SAAT HAMIL HAMPIR LIMA BULAN, AKU MENYIAPKAN PERCERAIAN DIAM-DIAM—MALAM ITU SUAMIKU MALAH MENGAJAKKU MENJEMPUT PEREMPUAN YANG SELALU DISEBUT KELUARGANYA SEBAGAI “RUMAH PERTAMA”

Avatar penulis
Cerita 03
20 menit baca 119 tayangan
Indeks

SAAT HAMIL HAMPIR LIMA BULAN, AKU MENYIAPKAN PERCERAIAN DIAM-DIAM—MALAM ITU SUAMIKU MALAH MENGAJAKKU MENJEMPUT PEREMPUAN YANG SELALU DISEBUT KELUARGANYA SEBAGAI “RUMAH PERTAMA”

Bagian 1 — Saat Aku Membawa Rahasia Terbesar dalam Rahim, Suamiku Justru Menyiapkan Kursi Terbaik untuk Perempuan dari Masa Lalunya

“Bu Nadira, usia kandungan Ibu sudah masuk sembilan belas minggu. Ibu masih ingin melanjutkan prosedur ini?”

Tanganku berhenti di atas formulir.

Di ruangan konsultasi yang terlalu dingin itu, suara pendingin udara terdengar jauh lebih jelas daripada detak jantungku sendiri.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Dokter perempuan di depanku tidak langsung menulis.

Tatapannya turun ke hasil USG, lalu kembali ke wajahku.

“Suami Ibu tahu?”

“Tidak.”

“Dia tahu Ibu hamil?”

“Juga tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak aku masuk, dokter itu benar-benar terdiam.

Namanya dr. Laras Maheswari.

Usianya sekitar akhir tiga puluhan.

Aku belum pernah bertemu dengannya.

Karena itu aku bisa mengatakan semuanya tanpa takut akan ada seseorang yang pulang membawa rahasiaku.

Aku menarik napas pelan.

“Saya sudah memikirkannya lama.”

“Bukan karena saya tidak menginginkan anak ini.”

Suaraku hampir pecah pada kalimat berikutnya.

“Saya hanya tidak sanggup melahirkan seorang anak ke dalam rumah yang bahkan tidak punya tempat untuk ibunya.”

Mata dr. Laras melunak.

Ia tidak menghakimi.

Ia hanya menjelaskan konsekuensi medis, risiko, pemeriksaan tambahan yang harus dilakukan, dan satu hal yang berkali-kali ia tekankan: keputusan sebesar ini harus benar-benar datang dari diriku sendiri.

Aku mendengarkan semuanya.

Lalu menandatangani surat persetujuan pemeriksaan lanjutan.

Prosedur belum akan dilakukan hari itu.

Aku diberi waktu dua hari.

Dua hari untuk memastikan apakah aku benar-benar ingin mengakhiri satu kehidupan kecil sebelum mengakhiri pernikahanku sendiri.

Saat keluar dari rumah sakit swasta di Surabaya Barat, aku berdiri lama di dekat pintu otomatis.

Tanganku refleks menyentuh perut.

Belum terlalu besar.

Kalau memakai pakaian longgar, orang tidak akan tahu.

Bahkan suamiku sendiri belum pernah menyadarinya.

Namanya Arga Pradana.

Tiga puluh empat tahun.

Direktur utama perusahaan logistik milik keluarganya.

Kami menikah tiga tahun empat bulan.

Dan selama itu, aku akhirnya belajar sesuatu yang sangat sederhana.

Laki-laki yang terlalu sibuk bukan berarti tidak tahu cara memberi perhatian.

Kadang dia hanya memilih kepada siapa perhatian itu diberikan.

Ponselku bergetar.

Nama Arga muncul di layar.

Aku mengangkatnya.

“Kamu di mana?”

Bukan, dia tidak bertanya karena khawatir.

Kalimat berikutnya langsung menjelaskannya.

“Malam ini ikut aku ke acara keluarga di Hotel Majapahit. Pakai yang formal.”

Aku menatap pintu rumah sakit di belakangku.

“Acara apa?”

Arga diam satu detik.

“Keisha pulang.”

Dadaku terasa kosong.

Keisha.

Nama itu.

Selama tiga tahun pernikahan kami, aku tidak pernah bertemu dengannya, tetapi hampir semua orang di keluarga Pradana pernah menyebutnya.

Keisha Adeline.

Teman masa kecil Arga.

