain.

Suatu pagi, hampir setahun setelah malam ketika Rangga tidak pulang untuk kelima kalinya, aku duduk sendirian di balkon rumah.

Matahari baru naik.

Tidak ada koper di depan pintu.

Tidak ada ponsel yang kutunggu berdering.

Tidak ada alasan yang harus kupercaya.

Di meja ada proposal proyek baru milik perusahaan investasiku.

Di sampingnya secangkir kopi panas.

Aku membuka sebuah pesan dari nomor Rangga yang sudah berbulan-bulan tidak menghubungiku.

“Aku baru sadar berapa banyak yang dulu kamu lakukan untukku. Maaf.”

Aku membaca sampai selesai.

Lalu menghapusnya.

Bukan karena masih marah.

Justru karena tidak lagi membutuhkan penjelasan apa pun darinya.

Dulu Rangga membuatku percaya bahwa menjadi istri yang baik berarti terus memahami, terus menunggu, terus mengalah.

Sekarang aku tahu cinta yang sehat tidak meminta seseorang mengorbankan harga dirinya agar rumah tetap terlihat utuh.

Aku berdiri dan membuka seluruh tirai.

Cahaya pagi memenuhi ruang keluarga.

Rumah itu pernah menjadi tempat aku menunggu seorang laki-laki pulang.

Sekarang rumah itu menjadi tempat aku akhirnya kembali kepada diriku sendiri.

Dan ternyata, kehilangan suami yang sudah lebih dulu meninggalkan pernikahan kami bukanlah akhir hidupku.

Itu hanya akhir dari masa ketika aku terus membuka pintu untuk seseorang yang berkali-kali memilih tidak pulang.

Kali ini, pintu itu kututup.

Bukan dengan air mata.

Melainkan dengan lega.