“Besok pagi, rumah ini akan disita karena…”
Pria berjas itu belum selesai berbicara ketika Ardi tiba-tiba berlutut di depanku.
Suara lututnya menghantam lantai terdengar begitu jelas di tengah aula yang mendadak sunyi.
Aku membeku.
Bukan karena iba.
Melainkan karena selama hampir tujuh tahun menikah dengannya, aku belum pernah melihat Ardi menundukkan kepala kepada siapa pun.
Bahkan kepada ibunya sendiri.
Namun malam itu, laki-laki yang beberapa menit sebelumnya masih menyuruhku menandatangani perceraian justru mencengkeram ujung gaunku.
“Maya…”
Suaranya bergetar.
“Tolong aku.”
Aku menatap tangannya.
Lalu perlahan melepaskannya.
“Bangun.”
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Bangun dulu.”
Dia tidak bergerak.
Ibunya, Bu Ratna, sudah pucat seperti kehilangan seluruh tenaga.
“Pak… sebenarnya apa yang terjadi?”
Pria berjas itu membuka berkas.
“Saya datang dari pihak kreditur. Rumah ini menjadi jaminan pinjaman atas nama perusahaan yang dikelola Pak Ardi. Pembayaran sudah menunggak cukup lama.”

Aku menoleh kepada Ardi.
“Perusahaan?”
Dia menunduk.
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Tidak ada jawaban.
Aku sudah menduga sebagian.
Tetapi aku tidak menyangka jumlahnya sebesar itu.
Pria tersebut melanjutkan,
“Bukan hanya rumah. Ada beberapa aset lain yang juga dijadikan jaminan.”
Bu Ratna langsung menangis.
“Tidak mungkin. Rumah ini rumah keluarga kami.”
“Secara hukum, rumah ini memiliki status berbeda dari yang Ibu kira.”
Ia menunjuk dokumen di tanganku.
“Sebagian kepemilikan berasal dari dana pribadi Ibu Maya sebelum pernikahan. Sedangkan bagian lainnya tercatat dalam perjanjian kepemilikan bersama.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Ternyata semua yang selama ini kusembunyikan memang akhirnya terbuka.
Dua tahun sebelum menikah dengan Ardi, aku sudah membeli sebagian rumah itu dengan tabunganku sendiri.
Setelah menikah, kami merenovasinya bersama.
Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa yang lebih banyak membayar.
Karena saat itu aku mengira kami sedang membangun rumah untuk keluarga.
Bukan sedang membangun sesuatu yang suatu hari akan dipakai untuk mengusirku.
Ardi menatapku.
“Maya, aku memang melakukan kesalahan.”
“Kesalahan?”
Aku tersenyum pahit.
“Kamu membawa perempuan hamil ke ulang tahun anak kita.”
“Aku menyuruhmu menandatangani perceraian.”
“Ibumu mengatakan aku tidak berguna karena melahirkan anak perempuan.”
“Dan sekarang aku tahu rumah kita dijadikan jaminan utang.”
Aku menatap matanya.
“Menurutmu semua itu cuma kesalahan?”
Ardi menutup wajah.
“Aku takut.”
Itulah pertama kalinya dia berkata jujur.
“Aku gagal mengembangkan usaha. Utangnya semakin besar. Aku berpikir kalau Siska melahirkan anak laki-laki, keluargaku akan membantuku.”
Aku terdiam.
“Jadi kamu menikahi harapan.”
Ardi menggeleng.
“Aku tidak menikahinya.”
“Tapi kamu menghancurkan pernikahan kita demi dia.”
Dia tidak mampu membantah.
Di sisi lain, Siska berdiri sambil menangis.
Aku melihat perempuan itu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa marah kepadanya.
Aku hanya melihat seseorang yang ternyata juga telah terjebak dalam kebohongan.
“Siska.”
Dia mengangkat kepala.
“Kamu tahu tentang utang Ardi?”
Dia menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Kamu tahu dia masih menikah denganku?”