Perempuan yang katanya tumbuh bersama keluarga mereka.

Perempuan yang pergi ke Melbourne enam tahun lalu.

Perempuan yang oleh ibu mertuaku pernah disebut sambil tertawa, “Kalau dulu Keisha tidak pergi, mungkin susunan keluarga ini sudah berbeda.”

Waktu itu aku pura-pura tidak mendengar.

Malam ini aku malah diminta ikut menyambut kepulangannya.

“Jam tujuh aku jemput,” kata Arga.

“Baik.”

Telepon terputus.

Aku tersenyum tipis.

Entah kenapa, kata “baik” terasa seperti kata terakhir yang ingin kuberikan kepada pernikahan ini.

Di rumah, sebuah gaun biru tua sudah tergantung di depan lemari.

Bukan Arga yang memilihkannya.

Asisten pribadinya mengirim gaun itu sore tadi.

Lucu sekali.

Asisten suamiku hafal ukuran pinggangku.

Suamiku bahkan tidak tahu aku sudah hampir lima bulan tidak menstruasi.

Aku mengenakan gaun tersebut.

Potongannya longgar di bagian perut.

Di depan cermin, aku melihat perempuan yang selama tiga tahun berusaha terlihat pantas berada di keluarga Pradana.

Aku pernah belajar memilih sendok garpu yang benar saat makan malam bisnis.

Belajar menghafal nama klien Arga.

Belajar duduk berjam-jam menemani ibunya menghadiri acara yayasan.

Belajar tersenyum saat orang bertanya mengapa kami belum punya anak.

Padahal empat bulan terakhir, aku sudah membawa jawabannya di dalam tubuhku.

Aku tidak memberi tahu Arga karena pada minggu ketika aku mengetahui kehamilan itu, dia membatalkan perjalanan ulang tahun pernikahan kami hanya dua jam sebelum berangkat.

Alasannya ada masalah gudang di Makassar.

Malamnya aku mengetahui dari unggahan adiknya bahwa Arga ternyata menghadiri makan malam keluarga.

Keisha ikut bergabung lewat video call.

Mereka meniup lilin ulang tahun ibu mertua bersama-sama.

Aku duduk sendirian di restoran yang sudah kupesan tiga minggu sebelumnya.

Sejak malam itu, aku berhenti mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu kehamilanku.

Jam tujuh lewat sepuluh, mobil Arga berhenti.

Dia masih memakai setelan kerja.

Saat aku masuk, matanya hanya menyapu tubuhku sekilas.

“Gaunnya cocok.”

Aku menatapnya.

“Terima kasih.”

“Kamu sudah makan?”

Pertanyaan itu hampir membuatku terkejut.

Tapi sedetik kemudian dia menambahkan:

“Nanti makan malamnya agak terlambat. Keisha pesawatnya delay.”

Aku tertawa kecil dalam hati.

Bahkan pertanyaan tentang apakah aku sudah makan ternyata tetap berpusat pada jadwal perempuan lain.

Perjalanan berlangsung hampir empat puluh menit.

Arga menerima tiga panggilan kerja.

Aku duduk di sebelahnya sambil melihat lampu Surabaya melewati kaca.

Tak sekali pun dia menyentuh tanganku.

Tak sekali pun dia memperhatikan bahwa dua kali aku menahan mual.

Begitu sampai di hotel, perubahan pada dirinya langsung terlihat.

Arga yang biasanya berjalan cepat mendadak berhenti di lobi.

Matanya tertuju pada seorang perempuan bergaun krem yang berdiri bersama koper kecil.

Keisha.

Cantik.

Elegan.

Dan wajah Arga…

Itulah pertama kalinya aku melihat suamiku tersenyum seperti itu.

Bukan senyum formal untuk foto perusahaan.

Bukan senyum singkat saat menerima penghargaan.

Tapi senyum yang hangat.

Ringan.

Hampir kekanak-kanakan.

Dia bahkan meninggalkanku dua langkah di belakang untuk menghampirinya.

“Kei.”

Keisha langsung memeluknya.

Arga tidak mundur.

Tangannya malah menepuk punggung perempuan itu pelan.

“Enam tahun nggak pulang, kamu masih saja terlambat.”

Keisha tertawa.

“Kamu masih saja cerewet.”

Semua orang di sekitar mereka ikut tertawa.

Aku berdiri membawa tas kecilku sendiri.

Tak ada seorang pun yang menyadari aku tertinggal.

Sampai ibu mertua, Ratih Pradana, melambaikan tangan.

“Nadira, sini.”

Barulah Arga menoleh.

Seolah baru ingat istrinya datang bersamanya.

“Nadira, ini Keisha.”

Keisha mendekat dan menggenggam tanganku.

“Jadi ini istri Arga.”

Kata “ini” terdengar ringan.

Tapi tatapan orang-orang di sekitar meja membuatku merasa seperti barang yang diperkenalkan karena kebetulan berada di sana.

Saat makan malam, aku duduk di sebelah Arga.

Keisha duduk di seberangnya.

Dalam empat puluh menit, aku melihat lebih banyak perhatian dari suamiku daripada yang kuterima selama berbulan-bulan.

Keisha bilang alergi udang.

Arga langsung memindahkan piring seafood.

Keisha batuk.

Arga menuangkan air hangat.

Keisha mengeluh AC terlalu dingin.

Arga memanggil pelayan.

Padahal dua minggu lalu aku demam sampai 39 derajat dan Arga hanya mengirim pesan:

“Minum obat. Aku pulang larut.”

Aku tidak cemburu lagi.

Anehnya, ketika rasa sakit sudah terlalu lama dipelihara, ada titik di mana hati tidak lagi panas.

Ia hanya menjadi sangat dingin.

Sekitar pukul sembilan, aku pergi ke toilet.

Di dekat wastafel, dua sepupu Arga masuk tanpa mengetahui aku berada di bilik.

Salah satunya tertawa kecil.

“Kelihatan banget Tante Ratih masih lebih cocok sama Keisha.”

Yang lain menjawab:

“Ya jelas. Nadira itu kan masuk setelah Keisha pergi.”

“Katanya dulu Om Surya sudah mau jodohin Arga sama Keisha.”

“Kalau Keisha sekarang menetap di Indonesia, seru juga.”

“Kamu pikir Nadira bakal tahan?”

Mereka tertawa.

Lalu satu kalimat terdengar.

“Lagipula keluarga itu dari awal cuma butuh istri yang tenang buat dampingi Arga. Sekarang orang yang benar-benar dia tunggu sudah pulang.”

Aku berdiri di dalam bilik sambil memegang perut.

Anakku bergerak kecil.

Atau mungkin hanya otot.

Aku tidak tahu.

Tapi saat itu, air mataku jatuh untuk pertama kalinya.

Bukan karena Keisha.

Bukan karena hinaan mereka.

Aku menangis karena tiba-tiba membayangkan anakku suatu hari berdiri di rumah yang sama dan belajar bahwa ibunya adalah seseorang yang bisa dipinggirkan kapan saja.

Tidak.

Aku tidak ingin itu.

Aku keluar setelah mereka pergi.

Menatap wajah sendiri di cermin.

Lalu berbisik pelan:

“Cukup.”

Keesokan paginya, aku tidak pergi ke rumah sakit.

Aku pergi ke kantor hukum milik sahabat kuliahku di Jalan Darmo.

Namanya Salma Wijaya.

Begitu aku duduk, dia menatapku lama.

“Kamu akhirnya datang juga.”

Aku mengeluarkan sebuah map.

“Tolong siapkan gugatan cerai.”

Salma tidak terlihat terkejut.

Dia tahu hampir semua yang terjadi selama tiga tahun terakhir.

Namun ketika aku mengeluarkan hasil USG, wajahnya langsung berubah.

“Kamu hamil?”

“Hampir lima bulan.”

“Arga tahu?”

Aku menggeleng.

Salma berdiri.

“Nadira…”

“Aku belum memutuskan soal bayi ini.”

“Tapi soal Arga, aku sudah selesai.”

Kami berbicara hampir dua jam.

Soal aset.

Soal rumah.

Soal rekening bersama.

Soal bisnis kecil milikku, sebuah studio desain interior yang dua tahun terakhir diam-diam tumbuh tanpa bantuan keluarga Pradana.

Aku tidak menginginkan saham keluarga mereka.

Tidak menginginkan rumah mereka.

Tidak menginginkan mobil yang diberikan atas nama Arga.

Aku hanya meminta hak yang memang tercatat sebagai milikku dan perlindungan hukum atas studio.

Siangnya aku pulang.

Di ruang tamu, Ratih sedang duduk bersama Keisha.

Di atas meja ada beberapa katalog interior.

Ketika melihatku, ibu mertuaku berkata:

“Bagus kamu pulang. Keisha akan menempati vila keluarga di Batu untuk sementara. Kamu kan desainer. Bantu atur interiornya.”