“Aku tahu.”
Jawabannya pelan.
“Tapi dia bilang kalian sudah hampir bercerai.”
Aku menatap Ardi.
Dia memejamkan mata.
Aku sudah tidak perlu bertanya lagi.
Siska kemudian menangis.
“Aku juga dibohongi.”
“Dia bilang setelah anakku lahir, semuanya akan selesai.”
Aku menarik napas panjang.
“Anak itu tidak bersalah.”
Siska mengusap perutnya.
“Aku tahu.”
Untuk beberapa detik, kami hanya saling memandang.
Dua perempuan.
Satu laki-laki.
Dan seorang anak yang bahkan belum lahir.
Tiba-tiba Naya mulai menangis.
Aku langsung menggendongnya.
Tangis kecil itu membuat dadaku sesak.
Di tengah semua kekacauan orang dewasa, hanya dia yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku membelai rambutnya.
“Maafkan Ibu.”
Naya memeluk leherku.
Aku memandang Ardi.
“Aku tidak akan mengambil rumah ini untuk membalas dendam.”
Dia mengangkat wajah.
“Tapi aku juga tidak akan menyerahkan rumah itu kepadamu.”
“Aku akan mempertahankan hakku.”
“Dan yang paling penting, aku akan memastikan Naya tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya lebih rendah hanya karena dia perempuan.”
Bu Ratna menangis semakin keras.
“Maya…”
Aku menoleh.
Dia berdiri dengan tubuh gemetar.
“Jangan usir kami.”
Aku diam.
Dulu, kalimat itu pernah keluar dari mulutku.
Bedanya, saat itu akulah yang diusir.
Aku akhirnya berkata,
“Aku tidak akan mengusir siapa pun malam ini.”
“Tapi mulai sekarang, jangan ada lagi yang menentukan harga seorang anak berdasarkan jenis kelaminnya.”
Bu Ratna menundukkan kepala.
Pria berjas itu kemudian menyerahkan satu dokumen kepada Ardi.
“Pak Ardi, masalah penyitaan tetap berjalan sesuai prosedur. Namun ada kemungkinan restrukturisasi jika seluruh pihak menyelesaikan kewajiban sesuai perjanjian.”
Ardi membaca dokumen itu.
Kemudian menatapku.
“Aku akan menjual mobil dan aset pribadiku.”
Aku tidak menjawab.
“Aku akan bekerja lagi dari awal.”
“Dan aku akan menyelesaikan semua utangku.”
Aku menatapnya lama.
“Lakukan bukan untuk mendapatkanku kembali.”
“Lakukan karena itu tanggung jawabmu.”
Ardi mengangguk.
Aku kemudian mengambil map perceraian yang tadi diletakkan di meja.
Kertas itu masih utuh.
Aku menandatanganinya.
Bukan dengan tangan gemetar.
Bukan sambil menangis.
Tetapi dengan hati yang akhirnya tenang.
Ardi melihat tanda tanganku.
Air matanya jatuh.
“Maya…”
Aku menutup map.
“Besok kita bicara dengan pengacara.”
“Malam ini aku hanya ingin pulang bersama anakku.”
Aku berjalan keluar aula sambil menggendong Naya.
Di belakangku, suara lilin ulang tahun yang hampir habis masih terdengar berdesis.
Aku berhenti di pintu.
Menoleh sebentar.
Kue ulang tahun itu masih ada.
Lilin pertama sudah padam.
Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa hidupku justru sedang mulai menyala kembali.
Aku belum tahu bahwa malam itu bukan akhir dari semua rahasia.
Karena tiga hari kemudian, sebuah amplop lain datang ke rumah.
Dan isi amplop itu membuatku menyadari bahwa masalah Ardi ternyata jauh lebih dalam daripada utang dan perselingkuhan.
Ada seseorang yang selama ini diam-diam menghancurkan keluarga kami.
Dan orang itu…
bukan Siska.