Aku menatap katalog itu.

Kemudian menatap Keisha.

Dia tersenyum canggung.

“Kalau merepotkan, nggak usah, Nadira.”

Sebelumnya aku mungkin akan berkata tidak apa-apa.

Kali ini aku hanya menjawab:

“Saya sedang tidak menerima proyek keluarga.”

Ratih langsung mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Aku tidak menjawab.

Aku naik ke kamar.

Mengeluarkan koper yang kubawa saat pertama kali pindah tiga tahun lalu.

Aku mulai memasukkan pakaianku sendiri.

Dokumen.

Laptop.

Buku.

Foto almarhum ayahku.

Semua barang yang benar-benar datang bersamaku sebelum menjadi Ny. Pradana.

Tas, jam tangan, perhiasan, dan gaun yang dibeli keluarga Arga kutinggalkan di lemari.

Saat koper hampir penuh, pintu kamar terbuka.

Ratih berdiri di sana.

Wajahnya berubah ketika melihat isi kamar.

“Kamu mau ke mana?”

Aku menutup koper perlahan.

“Pergi.”

“Pergi ke mana?”

Aku berdiri.

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan putranya, aku menatap mata ibu mertuaku tanpa rasa takut.

“Saya akan menceraikan Arga.”

Ratih membeku.

Namun sebelum dia sempat bicara, sebuah suara terdengar dari belakangnya.

“Kamu bilang apa?”

Arga berdiri di lorong.

Dan tangannya sedang memegang satu benda yang rupanya terjatuh dari map di atas meja.

Foto USG anak kami.

Wajahnya pucat.

Matanya menatap angka usia kehamilan yang tercetak jelas di sudut kertas.

Sembilan belas minggu.

Lalu dia menatapku.

“Nadira…”

Suaranya berubah.

“Kamu hamil?”

Aku belum menjawab ketika pandangannya jatuh pada amplop rumah sakit di samping koper.

Di sana tertulis besar:

Konsultasi Tindakan Kehamilan Risiko Tinggi.

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun mengenalnya, aku melihat ketakutan murni di wajah Arga Pradana.

Dan kalimat berikutnya keluar hampir seperti teriakan.

“Kamu mau melakukan apa pada anak kita?”

#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #KisahPerempuan #KonflikPernikahan #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Ketika Arga Mengetahui Kehamilanku, Rahasia yang Lebih Menyakitkan Justru Terbuka dari Mulut Ibunya Sendiri Malam Itu

Aku mengambil foto USG itu dari tangan Arga.

“Bukan anak kita.”

Wajahnya menegang.

“Maksudmu?”

“Ini anak yang selama sembilan belas minggu hanya aku yang tahu keberadaannya.”

“Nadira.”

Nada suaranya meninggi.

“Aku ayahnya.”

“Secara biologis, iya.”

Aku memasukkan foto itu ke dalam map.

“Tapi seorang ayah seharusnya tahu istrinya muntah setiap pagi.”

Arga kehilangan kata-kata.

Ratih justru maju.

“Kamu hamil selama ini dan tidak bilang pada keluarga?”

Aku menoleh.

“Keluarga?”

Aku hampir tertawa.

“Bu Ratih bahkan lebih dulu tahu makanan apa yang disukai Keisha setelah enam tahun tinggal di luar negeri daripada menyadari menantu Ibu berhenti minum kopi empat bulan lalu.”

Ratih memucat.

Arga mendekat.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Aku menatapnya lama.

Pertanyaan itu begitu sederhana.

Jawabannya terlalu panjang.

“Aku mencoba.”

“Kapan?”

“Malam ulang tahun pernikahan kita.”

Arga terdiam.

“Aku bawa hasil tes ke restoran. Aku sudah menyiapkan kotak kecil.”

Ekspresinya berubah.

Mungkin dia baru ingat malam itu.

“Kamu membatalkan karena katanya ada masalah gudang.”

“Nadira, waktu itu—”

“Padahal kamu pergi ke rumah ibumu untuk makan malam sambil video call dengan Keisha.”

Ratih memotong.

“Itu ulang tahun saya!”

“Dan itu ulang tahun pernikahan kami.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku melanjutkan.

“Besoknya aku mau bicara lagi. Kamu berangkat ke Balikpapan.”

“Seminggu kemudian kamu pulang dua malam, tapi malam kedua kamu makan dengan investor.”

“Setelah itu aku sadar sesuatu.”

Aku menatap Arga.

“Aku selalu harus mencari celah di jadwalmu untuk menjadi istrimu.”

“Tapi orang lain tidak pernah perlu melakukan itu.”

Rahang Arga mengeras.

“Ini tentang Keisha?”

“Tidak.”

Jawabanku membuatnya terkejut.

“Keisha hanya membuatku sadar bahwa masalahnya bukan kamu tidak mampu perhatian.”

“Kamu sangat mampu.”

“Hanya bukan kepadaku.”

Pintu kamar masih terbuka.

Dan dari lorong, suara langkah terdengar.

Keisha rupanya berdiri beberapa meter dari kami.

Wajahnya terlihat tidak nyaman.

“Aku sebaiknya pergi.”

Ratih langsung berkata:

“Keisha, jangan ikut campur.”

Namun Keisha tidak bergerak.

Dia malah menatap Arga.

“Aku rasa aku memang harus bicara.”

Arga mengernyit.

“Bicara apa?”

Keisha menarik napas.

“Tante Ratih selama tiga bulan terakhir terus menghubungiku.”

Aku menatap ibu mertuaku.

Keisha melanjutkan.

“Beliau bilang pernikahan kalian sedang tidak baik.”

“Beliau bilang kamu menyesal menikah terlalu cepat.”

Arga berbalik.

“Ma?”

Ratih berdiri kaku.

Keisha membuka ponselnya.

“Aku bahkan sempat menolak datang ke makan malam kemarin karena aku tahu Nadira pasti ada.”

“Tapi Tante bilang…”

Keisha berhenti.

Ratih langsung berkata tajam:

“Keisha!”

Terlambat.

Keisha menunjukkan layar kepada Arga.

Pesan WhatsApp.

Aku tidak bisa membaca seluruhnya dari jauh.

Tetapi satu baris terlihat jelas.

Kalau kamu pulang, mungkin Arga akhirnya berani memperbaiki kesalahan yang dia buat tiga tahun lalu.

Wajah Arga langsung berubah.

“Kesalahan?”

Dia menatap ibunya.

“Ma menganggap pernikahanku kesalahan?”

Ratih tidak menjawab.

Aku justru tertawa kecil.

Ternyata selama ini aku tidak sedang gagal masuk ke dalam keluarga itu.

Aku memang tidak pernah dipersiapkan untuk diterima.

Ratih akhirnya bicara.

“Saya hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Dan menurut Ma, yang terbaik itu Keisha?”

Arga bertanya.

Ratih mendesah.

“Kalian sudah saling mengenal sejak kecil. Keluarga setara. Pendidikan setara. Lingkungan sama.”

Lalu matanya bergeser kepadaku.

Tidak ada kata kasar.

Tapi aku mengerti semua yang tidak ia ucapkan.

Aku berasal dari keluarga biasa.

Ayahku guru SMK.

Ibuku meninggal ketika aku kuliah.

Aku membangun studio dari kamar kontrakan.

Aku bukan perempuan yang bisa menambah jaringan bisnis keluarga Pradana.

Arga memukul meja dengan telapak tangannya.

“Cukup.”

Aku hampir tidak pernah melihatnya membentak ibunya.

Ratih sendiri terlihat terkejut.

Namun anehnya, melihat Arga akhirnya membelaku tidak membuatku lega.

Tiga tahun terlambat tetaplah terlambat.

Arga berbalik kepadaku.

“Aku akan perbaiki semuanya.”

Aku menggeleng.

“Aku tidak meminta itu.”

“Nadira, beri aku waktu.”

“Kamu sudah punya tiga tahun.”

“Nadira—”

“Aku tidak pergi supaya kamu berubah.”

Aku mengangkat pegangan koper.

“Aku pergi karena aku sudah berubah.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Aku melewatinya.

Di tangga, Arga mengejarku.

“Kalau kamu ingin cerai, kita bicara.”

“Silakan bicara dengan pengacaraku.”

“Dan anak itu?”

Langkahku berhenti.

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar seperti direktur yang memberi keputusan.

Ia terdengar seperti laki-laki yang ketakutan.

“Jangan ambil keputusan sendirian.”

Aku berbalik.

“Mengapa?”

“Karena itu anakku.”

“Lalu aku apa?”

Arga membisu.

Aku menatapnya.

“Tubuhku berubah sendirian.”

“Aku muntah sendirian.”

“Aku periksa kandungan sendirian.”

“Aku mendengar detak jantungnya pertama kali sendirian.”

“Aku bahkan menangis di parkiran rumah sakit sendirian.”

Suaraku mulai bergetar.

“Sekarang setelah melihat satu lembar USG, kamu tiba-tiba ingin memakai kata ‘kita’?”

Mata Arga memerah.

Aku hampir goyah.

Hampir.

Lalu ponsel Keisha berbunyi dari ruang tamu.

Arga menoleh refleks.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi bagiku, itu ironis sekali.

Aku tersenyum.

“Nah.”

“Bahkan sekarang pun kamu masih menoleh.”

Wajahnya langsung pucat.

Aku keluar.

Malam itu aku tinggal di apartemen kecil di atas studio milikku.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku tidur di tempat yang tidak memakai nama keluarga Pradana.

Besok paginya, aku kembali menemui dr. Laras.

Aku duduk di ruangan yang sama.

Dia bertanya:

“Keputusan Ibu?”

Tanganku berada di atas perut.

Aku menutup mata.

Kemarin aku ingin mengakhiri kehamilan karena merasa anak ini akan mengikatku selamanya pada keluarga yang membuatku mati perlahan.

Tapi setelah keluar dari rumah itu…

Aku menyadari sesuatu.

Anak ini bukan rantai.

Pernikahanku yang merupakan rantai.

Aku membuka mata.

“Saya tidak jadi melanjutkan tindakan.”

Dr. Laras tersenyum kecil.

“Baik.”

“Tapi saya tetap akan bercerai.”

“Itu keputusan yang berbeda.”

“Iya.”

Aku menangis saat mengatakan kalimat berikutnya.

“Saya ingin mempertahankan bayi saya.”

Sore hari, Salma menelepon.

“Nadira, ada masalah.”

“Apa?”

“Pihak Arga menolak menandatangani kesepakatan awal.”

Aku memejamkan mata.

Sudah kuduga.

Namun kalimat Salma berikutnya membuat darahku dingin.

“Bukan cuma itu.”

“Tim legal perusahaan mereka baru mengirim surat bahwa studio kamu dianggap berkembang menggunakan ‘fasilitas ekonomi selama perkawinan’.”

Aku berdiri.

“Apa maksudnya?”

“Mereka membuka kemungkinan menuntut sebagian nilai bisnis kamu sebagai harta bersama.”

Aku langsung tahu siapa yang berada di belakangnya.

Bukan Arga.

Ratih.

Dan dugaan itu terbukti satu jam kemudian ketika sebuah pesan masuk dari nomor ibu mertuaku.

Pulanglah. Kita bicara baik-baik. Tidak perlu membuat semuanya menjadi buruk hanya karena emosi sesaat.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu Salma mengirim satu dokumen lain.

“Dira…”

“Aku menemukan sesuatu dari berkas perusahaan.”

“Apa?”

Suaranya berubah serius.

“Studio kamu memang tidak pernah menerima dana dari Arga.”

“Tapi dua tahun lalu ada transfer Rp480 juta yang masuk ke rekening operasionalmu melalui perusahaan vendor.”

Aku membeku.

“Itu pembayaran proyek.”

“Di invoice tertulis begitu.”

Salma menarik napas.

“Tapi vendor itu ternyata anak perusahaan tidak langsung milik keluarga Pradana.”

Aku merasa dingin dari ujung kepala sampai kaki.

Kalau dana itu sengaja dibuat terlihat seperti investasi terselubung…

Mereka bisa menggunakannya untuk mengacaukan kepemilikan studionya.

Dan yang paling menakutkan—

Aku sama sekali tidak pernah tahu hubungan vendor itu dengan keluarga Arga.

Salma berkata pelan:

“Ada kemungkinan seseorang sudah menyiapkan jalan untuk mengikat bisnis kamu jauh sebelum kamu meminta cerai.”

Bagian 3 — Mereka Mengira Bisnisku Bisa Dijadikan Tali untuk Menarikku Pulang, tetapi Satu Audit Membalik Seluruh Permainan Keluarga Pradana

Selama tiga hari, aku tidak menemui Arga.

Aku juga tidak membalas Ratih.

Aku hanya bekerja bersama Salma dan auditor independen bernama Pak Bagus.

Kami membuka semua dokumen studio sejak hari pertama berdiri.

Kontrak.

Invoice.

Mutasi rekening.

Email.

Percakapan vendor.

Ternyata pembayaran Rp480 juta itu memang berasal dari perusahaan yang terafiliasi jauh dengan Pradana Group.

Tetapi ada satu fakta penting.

Studio milikku memenangkan proyek melalui tender terbuka.

Proposal harga dikirim sebelum vendor tersebut mengetahui identitasku sebagai istri Arga.

Semua pekerjaan juga memiliki bukti serah terima.

Artinya, pembayaran itu bukan suntikan modal.

Itu pembayaran jasa yang sah.

Lebih menarik lagi, audit menemukan sesuatu yang tidak kami cari.

Ada email internal vendor yang dikirim oleh kepala procurement kepada Ratih hampir dua tahun lalu.

Isinya:

Sesuai arahan Ibu, kami sudah memasukkan studio Bu Nadira sebagai peserta tender. Namun demi compliance, pemilihan tetap berdasarkan skor teknis dan harga.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Ratih memang pernah mencoba “membantu”.

Namun tim procurement justru membuat prosesnya resmi.

Dan dari lima peserta, studionya menang karena nilai tertinggi.

Ironis sekali.

Dokumen yang mungkin ingin dipakai Ratih untuk mengklaim bahwa aku hidup dari keluarganya justru membuktikan bahwa bisnis itu mendapat pekerjaan karena kemampuanku sendiri.

Pertemuan mediasi dilakukan seminggu kemudian.

Aku datang bersama Salma.

Arga hadir sendirian.

Ratih tidak ada.

Wajah Arga terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali kulihat.

Begitu duduk, hal pertama yang dia katakan adalah:

“Aku tidak pernah memerintahkan tim legal menyentuh studiommu.”

“Aku tahu.”

Dia terkejut.

“Dari mana?”

“Karena kalau itu keputusanmu, dokumennya pasti lebih rapi.”

Sudut bibir Salma hampir bergerak.

Arga menunduk.

“Aku menghentikannya.”

“Aku juga sudah mencopot kuasa legal yang mengirim surat itu.”

Aku hanya mengangguk.

Kemudian Salma meletakkan hasil audit di meja.

“Dan sebaiknya keluarga Pak Arga tidak mencoba jalur yang sama lagi.”

Arga membaca beberapa halaman.

Wajahnya makin gelap ketika melihat email ibunya.

“Aku tidak tahu soal ini.”

“Aku percaya.”

Dia menatapku.

“Mengapa kamu percaya?”

“Karena masalah kita bukan kamu jahat, Ga.”

Aku tersenyum kecil.

“Masalah kita adalah kamu terlalu lama tidak melihat apa pun yang terjadi di sekitarmu.”

Kalimat itu mungkin jauh lebih menyakitkan daripada tuduhan.

Arga menundukkan kepala.

Beberapa detik kemudian dia mendorong dokumen kesepakatan cerai ke arah Salma.

“Aku akan tanda tangan.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan.

“Aku tidak akan menuntut studio.”

“Rumah yang atas nama kita berdua, bagianku aku lepaskan.”

Aku langsung menggeleng.

“Aku tidak mau.”

“Itu bukan hadiah.”

“Aku tetap tidak mau.”

Akhirnya kami sepakat rumah dijual dan hasilnya dibagi sesuai porsi yang sudah dibayar masing-masing.

Tidak ada drama rebutan miliaran.

Tidak ada adegan berlutut.

Hanya dua orang dewasa yang akhirnya menerima bahwa satu pernikahan telah selesai.

Sebelum menandatangani, Arga bertanya:

“Bayinya?”

Aku menyentuh perut.

“Sehat.”

Matanya langsung merah.

“Kamu mempertahankannya?”

“Iya.”

Dia mengembuskan napas panjang seperti baru diizinkan bernapas setelah berhari-hari.

“Aku boleh ikut bertanggung jawab?”

Aku menatapnya.

“Sebagai ayah, iya.”

“Sebagai suami?”

“Tidak.”

Arga mengangguk.

Kali ini dia tidak memaksa.

Tiga minggu setelah itu, Ratih datang ke studio tanpa janji.

Resepsionis hampir menolaknya.

Aku mengizinkan dia masuk.

Dia duduk di depanku dan terlihat jauh lebih tua.

“Saya salah.”

Aku tidak menjawab.

Ratih meletakkan sebuah map.

Isinya surat pencabutan seluruh klaim terhadap bisnis.

Dan satu dokumen lain.

Pernyataan tertulis bahwa ia tidak akan mencampuri proses perceraian maupun hak asuh.

“Saya pikir saya sedang melindungi keluarga.”

Aku menatapnya.

“Dengan menghancurkan keluarga anak Ibu?”

Ratih tidak mampu menjawab.

“Keisha juga sudah kembali ke Jakarta,” katanya akhirnya.

Aku hampir tersenyum.

“Apa hubungannya dengan saya?”

Ratih terdiam.

Benar.

Keisha memang tidak pernah menjadi masalah utamanya.

Dua hari setelah malam di hotel, Keisha bahkan mengirim pesan meminta maaf karena namanya terseret dalam rumah tangga kami.

Dia tidak pernah meminta Arga meninggalkanku.

Tidak pernah mencoba merebut tempatku.

Semua “persaingan” itu sebagian besar diciptakan oleh orang-orang yang terus membandingkan dua perempuan seolah hidup kami hanya bisa bernilai kalau salah satu menang.

Aku tidak ingin bermain lagi.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Aku keluar dari pengadilan agama dengan Salma di sebelahku.

Perutku sudah sangat besar.

Arga berjalan beberapa meter di belakang.

Sebelum berpisah, dia berkata:

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu.”

“Aku benar-benar mencintaimu.”

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Dia terlihat terluka.

Aku melanjutkan:

“Tapi cinta yang tidak membuat seseorang merasa terlihat lama-lama hanya menjadi kata.”

Arga tidak membantah.

Dua bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Namanya Alya Kirana.

Arga datang ke rumah sakit setelah aku memberi izin.

Dia berdiri di dekat tempat tidur bayi hampir sepuluh menit tanpa bicara.

Saat Alya menggenggam jarinya, laki-laki yang selama bertahun-tahun terlihat seperti tidak punya waktu untuk apa pun itu menangis.

Aku tidak menghentikannya.

Aku juga tidak menganggap tangisan itu sebagai alasan untuk kembali.

Ada luka yang bisa dimaafkan tanpa harus dimasuki lagi.

Setahun berlalu.

Studio milikku pindah ke kantor yang lebih besar.

Kami membuka cabang kecil di Malang.

Proyek yang dulu hanya kukerjakan bersama tiga orang berkembang menjadi tim dua puluh enam orang.

Aku membeli rumah sendiri.

Bukan vila.

Bukan rumah besar dengan gerbang tinggi.

Hanya rumah dua lantai dengan halaman kecil tempat Alya bisa berlari ketika sudah besar.

Hubunganku dengan Arga juga berubah.

Dia datang sesuai jadwal untuk menemui Alya.

Tidak pernah terlambat tanpa kabar.

Tidak pernah memakai anak sebagai alasan mendekatiku kembali.

Entah karena dia akhirnya dewasa atau karena kehilangan mengajarinya sesuatu, aku tidak tahu.

Dan aku tidak perlu tahu.

Suatu sore ketika Alya hampir berusia satu tahun, Arga datang membawa kue ulang tahun kecil.

Dia melihat rumahku.

Melihat foto-foto di dinding.

Melihat Alya tertawa dalam pelukanku.

Lalu dia berkata pelan:

“Dulu aku pikir memberi rumah besar sudah cukup membuat seseorang betah.”

Aku menjawab sambil merapikan rambut putriku:

“Orang tidak tinggal karena rumahnya besar.”

“Mereka tinggal ketika merasa punya tempat.”

Arga menunduk.

Dia mengerti.

Aku dulu meninggalkan rumah keluarga Pradana dengan satu koper, satu kehamilan yang hampir kulepaskan, dan keyakinan bahwa hidupku sudah hancur.

Ternyata aku salah.

Yang hancur hanya kehidupan yang selama ini kupaksakan agar terlihat utuh.

Aku tidak kehilangan keluarga.

Aku sedang membangunnya ulang.

Kali ini tanpa meminta izin siapa pun untuk menjadi bagian penting di dalamnya.

Dan ketika malam tiba, aku menidurkan Alya di kamar kecil bercat putih, mendengar napasnya perlahan teratur, lalu memandang wajahnya dalam cahaya lampu tidur.

Aku akhirnya mengerti mengapa hari itu aku membatalkan prosedur di rumah sakit.

Aku tidak menyelamatkan sebuah pernikahan.

Aku menyelamatkan keberanianku untuk meninggalkan pernikahan itu.

Dan dari keberanian tersebut, lahirlah kehidupan yang untuk pertama kalinya benar-benar menjadi milikku.